Dengan didengar dan disaksikan dunia, kaum Muslim dibantai dan dijadikan obyek kejahatan yang paling keji, namun tidak seorang pun yang bergerak untuk menolongnya. Mereka itulah umat Budha
ketika
tangan mereka belum kering dengan darah kaum Muslim yang mereka bantai
di Burma, kini tangan mereka dikotori kembali dengan darah kaum Muslim,
namun kali ini yang mereka bantai bukan lagi kaum Muslim Burma,
melainkan kaum Muslim India di wilayah Assam, dimana orang-orang
bersenjata dari suku-suku Budha menyerang sebuah perkampungan Muslim,
sehingga tidak sedikit dari kaum Muslim yang meninggal dan terluka.
Sebagaimana awal dari pembersihan etnis di Burma, tampaknya umat Budhis menggunakan strategi yang sama untuk membenarkan sebagian besar serangannya. Mereka mengklaim bahwa serangan itu dilakukan karena ada kenyakinan bahwa kaum Muslim telah melakukan kejahatan dengan membunuh empat orang pemuda Budha. Hal ini sama dengan isu yang beredar pada awal peristiwa Burma bahwa peristiwa itu terjadi menyusul keyakinan warga Budha bahwa serangan Muslim telah menyerang dan memperkosa seorang gadis Budha.
Milisi Budha dan Hindu terdapat di wilayah Assam, India, yaitu perbatasan yang dekat dengan Burma. Wilayah itu terkenal sebagai surga bagi milisi kafir untuk melakukan pembantaian terhadap kaum Muslim di Assam, sehingga puluhan kaum Muslim meninggal, dan melukai 400 Muslim lainnya, menurut data awal. Sementara lebih dari 50 ribu kaum Muslim mengungsi ke sejumlah daerah pedalaman India dan ke kamp-kamp bantuan untuk menghindari konfrontasi setelah 500 desa dibakar.
Tidak hanya itu saja, bahkan otoritas resmi ikut berpartisipasi dalam pembersihan etnis, di mana personil kepolisian melakukan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menembaki para peserta aksi protes yang digelar oleh kaum Muslim di sana. Sementara organisasi Islam terbesar di India, All India Muslim Majlis-e Mushawarat (AIMMM) menegaskan bahwa kaum Muslim di wilayah Assam tengah menghadapi kampanye pembersihan etnis oleh militan Bodo. Dikatakan bahwa pihaknya telah mengirim misi pencari fakta tentang sejumlah aksi kekerasan sektarian yang terjadi selama beberapa hari terakhir, yang menewaskan puluhan orang, dan puluhan ribu lagi mengungsi.
Sedangkan, organisasi Islam yang berada di bawah payung organisasi-organisasi Islam di India lainnya mengatakan bahwa “Misi pencari fakta yang pergi ke wilayah Assam, terdiri dari para perwakilan organisasi-organisasi Islam, dalam sebuah kunjungan yang berlangsung empat hari, dimana mereka juga terlibat dalam upaya bantuan di wilayah itu.” Dikatakan pula bahwa “Delegasi itu akan mengunjungi kamp-kamp pengungsi di daerah Kokrajhar yang berdekatan dengan wilayah Assam, yaitu wilayah yang menjadi tempat terjadinya aksi-aksi kekerasan sektarian selama beberapa hari terakhir.”
Menurut Human Rights Watch bahwa kampanye pembersihan etnis yang dilakukan oleh kelompok militan Bodo terhadap kaum Muslim di wilayah Assam, India telah menyebabkan lebih dari 45 orang Muslim meninggal, dan sekitar 300 ribu orang Muslim lainnya terusir. Mengacu pada kebijakan pemerintah India bahwa “Pemerintahan India menerapkan kebijakan (tembak di tempat) untuk setiap orang yang terlihat berjalan saat diberlakukannya jam malam di daerah itu. Kebijakan inilah yang memberi lampu hijau pada pasukan keamanan untuk menggunakan senjatanya pada saat yang tidak perlu dan ilegal.”
Di sisi lain, Human Rights Watch yang berkantor pusat di New York menyerukan kepada pemerintah India untuk melakukan investigasi atas sejumlah aksi kekerasan dan menuntut mereka yang bertanggung jawab, dengan mencari penyebab di balik bentrokan etnis tersebut. Human Rights Watch menegaskan bahwa pasukan keamanan harus konsisten dengan standar internasional, yang melarang penggunaan kekuatan mematikan, kecuali ketika benar-benar diperlukan untuk melindungi diri.”
Namun, yang lebih buruk dari semua ini adalah diam dan bisunya dunia terhadap pembantaian yang dilakukan terhadap kaum Muslim di daerah ini. Akibatnya, ratusan atau bahkan ribuan kaum Muslim meninggal, dimana tidak ada seorang pun yang tergerak dan meresponnya. Sebaliknya dunia geger dengan penghancuran beberapa patung di Tunisia atau Timbuktu di Mali. Mengapa? Sebab, mereka memiliki sejumlah aturan jika yang menjadi korbannya adalah kaum Muslim.
Perlu diketahui bahwa wilayah Assam, India, terletak di timur laut negara itu, berbatasan dengan negara Bhutan di sebelah barat laut, dan dua perbatasan internasional dengan Bangladesh di bagian barat dan barat daya. Pada tanggal 27 Februari 2006, pemerintah Assam mengajukan penggantian nama menjadi Asom dan setelah disetujui kini dipakai sebagai nama resmi. Sementara dari bagian timur tidak dipisahkan dari Burma, kecuali oleh duan wilayah yaitu Nagaland dan Manipur. Jumlah kaum Muslim di Assam sekitar 31% dari total penduduk wilayah itu. Assam adalah wilayah India nomor dua dalam hal jumlah kaum Muslim setelah Jammu dan Kashmir. Jumlah total kaum Muslim di India sekitar delapan setengah juta jiwa (islamtoday.net, 6/8/2012).
Sebagaimana awal dari pembersihan etnis di Burma, tampaknya umat Budhis menggunakan strategi yang sama untuk membenarkan sebagian besar serangannya. Mereka mengklaim bahwa serangan itu dilakukan karena ada kenyakinan bahwa kaum Muslim telah melakukan kejahatan dengan membunuh empat orang pemuda Budha. Hal ini sama dengan isu yang beredar pada awal peristiwa Burma bahwa peristiwa itu terjadi menyusul keyakinan warga Budha bahwa serangan Muslim telah menyerang dan memperkosa seorang gadis Budha.
Milisi Budha dan Hindu terdapat di wilayah Assam, India, yaitu perbatasan yang dekat dengan Burma. Wilayah itu terkenal sebagai surga bagi milisi kafir untuk melakukan pembantaian terhadap kaum Muslim di Assam, sehingga puluhan kaum Muslim meninggal, dan melukai 400 Muslim lainnya, menurut data awal. Sementara lebih dari 50 ribu kaum Muslim mengungsi ke sejumlah daerah pedalaman India dan ke kamp-kamp bantuan untuk menghindari konfrontasi setelah 500 desa dibakar.
Tidak hanya itu saja, bahkan otoritas resmi ikut berpartisipasi dalam pembersihan etnis, di mana personil kepolisian melakukan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menembaki para peserta aksi protes yang digelar oleh kaum Muslim di sana. Sementara organisasi Islam terbesar di India, All India Muslim Majlis-e Mushawarat (AIMMM) menegaskan bahwa kaum Muslim di wilayah Assam tengah menghadapi kampanye pembersihan etnis oleh militan Bodo. Dikatakan bahwa pihaknya telah mengirim misi pencari fakta tentang sejumlah aksi kekerasan sektarian yang terjadi selama beberapa hari terakhir, yang menewaskan puluhan orang, dan puluhan ribu lagi mengungsi.
Sedangkan, organisasi Islam yang berada di bawah payung organisasi-organisasi Islam di India lainnya mengatakan bahwa “Misi pencari fakta yang pergi ke wilayah Assam, terdiri dari para perwakilan organisasi-organisasi Islam, dalam sebuah kunjungan yang berlangsung empat hari, dimana mereka juga terlibat dalam upaya bantuan di wilayah itu.” Dikatakan pula bahwa “Delegasi itu akan mengunjungi kamp-kamp pengungsi di daerah Kokrajhar yang berdekatan dengan wilayah Assam, yaitu wilayah yang menjadi tempat terjadinya aksi-aksi kekerasan sektarian selama beberapa hari terakhir.”
Menurut Human Rights Watch bahwa kampanye pembersihan etnis yang dilakukan oleh kelompok militan Bodo terhadap kaum Muslim di wilayah Assam, India telah menyebabkan lebih dari 45 orang Muslim meninggal, dan sekitar 300 ribu orang Muslim lainnya terusir. Mengacu pada kebijakan pemerintah India bahwa “Pemerintahan India menerapkan kebijakan (tembak di tempat) untuk setiap orang yang terlihat berjalan saat diberlakukannya jam malam di daerah itu. Kebijakan inilah yang memberi lampu hijau pada pasukan keamanan untuk menggunakan senjatanya pada saat yang tidak perlu dan ilegal.”
Di sisi lain, Human Rights Watch yang berkantor pusat di New York menyerukan kepada pemerintah India untuk melakukan investigasi atas sejumlah aksi kekerasan dan menuntut mereka yang bertanggung jawab, dengan mencari penyebab di balik bentrokan etnis tersebut. Human Rights Watch menegaskan bahwa pasukan keamanan harus konsisten dengan standar internasional, yang melarang penggunaan kekuatan mematikan, kecuali ketika benar-benar diperlukan untuk melindungi diri.”
Namun, yang lebih buruk dari semua ini adalah diam dan bisunya dunia terhadap pembantaian yang dilakukan terhadap kaum Muslim di daerah ini. Akibatnya, ratusan atau bahkan ribuan kaum Muslim meninggal, dimana tidak ada seorang pun yang tergerak dan meresponnya. Sebaliknya dunia geger dengan penghancuran beberapa patung di Tunisia atau Timbuktu di Mali. Mengapa? Sebab, mereka memiliki sejumlah aturan jika yang menjadi korbannya adalah kaum Muslim.
Perlu diketahui bahwa wilayah Assam, India, terletak di timur laut negara itu, berbatasan dengan negara Bhutan di sebelah barat laut, dan dua perbatasan internasional dengan Bangladesh di bagian barat dan barat daya. Pada tanggal 27 Februari 2006, pemerintah Assam mengajukan penggantian nama menjadi Asom dan setelah disetujui kini dipakai sebagai nama resmi. Sementara dari bagian timur tidak dipisahkan dari Burma, kecuali oleh duan wilayah yaitu Nagaland dan Manipur. Jumlah kaum Muslim di Assam sekitar 31% dari total penduduk wilayah itu. Assam adalah wilayah India nomor dua dalam hal jumlah kaum Muslim setelah Jammu dan Kashmir. Jumlah total kaum Muslim di India sekitar delapan setengah juta jiwa (islamtoday.net, 6/8/2012).
![Foto: Hingga Kini, 16.000 Muslim Gujarat Telantar Pasca Rusuh 2002
HTI Press, Ahmadabad,- Pemerintah India nampaknya tidak serius memulihkan kembali nasib korban kerusuhan Gujarat 2002, hingga menyebabkan setidaknya 16.000 Muslim Gujarat telantar hingga kini. Hal itu terungkap dalam artikel Roxy Gagdekar di Daily News & Analysis (DNA) India, Kamis (1/3/2012).
Gagdekar mengutip rilis hasil survei LSM Janvikas tentang status komunitas minoritas di India setelah terjadinya kerusuhan. Survei itu mengungkapkan, sepuluh tahun pasca kerusuhan, kaum Muslim masih menjadi orang-orang buangan baru, yang lebih sering ditolak untuk mendapatkan fasilitas mendasar yang disediakan bagi orang-orang dari komunitas lain.
“Sebanyak 16.000 kaum Muslim yang terlantar akibat kerusuhan itu masih tinggal di koloni-koloni bantuan dan mereka ditolak untuk mendapatkan bahkan fasilitas yang paling dasar sekalipun,” ungkap rilis Janvikas.
Kerusuhan Pebruari 2002 tersebut mengungsikan lebih 200.000 orang di seluruh Gujarat. Orang-orang masih terlantar selama hampir dua tahun setelah peristiwa tahun 2002 itu. Namun, LSM-LSM dan organisasi-organisasi bantuan Islam telah menempatkan kembali sebanyak 16.087 orang di 83 koloni bantuan yang berbeda.
“Mereka orang-orang yang tidak dapat atau tidak berani pulang kembali ke tempat tinggal asalnya dan telah tinggal di tempat penampungan selama 10 tahun terakhir,” kata Vijay Parmar, CEO Janvikas.
“Pemerintah tidak melakukan apa-apa untuk menciptakan kesadaran tentang skema jaminan sosial yang diperuntukkan bagi Para Pengungsi Dalam Negeri (IDP). Para janda dan orang-orang miskin hanya dapat menerima sebagian manfaatnya hanya karena intervensi LSM-LSM,” kata Khatunben, penduduk Nagar, sebuah koloni bantuan di Ahmadabad, ibukota negara bagian Gujarat.
Walhasil, lanjut Gagdekar, kerusuhan yang terjadi sepuluh tahun silam tersebut bukan hanya mendorong kaum Muslim ke dalam kampung-kampung kumuh kaum minoritas (ghetto) di seluruh negeri tetapi juga pemerintah tidak mencatat mereka sebagai orang-orang yang membutuhkan bantuan.
“Pengabaian pemerintah terhadap mereka sangat jelas!” tegas Gagdekar. Hal itu setidaknya dibuktikan dengan sedikit sekali upaya yang dilakukan untuk memukimkan mereka kembali ke kampung halamannya dan memberikan mereka akses atas skema pemerintah, fasilitas kesehatan dan pinjaman.
Seperti diketahui, kerusuhan 2002 meletus setelah kereta api yang membawa para peziarah Hindu diserang dan dibakar oleh orang-orang tak dikenal yang diklaim sebagai Muslim di Gujarat. Setidaknya 59 orang Hindu tewas dalam serangan tersebut. Setelah serangan itu, lebih dari seribu orang, sebagian besar Muslim, tewas.
Konsil HAM PBB pada 2009 mengecam India karena tidak memberikan keadilan bagi korban kerusuhan Gujarat di tahun 2002 dan mengatakan bahwa penyelidikan terhadap kekerasan tersebut dipersulit. []rz/joy](https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/c0.0.300.300/p403x403/552627_10150992466277341_1862728936_n.jpg)
IKTIKAF MENGGAPAI LAILATUL QODAR

Potret Ibadah Rasulullah Pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ، مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ»
“Rasululah Saw bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir (Ramadhan) dalam melakukan suatu ibadah yang beliau tidak sungguh-sungguh pada selain itu.” (HR. Muslim, Nasa’i
, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ juga yang berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ»
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), maka Rasululah Saw habiskan malam (untuk shalat dan ibadah lainnya), membangunkan keluarganya (untuk shalat juga), dan beliau bersungguh dalam beribadah melebihi biasanya, serta mengencangkan sarung (menjauhi istri untuk beribadah).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).
Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ juga yang berkata:
« كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَيْقَظَ أَهْلَهُ وَرَفَعَ الْمِئْزَرَ، أَي اعْتَزَلَ النِّسَاءَ »
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), maka Rasululah Saw membangunkan keluarganya untuk shalat, dan beliau mengangkat sarung (menjauhi istri untuk beribadah).” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Baihaki dan Abu Ya’la. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, dimana beliau berkata bahwa hadits ini statusnya hasan shahîh).
Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ juga yang berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ»
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), maka Rasululah Saw habiskan malam (untuk shalat dan ibadah lainnya), membangunkan keluarganya (untuk shalat juga), dan beliau bersungguh dalam beribadah melebihi biasanya, serta mengencangkan sarung (menjauhi istri untuk beribadah).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).
Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ juga yang berkata:
« كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَيْقَظَ أَهْلَهُ وَرَفَعَ الْمِئْزَرَ، أَي اعْتَزَلَ النِّسَاءَ »
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), maka Rasululah Saw membangunkan keluarganya untuk shalat, dan beliau mengangkat sarung (menjauhi istri untuk beribadah).” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Baihaki dan Abu Ya’la. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, dimana beliau berkata bahwa hadits ini statusnya hasan shahîh).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar