Spirit Kebangkitan Ummat

Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) “Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim). “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi) Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma(Italia). Rasulullah SAW bersabda: ”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Kamis, 12 April 2012

Fenomena Gunung Es HIV/AIDS

 Fenomena Gunung Es HIV/AIDS



WHO mencatat setiap hari ada 7.000 orang yang terinfeksi HIV/AIDS.
Indonesia menempati urutan pertama dalam penularan HIV/AIDS di Asia Tenggara. Prestasi ini bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan sebuah musibah. Data Kementerian Kesehatan per Juni 2011 menunjukkan jumlah pengidap AIDS mencapai 26.400 orang dan lebih dari 66.600 orang telah terinfeksi HIV positif. Totalnya sebanyak 93.000 orang.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief, menyatakan angka tersebut belum mencerminkan data yang sebenarnya. “HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20 persen saja," ujarnya
Kalau demikian, jumlah yang nyata bisa lima kali lipatnya. Bahkan ada yang memperkirakan jumlahnya bisa jauh lebih banyak lagi. Mungkin 10 hingga 100 kali lipat. Dari data yang ada, lebih dari 70 persen di antaranya pengidap HIV/AIDS adalah generasi muda usia produktif berkisar 20-39 tahun. Data World Health Organization (WHO) mengungkapkan, 7.000 orang terinfeksi penyakit itu setiap harinya.
Di seluruh dunia, ODHA (orang dengan HIV/AIDS) mencapai 5,2 juta jiwa. Padahal pada tahun lalu, jumlahnya hanya 1,2 juta jiwa saja. Lagi-lagi itu adalah data yang tercatat. Angka pastinya tidak diketahui karena banyak pengidap HIV/AIDS tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi virus mematikan tersebut.
Berkembangnya penyakit mematikan ini tidak lain karena perilaku seks bebas. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh BKKBN, penularan terbesar melalui hubungan seks (heteroseksual) yakni sebesar 54,8 persen. Disusul berikutnya melalui penggunaan jarum suntik—biasanya narkoba (31,8 persen), homoseksual (2,9 persen), perinatal/ibu ke anak (2,8 persen), dan transfusi darah (0,2 persen).
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPA) mengungkapkan, penyebaran penyakit HIV/AIDS ini tidak lepas dari adanya tempat-tempat pelacuran. Salah satunya adalah pelabuhan laut.  "Tidak ada satu pelabuhan pun yang tidak ada pelacuran," ujar Nafsiah Mboi, selaku Sekretaris Komisi Penangulangan Aids Nasional (KPAN), dalam acara Rakorkesra tentang HIV/AIDS bersama KPA di gedung Kemenkes, Jakarta, September lalu.

Menurut  Nafsiah, di pelabuhan orang bisa datang dari mana-mana dan di pelabuhan angka penggunaan kondomnya juga terbilang hampir nol, yang berarti masuk ke dalam hubungan seks berisiko."Umumnya orang-orang ini tergolong 4M (Mobile Men with Money and Macho), yaitu laki-laki yang sering berpindah-pindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya dan mereka memiliki uang, sebagian dari mereka biasanya mencari hiburan yang salah satunya adalah seks," ungkapnya.
Mia—bukan nama sebenarnya—adalah salah satu di antaranya. Pelacur yang mangkal di sebuah lokalisasi di Surabaya ini tinggal menunggu nasib karena tubuhnya digerogoti penyakit yang belum ditemukan obatnya itu. Sebuah media nasional menulis, Mia sempat shock dengan penyakitnya itu. Tapi, dengan alasan ekonomi, wanita muda ini tak juga meninggalkan dunia gelapnya. Ia tetap saja melayani lelaki hidung belang setiap harinya. Agar orang lain tak tertular, ia pun menggunakan kondom. Hanya saja ia tak sekuat ketika masih sehat dulu. ‘Kerja’-nya dibatasi.
Itu kalau ODHA masih ‘baikan’, tidak mau menularkan penyakitnya kepada orang lain. Ada juga ODHA yang sengaja menyebarkan penyakit itu. Korbannya sudah banyak. Inilah mengapa banyak ibu-ibu yang sebenarnya tak melakukan seks bebas tapi kemudian tertulari menjadi ODHA gara-gara suaminya. Pasangannya itu membawa penyakit ke rumah.
Di Amerika, Simon McClure, pria menikah usia 38 tahun asal Middlesbrough diduga telah melakukan hubungan seksual dengan ratusan wanita. Ia diyakini telah terinfeksi HIV sejak 5 tahun lalu, seperti dilansir Telegraph, Kamis (6/10/2011).
McClure telah didiagnosis dengan HIV pada tahun 2006 setelah kembali dari perjalanan ke Thailand. Ia juga berkunjung ke Swiss, di mana dia diperkirakan telah berhubungan seks dengan banyak pekerja seks komersial.

Karena tindakannya itu, McClure dijatuhi hukuman dua tahun delapan bulan di Pengadilan Teeside Crown karena telah berhubungan seks tanpa kondom sehingga menimbulkan kerugian menyedihkan bagi tubuh korbannya. Salah satu korbannya mengetahui telah terinfeksi ketika ia melakukan tes darah setelah mengetahui hamil. Bayinya lahir prematur, tapi tes darah menunjukkan bayi tersebut tidak tertular HIV."Hidup saya tidak akan normal kembali," kata salah satu korban Simon McClure.
Bisa jadi orang seperti McClure banyak. Tak terkecuali di Indonesia. Inilah yang bisa menjawab, mengapa jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat. Selain itu, jumlah wanita yang menjadi pelacur juga terus bertambah. Dan, banyak orang telah jatuh ke dalam seks bebas dan narkoba.

Virus HIV ini berada di dalam cairan tubuh manusia, yang berarti penularannya terjadi dari cairan di tubuh. Cairan yang potensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan keringat, air liur dan air mata tidak menularkan virus HIV.Orang yang punya penyakit infeksi jika memiliki luka atau ada cairan dari tubuh yang keluar maka bisa 10 kali menularkan potensi HIV kepada pasangannya lewat hubungan seks.
Melihat kecenderungan yang ada, bukan suatu yang mustahil, bila di masa mendatang jumlah orang yang mati bergelimpangan karena penyakit HIV/AIDS ini akan meningkat. Seperti fenomena gunung es, orang bisa kaget karena tiba-tiba di sekitarnya sudah banyak ODHA. Waspadalah![] Mujiyanto

Bukan Deret Hitung, Tapi Deret Ukur

Peningkatan jumlah pengidah HIV/AIDS memang luar biasa. Tak ada yang menduga jumlahnya seperti sekarang. Di Indonesia, saat penyakit ini pertama kali dilaporkan tahun 1987, jumlah penderitanya hanya lima orang. Tahun 2007, jumlah itu melonjak menjadi 2.947 kasus. Setahun kemudian, jumlah itu menjadi 4.969 kasus. Tahun 2009, ada 19.973 kasus. Tahun 2010, ada 24.131 kasus. Dan hingga pertengahan tahun 2011, tercatat ada 26.483 kasus.
Data tersebut menunjukkan pertambahan kasus HIV/AIDS tak lagi mengikuti deret hitung, tapi mengikuti deret ukur. Lihat saja peningkatannya berkali-kali lipat. Padahal, di tengah perkembangan itu, sudah ada perlakuan dari pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit karena kemaksiatan ini.
Peningkatan serupa terjadi di belahan dunia lainnya. Di Amerika, saat penyakit yang disebut ‘acquired immune dificiency syndrome’ (AIDS) pertama dideteksi tahun 1980, ada 31 orang meninggal karenanya. Setahun kemudian, jumlah korbannya meningkat menjadi 234 orang. Sepuluh tahun berikutnya melonjak menjadi 20.454 kasus. Salah satu ODHA yang tewas adalah penyanyi rock Freddie Mercury.
Tahun 1997, di seluruh dunia ada 6,4 juta orang yang tewas karena HIV/AIDS. Sementara yang tertular HIV mencapai 22 juta orang. Berbagai obat-obatan dan vaksi dicari untuk menyembuhkan penyakit ini, tapi tak berhasil. Tahun 2007, diperkirakan ada 33 juta orang yang terjangkiti HIV. Setiap harinya 7.000 orang menjadi pengidap HIV baru.[] emje

Bom AIDS


Munculnya penyakit seksual HIV/AIDS ini tidak lepas dari sistem hidup masyarakat dunia saat ini yang dipimpin oleh ideologi kapitalisme.
Bom kecil meledak orang terbelalak, tapi HIV/AIDS kian mengganas orang tak tersentak. Padahal, HIV/AIDS adalah bahaya terselubung yang sedang mengintai kehidupan masyarakat. Apakah Anda yakin, orang di sekitar Anda semuanya bebas HIV/AIDS?
WHO mencatat setiap hari ada 7.000 orang terinveksi Human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Penyebarannya pun luar biasa. Tak ada yang menduga sebelumnya penyakit yang diidentifikasi pada tahun 1980-an itu merebak begitu cepat. Data menunjukkan orang yang tertular tahun ini mencapai 33 juta orang.  Pertambahannya tidak lagi mengikuti deret hitung tapi sudah mengikuti deret ukur. Korban tewasnya pun mencapai lebih dari 6 juta orang. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan penyakit flu burung yang terjadi beberapa tahun terakhir.
Penyakit yang awalnya ditemukan pada orang yang homoseksual ini pun mampir ke Indonesia. Di Indonesia, ODHA tahun ini mencapai lebih dari 26.000 orang. Mereka berasal dari berbagai kalangan dari mulai penggangguran, pelajar/mahasiswa, pekerja, PNS, polisi/tentara, hingga pengguna narkoba.
Penyakit ini menular paling besar melalui hubungan seks. Besarnya, penularan HIV/AIDS ini menunjukkan indikator bahwa perilaku seks bebas kian subur. Itu juga mengindikasikan bahwa berbagai pencegahan yang dilakukan selama ini gagal membuahkan hasil.
Pemerintah telah salah dalam menentukan akar masalah persoalan ini. Kalau pun tahu akan permasalahannya, penyelesaiannya tidak tuntas atau hanya setengah-setengah. Kalau dilihat, persoalan penularan HIV/AIDS ini karena adanya hubungan seks bebas, seharusnya pencegahannya adalah pelarangan seks bebas sama sekali.
Namun apa yang terjadi? Dalam kampanye-kampanye pencegahan HIV/AIDS justru yang dimunculkan adalah seks aman. Artinya boleh melakukan hubungan seks dengan siapa saja asalkan dengan menggunakan kondom. Jelas ini tidak kena sasaran. Soalnya, terbukti kondom sendiri tidak menjamin penularan HIV/AIDS ini. Yang tidak pakai pun tak ada sanksi. Terus siapa yang mengawasinya?
Perilaku maksiat para ODHA tak pernah dihentikan. ODHA yang biasa menggunakan jarum suntik, malah dibagikan jarum suntik agar tidak menggunakan satu jarum suntik dari orang lain. Demikian juga para pelacur tidak dilarang menjadi pelacur, tapi diberi kondom dan diminta menggunakan kondom bila melayani pelanggannya. Sementara para homoseks pun dianjurkan pakai kondom jika berhubungan seks.
Tindakan pemerintah ini tidak membuat jera orang-orang bejat ini. Seorang ODHA yang terkena HIV/AIDS karena homoseks mengaku kepada Media Umat, tetap melanjutkan tindakan terkutuk itu dengan alasan sekarang hal itu bisa dilakukan dengan aman. Ia tak merasa berdosa dan menghentikan aksinya meski penyakit mematikan menyerangnya.
Apa yang dilakukan oleh pemerintah itu sama dan sebangun dengan program global. Tak heran jika hasilnya pun sama. Secara global, penularan penyakit itu tak terkendali. Di negara semaju Amerika saja, prevalensinya pun melonjak. Justru ada kecenderungan peningkatan yang tajam gara-gara ada obat yang bisa mengurangi risiko bahaya penyakit ini.
Buah Kapitalisme
Munculnya penyakit seksual HIV/AIDS ini tidak lepas dari sistem hidup masyarakat dunia saat ini yang dipimpin oleh ideologi kapitalisme. Dengan pola hidup yang permisif (serba boleh), hubungan laki-laki dan wanita maupun hubungan sejenis tidak boleh dibatasi. Pembatasnya hanya jika mengganggu hak-hak orang lain.
Dalam pandangan kapitalisme, kalau ada dampak dari pola hubungan seperti itu harus dicari obatnya. Bukan dilarang hubungannya itu sendiri. Karena melarang kebebasan warga negara—termasuk dalam hubungan seks—dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM).
Maka wajar jika lokalisasi pelacuran dibiarkan dan malah dibangun. Tujuannya, mengais keuntungan dari bisnis esek-esek ini. Dengan dilokalisasi, para pelacur ini bisa dikontrol dan dijaga kesehatannya sehingga tetap bisa melayani tamu-tamu hidung belang dari mana pun. Kalau pun ada yang tertular penyakit, pemerintah membantunya dengan menyediakan berbagai obat-obatan dan sarana lainnya. Ini bisa menghidupkan perusahaan obat. Seks telah menjadi lahan bisnis.
Solusi Islam
Kondisi nyata itu bertolak belakang dengan pandangan Islam. Islam melarang sama sekali zina, apalagi homoseksualitas. Kalau remaja sudah baligh dan memiliki hasrat seksual, Islam membuka pintu bagi mereka untuk menikah. Menikah dalam masa muda tak perlu dipersulit, justru harus dipermudah.
Islam membatasi hubungan lawan jenis atau hubungan seksual antara pria dan wanita hanya dalam lembaga perkawinan dan melalui pemilikan hamba-hamba sahaya semata. Sebaliknya, Islam telah menetapkan bahwa setiap hubungan lawan jenis selain dengan dua cara tersebut adalah sebuah dosa besar yang layak diganjar dengan hukuman yang paling keras.
Sistem interaksi pria dan wanita dalam Islam menjadikan aspek ruhani  sebagai landasan dan hukum-hukum syariat sebagai tolok ukur. Di dalamnya terdapat hukum-hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur. Hukum-hukum tersebut banyak jumlahnya. Di antaranya, pria maupun wanita wajib menundukkan pandangannya. Mereka juga dilarang berkhalwat (berdua-duaan), kecuali wanita itu disertai mahramnya. Wanita juga tidak boleh tabaruj (bersolek).
Selain itu, Islam sangat menjaga agar jamaah (komunitas) kaum wanita terpisah dari jamaah (komunitas) kaum pria; begitu juga didalam masjid, di sekolah, dan lain sebagainya. Meski begitu, tetap membolehkan adanya kerja sama antara pria dan wanita yang  bersifat umum dalam urusan-urusan muamalat;bukan hubungan yang bersifat khusus seperti saling mengunjungi antara wanita dengan pria yang bukan mahramnya atau jalan-jalan bersama.
Pola hubungan yang demikian tidak akan terwujud di dalam sistem kufur seperti sekarang. Satu-satunya sistem yang bisa menjamin kehidupan yang lebih baik, terbebas dari HIV/AIDS adalah sistem Islam. Itulah khilafah.[] mujiyanto

Zina Halalkan Azab Allah


Rokhmat S Labib,
Ketua DPP HTI




Dari tahun ke tahun, anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk mengatasi masalah HIV/AIDS semakin besar namun ternyata angka penyakit –yangsebagian besar penularannya melalui perzinaan—itu semakin tinggi. Mengapa bisa demikian? Adakah yang salah dari solusi yang selama ini dijalankan pemerintah? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan  Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Rokhmat S Labib. Berikut petikannya.
Mengapa pengidap HIV/AIDS semakin marak di Indonesia?
Bagaimana tidak meningkat terus,  lha akar masalahnya tidak disentuh. Padahal akar masalahnya sudah sangat jelas. Semua data dan fakta menunjukkan bahwa penularan HIV/AIDS erat kaitannya dengan perilaku seks bebas dan penggunaan jarum suntikbergantian yang biasa digunakan para pecandu narkoba.
Namun demikian, tidak ada langkah kongkrit dari pemerintah untuk memutus rantai utama media penularan HIV/AIDS. Perilaku seks bebas ini tidak dihentikan. Sebaliknya, pemerintah justrumenggalakkan pemakaian kondom.

Itu kan hanya salah satu solusinya?
Memang benar, selain menganjurkan pemakaian kondom, pemerintah juga mengampanyekan perilaku lainnya, seperti abstinence,yaknitidak melakukan hubungan seks, dan be faithfull, yakni setia kepada pasangan. Akan tetapi, jika tidak bisa menahan diri dengan dua perilaku tersebut, masih dibuka opsi berikutnya, yakni memakai kondom!
Ironisnya, kampanye pemakaian kondom inilah yang justrulebih menonjol daripada yang lain. Program juga sangat gencar. Akses terhadap kondom dipermudah, bahkan dibagikan secara gratis di lokasi-lokasi prostitusi dan para pelakunya. Lebih tragis lagi, penggunaan kondom juga dikampanyekan kepada remaja-remaja yang belum menikah. Ini kan sama saja mengajari berzina.
Kan untuk menekan jumlah  pengidap HIV?
Alasan itu jelas salah besar.
Mengapa?
Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, banyak pakar yang meragukan efektivitas kondom dalam mencegah penularan virus HIV.
Kedua,kampanye pemakaian kondom bagi pelaku seks bebas tersebut sifatnya hanya anjuran. Tidak ada sanksi apa pun bagi yang melanggarnya. Seandainya ada, pelaksanaannya tentu juga amat sulit. Bagaimana dan siapa yang mengawasi para  pelaku seks bebas itu menggunakan kondom atau tidak?
Ketiga, program itu sudah terbukti gagal di negara asalnya, negara-negara Barat. Meskipun kampanye pemakaian kondom di negara-negara tersebut amat gencar, namun jumlah pengidap HIVdi negara-negara terus meningkat. Maka aneh sekali, program yang sudah jelas-jelas gagal itu, masih diikuti.
Dan yang lebih penting, kampanye penggalakan kondom bagi pelaku seks bebas tersebut justru melegitimasi seks bebas. Seolah dikatakan kepada para pelaku seks bebas itu, “Silakan Anda berzina, tapi jangan lupa pakai kondom!”
Ini kan konyol sekali. Jangankan bisa menghentikan HIV, tindakan ini malah mengundang azab Allah SWT yang lebih besar. Dalam hadits riwayat Al Thabarani dan AlHakim, disebutkan: Apabila zina dan riba telah terang-terangan dilakukan di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan diri mereka dari azab Allah.
Mengapapemerintah lebih memilih melegalkan seks bebas daripada melarangnya?
Itu tidak bisa dilepaskan dengan ideologi yang diadopsi oleh negara ini. Diakui atau tidak, ideologi yang diadopsi negara ini adalah sekulerisme-kapitalisme. Nah, diantara ide yang menonjol dari ideologi ini adalah ide kebebasan, freedom. Salah satunya adalah kebebasan berperilaku. Termasuk di dalamnya aktivitas seksual.
Setiap individu berhak dan bebas melakukannya dengan siapa saja, asalkan atas dasar suka sama suka. Negara tidak boleh campur tangan kecuali ada pihak yang merasa terganggu dan dirugikan. Selama itu tidak ada, seks bebas tidak boleh dilarang. Bahkan, jika dianggap bermanfaat secara ekonomi, seks bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial.

Nah, karena seks bebas tidak boleh dilarang, maka yang dilakukan adalah meminimalisir risiko. Pilihannya, yaitu, kampanyekan kondom. Inilah solusi sekulerisme-kapitalisme.
Bagaimana solusi Islammengatasi persoalan tersebut?

Dalam Islam,  jelas. Zinamerupakan perbuatan haram. Bahkan termasuk dalam dosa besar. Pelakunya diancam dengan azab besar di akhirat. Di dunia, hukumannya  juga sangat berat. Bagi yang belum menikah dicambuk seratus kali dihadapan khalayak. Bagi yang sudah menikah, dirajam hingga mati.Bagi yang homo lebih berat lagi, pelakunya harus dibunuh.
Demikian pula dengan narkoba. Islam telah mengharamkan benda yang membahayakan tersebut. Sehingga pengguna narkoba, pengedar, produsen, dan semua yang terlibat juga dihukum berat.
Dengan tindakan tegas tersebut, penularan HIV/AIDS tidak akan serumit seperti sekarang. Sebab rantai utama penyebaran HIV telah terputus.Tak hanya itu, Islam juga menutup semua pintu yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut.
Ada perintah menutup aurat, larangan tabarruj (berdandan berlebihan di depan umum, red), ikhtilath (campur aduk, red) dan khulwah (berdua-duan di tempat yang sepi, red) antara pria wanita, dan lain-lain.
Pada saat yang sama, pernikahan dipermudah. Poligami juga dibuka. Pemerintah juga wajib menciptakan lapangan kerja seluas-luanya. Suasana ketakwaan dan keimanan harus dibangun sehingga ada keterikatan terhadap hukum Islam. Dengan demikian, kalau ada yang berzina, amat keterlaluan.

Perlakuan terhadap orang yang sudah telanjur tertular HIV sendiri?
Setidaknya, mereka dikategorikan menjadi dua. Pertama,penderita yang tertular akibat kemaksitan yang dia lakukan, seperti berzina atau menggunakan narkoba. Mereka harus dihukum sesuai dengan ketentuan Islam. Seperti tadi saya katakan, ada yang harus dihukum mati. Jika hukuman ini dilakukan, berarti pasti dapat mengurangi jumlah pengidap dan penyebar virus HIV.
Kedua, mereka yang menjadi korban penularan atau pelaku kemaksiatan yang tidak sampai dihukum mati harus diobati. Apabila dikuatirkan menularkan kepada orang lain di samping diobati juga dikarantina.
Kalau dikarantina, apa tidak dianggap mendiskriminasi mereka?
Karantina bukan untuk mendiskriminasi mereka. Namun untuk mencegah agar mereka tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. Dalam haditsriwayat Ahmad, Bukhari, Muslim dan AlNasa’i,Rasulullah SAWmemerintahkan apabila ada sebuah daerah terserang wabah thâ’ûn, orang yang berada di luar daerah itu tidak boleh masuk.
Sebaliknya, orang yang ada di dalamnya tidak boleh keluar. Ini bukan untuk mendiskriminasi atau mengisolasi, namun mencegah agar penyakit menular itu tidak menyebar luas.
Namun saya harus mengingatkan, semua solusi tersebut tidak bisa berjalan sendiri. Ini juga terkait dengan aspek kehidupan lainnya, seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-ain. Di samping itu, ini hanya bisa dijalankan oleh negara.
Realitas ini semakin menunjukkan betapa besarnya umat membutuhan khilafah, institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara kâffah.[]

 

Related Posts by Categories

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar