Spirit Kebangkitan Ummat

Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) “Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim). “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi) Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma(Italia). Rasulullah SAW bersabda: ”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Selasa, 17 Januari 2012

Catatan Ustadz KiJoko Tingkir : ORANG ORANG KAFIR AMAT FAHAM SEKALIGUS KETAKUTAN AKAN BAHAYA KHILAFAH ISLAM BAGI PENJAJAHAN MEREKA DI DUNIA ISLAM r

ORANG ORANG KAFIR AMAT FAHAM SEKALIGUS KETAKUTAN AKAN BAHAYA KHILAFAH ISLAM BAGI PENJAJAHAN MEREKA DI DUNIA ISLAM

oleh Joko Tingkir pada 1 Oktober 2011 pukul 18:11


                                                                                                                 

1. Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris, 1924

Lord Curzon, who was the British Foreign Secretary back in 1924. After the termination of Khilafat, the secretary expressed his views, in the following words: "The point at issue is that Turkey has been destroyed and shall never rise again, because we have destroyed her spiritual power: the Caliphate and Islam."

Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris pada tahun 1924, menyatakan pada tahun 1924, tahun keruntuhan Khilafah dengan kata-kata berikut: "Inti permasalahannya adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan bangkit kembali, karena kita telah menghancurkan jantung kekuatan spiritualnya: Khilafah dan Islam."




2. Majalah The Economist Edisi Tahun 1996

In the Economist Magazine issue of 1996, it was predicted, that in the 21st century, their will be two emerging economies, One will be that of China , and the other will be Caliphate.

Majalah the Economist edisi tahun 1996 meramalkan bahwa pada abad ke 21, akan ada dua kekuatan ekonomi raksasa yang muncul. Yang pertama adalah China dan dan yang satunya lagi adalah Kekhalifahan.

3. Henry Kissinger, Asisten Presiden AS untuk urusan Keamanan Nasional 1969-1975, di bulan November 2004 di Koran Hindustan Times

He said: "…what we call terrorism in the United States , but which is really the uprising of radical Islam against the secular world, and against the democratic world, on behalf of re-establishing a sort of Caliphate."

Dia mengatakan: "…apa yang dinamakan terorisme di Amerika, tapi sebenarnya adalah kebangkitan Islam radikal terhadap dunia secular, dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam Kekhalifahan."

4. the National Intelligence Council (NIC),  Desember 2004


A report by of the CIA predicted that by 2020 a "New Caliphate" would have been established. This 123-page report titled "Mapping the Global Future" was aimed to prepare the next Bush administration for future challenges, and was presented to US President, members of Congress, cabinet members and key officials involved in policymaking.

Sebuah laporan dari CIA memprediksi bahwa menjelang tahun 2020 sebuah "Kekhalifahan Baru" akan didirikan. Laporan setebal 123-halaman itu bertajuk "Pemetaan Masa Depan Global" dimaksudkan untuk mempersiapkan pemerintahan Bush untuk tantangan-tantangan masa depan, dan dipresentasikan kepada Presiden Amerika, para anggota Konggres, Kabinet dan para pejabat penting yang membuat keputusan.


5. Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke, 5 Oktober 2005


On 5th October, 2005, British Home Secretary, Charles Clarke delivered a speech on Counter Terrorism at The Heritage Foundation (a neoconservative think tank, Washington DC ), in which he stated: "What drives these people on is ideas. And unlike the liberation movements of the post World War II era in many parts of the world, these are not in pursuit of political ideas like national independence from colonial rule, or equality for all citizens without regard for race or creed, or freedom of expression without totalitarian repression. Such ambitions are, at least in principle, negotiable and in many cases have actually been negotiated. However there can be no negotiation about the re-creation of the Caliphate; \there can be no negotiation about the imposition of Shariah law; there can be no negotiation about the suppression of equality between the sexes; there can be no negotiation about the ending of free speech. These values are fundamental to our civilization and are simply not up for negotiation. "

Pada tanggal 5 Oktober 2005, Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke menyampaikan pidato tentang Perang Melawan Terorisme di The Heritage Foundation (sebuah pusat kajian neo konservatif di Washington DC ). Dimana dia menyatakan:

"Apa yang mendorong orang-orang itu adalah ide-ide. Dan berbeda dengan gerakan kebebasan di era pasca Perang Dunia II di banyak belahan dunia, ide-ide itu bukanlah untuk menggapai ide-ide politik seperti kemerdekaan nasional dari penjajahan, atau persamaan bagi semua penduduk tanpa membedakan suku dan keyakinan, atau kebebasan berekspresi tanpa tekanan totaliter. Ambisi-ambisi itu adalah, paling tidak secara prinsip, bisa dirundingkan dan dalam banyak hal telah dimusyawarahkan. Namun, tidak ada perundingan bagi pendirian kembali Khilafah; tidak ada perundingan bagi penerapan Hukum Syariah; dan tidak ada perundingan tentang penindasan atas persamaan antara laki-laki dan perempuan; tidak ada perundingan untuk mengakhiri kebebasan berbicara. Nilai-nilai itu adalah sangat fundamental bagi peradaban kami dan tidak dimungkinkan adanya perundingan."


6. President George W. Bush, November 2005


He stated that the militants were seeking to establish a "radical Islamic empire." He further added: "The murderous ideology of the Islamic radicals is the great challenge of our new century. Like the ideology of communism, our new enemy teaches that innocent individuals can be sacrificed to serve a political vision."

"The militants believe that controlling one country will rally the Muslim masses, enabling them to overthrow all moderate governments in the region, and establish a radical Islamic empire that spans from Spain to Indonesia."

Dalam pidatonya di awal bulan November 2005 menyatakan bahwa kaum militant sedang berusaha untuk mendirikan sebuah "kekaisaran Islam radikal".

Dia lalu menambahkan bahwa: "Ide membunuh dari kaum Islam radikal adalah tantangan yang besar di abad baru kita. Sama seperti ideology komunisme, musuh kita yang baru ini mengajarkan bahwa individu yang tidak berdosa bisa dikorbankan untuk bisa menjalani visi politik."

"Kaum militan percaya bahwa mereka dapat menyatukan kaum muslimin dengan cara menguasai Negara, sehingga dengan cara itu mereka menumbangkan semua pemerintahan moderat di wilayah dan mendirikan sebuah kekaisaran Islam yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia."

7. Jendral John Abizaid, Komandan Angkatan Bersenjata Amerika, 29 September 2005


"Al Qaeda terrorists hope to drive American influence from the Middle East and install a global Muslim leader in Saudi Arabia .....If al Qaeda terrorists manage to take control of Saudi Arabia , they will try to create and expand their influence in the region and establish a caliphate."

Abizaid said al Qaeda would subsequently move on to apply a "very narrow, strict interpretation of Shariah, Islamic law, not believed in or practiced anywhere else in the world today....... The next goal would be to expand into non-Arab Islamic countries. This would include the middle of Africa, South Asia and Southeast Asia."

At another occasion, Gen. John Abizaid said: "We are fighting the most despicable enemy ... who uses the 21st century-technology to spread their vision of a 7th-century paradise (and) try to re-create what they imagine was the pure and perfect Islamic government of the era of the prophet Muhammad."

"Teroris Al-Qaeda berharap untuk menghilangkan pengaruh Amerika dari Timur Tengah and mendirikan suatu pemerintahan Muslim global di Saudi Arabia…Jika teroris Al-Qaeda menguasai Saudi Arabia, mereka akan mencoba mendirikan dan memperluas pengaruh mereka di wilayah itu dan mendirikan sebuah kekhalifahan."

Abizaid mengatakan bahwa Al-Qaeda pada akhirnya akan melanjutkan dengan menerapkan sebuah "penafsiran Shariah, Hukum Islam, dengan pandangan yang sempit dank eras, yang tidak dipercayai dan tidak dipraktekkan di tempat manapun di dunia ini pada saat ini…Sasaran berikutnya adalah memperluasnya ke Negara-negara Arab non-Islam. Ini akan termasuk bagian tengah Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara."

Pada kesempatan lain dia mengatakan: "Kita sedang memerangi musuh yang paling keji…yang menggunakan teknologi di Abad 21 untuk menyebarkan visi mereka atas surga abad ke-7 (dan) berusaha untuk mendirikan kembali apa yang mereka angankan adalah pemerintahan Islam yang murni dan sempurna seperti zaman Nabi Muhammad."

8. Gen. Richard Myers, Kepala Staf Gabungan, ketika berpidato di Pentagon.

While addressing a Pentagon news conference, he stressed: "If the Zarqawis of the world were allowed to be successful in Iraq in their view, and that would be the start of the caliphate that they envision, the stakes would be huge for the region,"

Ketika berpidato di Pentagon pada suatu konperensi pers, dia menekankan: "Jika kelompok Zarqawi dunia dibiarkan untuk sukses di Irak, dalam pandangan mereka, maka itu akan merupakan awal kekhalifahan yang mereka angankan, maka taruhannya adalah sangat besar bagi seluruh wilayah itu."


9. PM Inggris, Tony Blair, pada pidato di depan Konperensi Partai Buruh

He stated: "What we are confronting here is an evil ideology.... ..They demand the elimination of Israel; the withdrawal of all Westerners from Muslim countries, irrespective of the wishes of people and government; the establishment of effectively Taliban states and Shariah law in the Arab world en route to one caliphate of all Muslim nations."

Dia menyatakan: "Apa yang sedang kita lawan adalah ideology setan…Mereka menuntut penghancuran Israel; penarikan mundur semua orang Barat dari Negara-negara Islam, dengan mengabaikan kemauan rakyat dan pemerintahnya; pendirian Negara-negara semacam Taliban dan hukum Syariah di dunia Arab dan berujung yang sama pada kekhalifahan untuk semua Negara-negara Muslim."


References:
http://www.nation.com.pk/daily/aug-2005/12/letters10.php


Report:
http://www.cia.gov/nic/NIC_globaltrend2020_s3.html#scen

Henry Kissinger:

http://pakobserver.net/200507/04/Articles04.asp
http://nobelprize.org/peace/laureates/1973/kissinger-bio.html

Tony Blair:

http://news.bbc.co.uk/1/hi/uk/4689363.stm
http://ummah.com/forum/showthread.php?t=50671&highlight=Caliphate

ANCAMAN BESAR BAGI YANG MELALAIKAN AMANAH

oleh Joko Tingkir pada 23 Desember 2011 pukul 9:14

بسم الله الرحمن الرحيم
5550- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الأَحْمَسِيُّ، ثنا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ زَاذَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: "إِنَّ الشَّهَادَةَ تُكَفِّرُ كُلَّ ذَنْبٍ إِلا الأَمَانَةَ، يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنْ كَانَ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَيُقَالُ: أَدِّ أَمَانَتَكَ، فَيَقُولُ: وَأَنَّى أُؤَدِّيهَا وَقَدْ ذَهَبَتِ الدُّنْيَا، فَتُمَثَّلُ لَهُ الأَمَانَةُ فِي قَعْرِ جَهَنَّمَ فَيَهْوِي إِلَيْهَا فَيَحْمِلُهَا عَلَى عَاتِقِهِ، قال: فَتَنْزِلُ عَلَى عَاتِقِهِ فَيَهْوِي عَلَى أَثَرِهَا أَبَدَ الأَبَدِ. قَالَ زَادَانُ: فَأَتَيْتُ الْبَرَّاءَ، فَحَدَّثْتُهُ، فَقَالَ: صَدَقَ أَخِي : " إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا " ". حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ،  (تفسير ابن أبي حاتم - (ج 4 / ص 215)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dalam kitab tafsirnya, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isma'il al-Ahmasiy, dari Waqi', dari Sufyan, dari Abdillah bin as-Saaib, dari  Zaazdaana, dari 'Abdulloh bin Mas'ud Radhiyallohu 'anhu, ia berkata :  

 “Ucapan syahadat menebus segala dosa,  kecuali  amanah ( yang dikhianati ),  Seorang akan didatangkan pada hari qiyamat,  meskipun dia adalah seorang yang mati di medan pertempuran ( mati  syahid  fii Sabilillah).

 Ia akan diperintahkan (dituntut oleh Allah) : “Laksanakanlah  dulu  amanah-amanahmu !!.”  

si fulan  menjawab : “ Bagaimana aku dapat melaksanakan,  padahal dunia telah fana ?

Maka diperlihatkanlah kepada-nya amanah-amanah (yang tidak dilaksanaknnya ketika seseorang masih hidup di dunia menanggung amanah ) amanah tersebut berada di dasar  neraka jahanna ( fii  qo'ri   jahannam ),

Maka terjunlah ia ke dasar jahanam untuk mengambil dan memikul amanah di pundaknya, kemudian ketika amanah telah dipikulnya hingga ke permukaan jahannam,   jatuhlah amanah tersebut ke dasar jahannam, dan dipungutnya kembali  ke atas,  demikian seterusnya.

( Hal tersebut merupakan adzab yang disediakan bagi orang-orang yang meninggalkan amanah. )

Kemudian Zaadaan berkata – aku datang kepada al-Baro', dan aku ceritakan hadits ini kepada al-Baro' ,  dia  berkomentar tentang atsar hadits ini :  Benar  wahai saudara-ku."  Lantas  al-Baro' ra, membaca  ayat, dari surat an-Nisa' : Sesungguhnya Allah Ta'aala memerintahkan kepada kalian agar menunaikan amanah, kepada yang  ditanggungnya (yang berhak menerimanya) (TQS. An-Nisa' : 58),  Demikianlah khabar yang sampai kepada kami dari 'Ali bin Husain radhiyallohu 'anhuma. (Tafsir ibnu Abi Hatim : 4/215, no: 5550 ).Komentar : "  Sayangnya ..  orang orang yang berambisi meraih jabatan,..  sebagian besar di antara mereka  tidak memahami mana mana yang wajib mana yang mubah,.. sehingga yang wajib wajib di abaikan,.. kadang yang mubah malah disegerakan,.. eh yang haram2 diramaikan.malah terkadang ada sebagian mereka pura2  tidak mau tahu mana yang urgen / wajib harus ditunaikan,.. mana mana  yang mubah - yang bisa di tunda bahkan diabaikan ?dengan berpura pura tidak tahu yang wajib wajib,  mereka merasa lepas dari penglihatan Alloh Ta'aala. tentu ini dosanya jauh lebih besar. Karena berarti ia telah meremehkan amanah Allah Subhaanahu wa Ta'aala.Nasalullohu lana wa lakum al'afiyah.

AMBISI MENCARI JABATAN

oleh Joko Tingkir pada 20 Desember 2011 pukul 10:30
CELAAN  TERHADAP  AMBISI  JABATAN

Imam Muslim meriwayatkan hal ini dal kitab shohih-nya:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ (صحيح مسلم - (ج 9 / ص 348)
Dari Abu Dzarr al-Ghifariy, ia berkata, Rasuulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :" Wahai Aba Dzarr, Sesungguhnya  aku melihatmu sebagai seseorang yang lemah,  Sungguh aku mencintai-mu sebagaimana aku mencintai diri-ku,..  Sungguh ,.. sekali kali  janganlah kamu (meminta menjadi) pejabat  meski terhadap  dua orang, dan janganlah sekali kali kamu mengelola harta anak yatim."

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا (صحيح مسلم - (ج 9 / ص 347)
Dari Abu Dzarr al-Ghifariy, ia berkata, lantas aku tanyakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Mengapa beliau tidak memberi  jabatan kepada saya, ? "  Maka,.. Beliau Saw menepuk pundak saya, kemudian Beliau bersabda :" Wahai Aba Dzarr, sesungguhnya engkau ini lemah,.. padahal jabatan itu amanah,..  di mana (amanah itu)  kelak pada hari qiyamat  merupakan suatu kehinaan dan penyesalan,..  kecuwali  bagi (pejabat) yang mendapatkan hak (amanah tersebut) dan dapat menunaikan amanah tersebut sebaik baiknya."  (Shohih Muslim : 3404 al-Maktabah asy-Syaamilah)

Setiap orang memang  memiliki  hubbus siyadah  (cinta kepada jabatan/ kekuasaan/ kepemimpinan) yang muncul dari ghorizatul baqo',.. bahkan sering kali kami, saya, anda , antum semua, mendengar  beberapa alasan dari  orang orang,..  mengapa mereka  ambisi menjadi pejabat  ???, di antaranyanya ada yang berkata :

  1. Agar terhormat di banding manusia biasa lainya.
  2. Agar mendapatkan tahta sehingga dapat dengan mudah memerintah orang lain.
  3. Dengan menjabat,.. tentu dirinya tidak sampai  diperintah orang orang yuniornya, (adik adik kelasnya)
  4. Bahkan ada juga alasan  ingin mendapatkan gaji,.. alias numpang hidup sejahtera,.. malah terkadang sifat orang orang model seperti ini,  jika  ujroh (upahnya) kurang,  ia sering minta tambah atau nawar yang lebih banyak.
  5. Malah ada yang beranggapan  bahwa alasan alasan seperti di atas itu boleh dan bisa dibenarkan,..  sembari ia mengatakan,..:
Jika seorang " PEMUDA"  TIDAK MENITI  KARIR  KE JENJANG YANG LEBIH TINGGI,..  misal dari  "karyawan" biasa lantas tahun berikutnya ia tidak ber-AMBISI ingin menjadi "MANAGER",.. lantas tahun berikutnya ia tidak ber-AMBISI ingin menjadi  "Asisten direktur",.. maka orang tersebut di-RAGU-kan  ke "PEMUDA" annya.  (Wallohi, ungkapan seperti ini ada, dan saya dengar dengan baik, saksi saksi masih hidup) ,. Ctt; telah dirubah redaksi aslinya, namun tidak mengurangi makna).
  1. Dan sejenis nya masih banyak yang sejenis dari 5 alasan di atas,..


Padahal Nabi Saw juga bersabda, yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhariy,..
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ .
Dari Abu Hurairoh ra, ia berkata, Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :" Sesungguhnya kalian ber-AMBISI  memegang suatu jabatan,.. namun jabatan itu kelak di hari kiyanat akan menjadikanya penyesalan." (shahih al-Bukhariy, : 6615)

Rasuulullah Saw juga pernah menashehati salah seorang sahabat bernama 'AbdurRahman bin Samurah ra,..  nashehat Rasuulullah Saw kepadanya itu  tentu saja berlaku nashehat buat kita juga, Sabda-nya :
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا (صحيح البخاري - (ج 20 / ص 302)
Wahai 'Abdarrahman bin Samurah,..  Janganlah kamu meminta jabatan,..  Apabila kamu diberi jabatan (bukan karena meminta)  maka kamu akan mendapat pertolongan Alloh Ta'aala dalam melaksanakan tugas tugas (amanah)..  (HR, al-Bukhariy dan Muslim)

Wallohu A'lam bish showab.


ANJING IDEOLOGIS

oleh Joko Tingkir pada 18 Juni 2011 pukul 17:05
.
Inna min ar-rijaali bahiimatan.
Fii shuuroti r-rojuli as-sami'i al-mubshiri.
Fithonun likulli mushibah fii maali-hi.
Wa idza yushoobu bi diini-hi lam yasy'ur.
(al-Hafidz ibnu 'Abdil Barr al-Andalusiy, Bahjatul Majaalis wa unsu al-Majaalis juz 1 / hal.169).

Sesungguhnya, diantara manusia itu ada yang "serupa" binatang ternak.
Di dalam menggambarkan seseorang yang mendengar dan melihat.
Yang cerdas, (cekatan, tanggap cepat) - setiap mushibah yang menimpa hartanya.
Namun (manusia yang seperti hewan tersebut) tidak sadar / tidak ngeh bila mushibah menimpa agamanya.

(he he namanya juga hewan,.. Binatang pasti tidak sadar - walau agamanya dilecehkan manusia2 kafir).

C o n t o h :

Anjing .. Anjing di lapak2 tetangga sebelah-pun dapat menjadi pelajaran...

Anjing itu anjing PENJAGA namanya.

Dengan setia ia mnjaga smua kepentingan2 milik majikanya.

Anjing itu ber-ciri2 : agresiv menyerang, menggonggong setiap ada tamu tak diundang yg mengganggu kepentingan2 Sang Majikan.

Apalgi kalo tamu2 tak di undang yg datang itu terang2 an membahayakan " ke-Pemilikan " SANG MAJIKAN,..

Memang... , ada Ke-Aneh-an pada si anjing penjaga itu,... Ia jadi bisu - Tidak MeNGgongGong - segala apapun ulah Majikan, .. Meski keJAHATan Sang Majikan nampak meNGA-NGA di depan mata- si Anjing.

Heh... Namanya juga Anjiing..

Makanya... Yang masih jd manusia - " harap maklum ".

Coba perhatikan lagi !

Meskipun ulah sang MAJIKAN tersebut, sedang merampok SDA, MenghHiNa iSLam, memukulnya, menendang-nya .. MemBunuHi saudara2-Nya...

Se anjing, anjing-nya anjing - dia diem aja.. Jika perlu si anjing purak2 tdk tahu segala ulah SANG MAJIKAN.. Sebab kalo Anjing2 piaraan itu MenGonGGong-i Sang MajikAn - bisa jadi 2014 tidak dapat KuRsi.

Maka si Anjing2 penjaga itu sambil menutup mata, ia tetap sibuk meng-halau tamu " PENDATANG " yg mengganggu / membahayakan kepentingan2 Tuan-nya.

Itu karena SANG MAJIKAN telah mem-Format isi kepala si anjing .. Agar terus menerus sibuk menGGongGong meng-halau musuh2 ideoloGis sang Majikan-nya.

Makanya . . . Karena si Anjing tersebut se ideoloGis dengan tuan-nya ,.. Dan lagipula anjing tersebut menutup mata konspirasi Jahat tuanya yg menjajah, merampok, memBuNuh-hi saudaranya,.. malah menGgonggong-ngi musuh2 Majikanya,.. Maka....


Sekarang,.. Anjing Tetangga itu saya beri nama :" ANJING IDEOLOGIS ".

Ulama adalah Pewaris Nabi


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu), Para ulama semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Simak risalah ini selanjutnya.
Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”
Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60)
Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:
مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ
Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”
Kita telah mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan kaum muslimin dan dalam perjalanan kaum muslimin menuju Rabb mereka. Semua ini disebabkan mereka sebagai satu-satunya pewaris para nabi sedangkan para nabi tidak mewariskan sesuatu melainkan ilmu.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Ilmu merupakan warisan para nabi dan para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, akan tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan ilmu tersebut, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi tersebut. Dan engkau sekarang berada pada kurun (abad, red) ke-15, jika engkau termasuk dari ahli ilmu engkau telah mewarisi dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ini termasuk dari keutamaan-keutamaan yang paling besar.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 16)
Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ
Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)
Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577)
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83)
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: Maknanya adalah: “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu… dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para shahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” (Fathul Qadir, hal. 1418)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)
Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali mengatakan: “Kebijaksanaan Allah atas makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas mereka. Maka barang siapa yang mendapat hidayah maka itu wujud fadhilah (keutamaan) dari Allah dan bentuk rahmat-Nya. Barangsiapa yang menjadi tersesat, maka itu dengan keadilan Allah dan hikmah-Nya atas orang tersebut. Sungguh para pengikut nabi dan rasul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal shalih pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka. Sungguh Allah telah menegakkan hujjah melalui mereka atas setiap umat dan suatu kaum dan Allah merahmati dengan mereka suatu kaum dan umat. Mereka pantas mendapatkan pujian yang baik dari generasi yang datang sesudah mereka dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kejujuran dan doa-doa yang barakah atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya atas mereka dan semoga mereka mendapatkan balasan yang lebih dan derajat yang tinggi.” (Al-Manhaj Al-Qawim fi At-Taassi bi Ar-Rasul Al-Karim hal. 15)
Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin. Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya. Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 140)
Ulama Pelita dalam Kegelapan
Waktu senantiasa mengikuti perjalanan umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang. Hari demi hari, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Sungguh, melihat keadaan umat ini sekarang, benar-benar membuat hati pilu dan dada sesak.
Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.
Dulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik umat memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakan-akan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”
Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan mereka. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.
Di masa-masa sekarang ini, gambaran kebenaran menjadi kejahatan yang harus dilabrak dan dihanguskan, sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bid’ah yang harus di kubur dan dimumikan. Tauhid menjadi lambang kesyirikan yang harus ditumbangkan dengan segala cara. Situasi dan kondisi kini telah berubah. Para pengikut kebenaran menjadi asing di tengah-tengah kaum muslimin. Kebatilan menjadi Al-Haq dan Al-Haq menjadi batil, berikut terasingnya orang yang bertauhid dan mengikuti sunnah. Di sinilah letak ‘kehebatan’ para penyesat dalam mengubah kebenaran hakekat agama, sehingga kaum muslimin menjalankan agama ini bagaikan robot yang berjalan membawa anggota badannya.
Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak akan membiarkan para pelaku dan penyebar kesesatan itu merusak agama dan menyesatkan mereka secara menyeluruh. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji di dalam Kitab-Nya dan di dalam Sunnah Rasul-Nya untuk menjaga agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْناَ الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لحَاَفِظُوْنَ
Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Ad-Dzikri (Al-Qur’an) dan Kami pula yang menjagannya.” (Al-Hijr: 9)
يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِئُوا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُوْرِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
Mereka berkeinginan memadamkan cahaya (Agama) Allah dan Allah tetap akan menyempurnakannya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (Ash-Shaff: 8)
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk Allah menangkan atas seluruh agama.” (Ash-Shaff: 9)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada Khabbab bin Art radhiallahu ‘anhu:
وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا اْلأَمْرَ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعاَءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخاَفُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ
Demi Allah, Allah akan benar-benar menyempurnakan urusan-Nya (agama) sehingga orang yang berkendaraan dari Shan’a1 menuju Hadhramaut (Yaman) tidak takut melainkan hanya kepada Allah atau kepada serigala yang akan menerkam kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhari)
Bentuk pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap agama-Nya
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Segala puji bagi Allah, tidaklah seseorang melakukan kebid’ahan melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pemberian nikmat-Nya membangkitkan orang yang akan membongkar kebid’ahan tersebut dan akan melumatkan dengan kebenaran. Dan ini merupakan perwujudan dari firman-Nya: “Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Adz-Dzikr dan Kami pula yang akan menjaganya.” Inilah bentuk pemeliharaan Allah terhadapnya.” (Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 25)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهاَ دِيْنَهاَ
Sesungguhnya Allah akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama umat ini.” (HR. Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1874)
Dari sini diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kemurniaan agama-Nya dari rongrongan para perusak agama dengan mengangkat ulama pada tiap generasi yang akan menjadi pembimbing umat ini.
Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah mengatakan: “Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Apabila muncul, manusia akan diterangi jalannya dan bila gelap manusia akan mengalami kebingungan.” (Tadzkiratus Sami’, hal 34)
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan: “Telah sampai kepada kami bahwa Abu Dawud adalah termasuk ulama dari ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya sehingga sebagian imam mengatakan bahwa Abu Dawud serupa dengan Ahmad bin Hanbal dalam hal bimbingan dan kewibawaan. Dalam hal ini Ahmad menyerupai Waki’, dalam hal ini pula Waki’ menyerupai Sufyan dan Sufyan menyerupai Manshur dan Manshur menyerupai Ibrahim, Ibrahim serupa dengan ‘Alqamah dan ‘Alqamah dengan Abdullah bin Mas’ud. ‘Alqamah berkata: “Ibnu Mas’ud menyerupai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bimbingan dan arahannya.” (Tadzkiratul Huffadz, 2/592, lihat Wujub Irtibath bil ‘Ulama karya Hasan bin Qashim Ar-Rimi)
Dalam setiap generasi dan jaman, Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih sejumlah orang yang dikehendaki-Nya sebagai pelita dan lentera kegelapan dan perahu dalam mangarungi lautan yang diliputi guncangan ombak dahsyat sebagai tali penghubung antara diri-Nya dengan para hamba-Nya. Sebagai penunjuk jalan dan pemandu dalam perjalanan setiap insan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka adalah ulama.
Kedudukan Ulama
Permbahasan ulama, kedudukan mereka dalam agama berikut di hadapan umat, merupakan permasalahan yang menjadi bagian dari agama. Mereka adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabbnya, agama dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun umat kepada cinta dan ridha Allah, menuju jalan yang dirahmati yaitu jalan yang lurus. Oleh karena itu ketika seseorang melepaskan diri dari mereka berarti dia telah melepaskan dan memutuskan tali yang kokoh dengan Rabbnya, agama dan Rasul-Nya. Ini semua merupakan malapetaka yang dahsyat yang akan menimpa individu ataupun sekelompok orang Islam. Berarti siapapun atau kelompok mapapun yang mengesampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.
Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam muqaddimah kitab Akhlaq Al-Ulama mengatakan: “Amma ba’du, sesungguhnya Allah dengan nama-nama-Nya yang Maha Suci telah mengkhususkan beberapa orang dari makhluk yang dicintai-Nya lalu menunjuki mereka kepada keimanan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memilih dari seluruh orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang dicintai-Nya dan setelah itu memberikan keutamaan atas mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, mengajarkan kepada mereka ilmu agama dan tafsir Al-Qur’an yang jelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala utamakan mereka di atas seluruh orang-orang yang beriman pada setiap jaman dan tempat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat mereka dengan ilmu, menghiasi mereka dengan sikap kelemahlembutan. Dengan keberadaan mereka, diketahui yang halal dan haram, yang hak dan yang batil, yang mendatangkan mudharat dari yang mendatangkan manfaat, yang baik dan yang jelek. Keutamaan mereka besar, kedudukan mereka mulia. Mereka adalah pewaris para nabi dan pemimpin para wali. Semua ikan yang ada di lautan memintakan ampun buat mereka, malaikat dengan sayap-sayapnya menaungi mereka dan tunduk. Para ulama pada hari kiamat akan memberikan syafa’at setelah para Nabi, majelis-majelis mereka penuh dengan ilmu dan dengan amal-amal mereka menegur orang-orang yang lalai.
Mereka lebih utama dari ahli ibadah dan lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang zuhud. Hidup mereka merupakan harta ghanimah bagi umat dan mati mereka merupakan musibah. Mereka mengingatkan orang-orang yang lalai, mengajarkan orang-orang yang jahil. Tidak pernah terlintas bahwa mereka akan melakukan kerusakan dan tidak ada kekhawatiran mereka akan membawa menuju kebinasaan. Dengan kebagusan adab mereka, orang-orang yang bermaksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Dan dengan nasihat mereka, para pelaku dosa bertaubat.
Seluruh makhluk butuh kepada ilmu mereka. Orang yang menyelisihi ucapan mereka adalah penentang, ketaatan kepada mereka atas seluruh makhluk adalah wajib dan bermaksiat kepada mereka adalah haram. Barangsiapa yang mentaati mereka akan mendapatkan petunjuk, dan barang siapa yang memaksiati mereka akan sesat. Dalam perkara-perkara yang rancu, ucapan para ulama merupakan landasan mereka berbuat. Dan kepada pendapat mereka akan dikembalikan segala bentuk perkara yang menimpa pemimpin-pemimpin kaum muslimin terhadap sebuah hukum yang tidak mereka ketahui. Maka dengan ucapan ulama pula mereka berbuat dan kepada pendapat ulama mereka kembali.
Segala perkara yang menimpa para hakim umat Islam maka dengan hukum para ulama-lah mereka berhukum, dan kepada ulama-lah merekalah kembali. Para ulama adalah lentera hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, lambang2 sebuah negara, lambang kekokohan umat, sumber ilmu dan hikmah, serta mereka adalah musuh syaithan. Dengan ulama akan menjadikan hidupnya hati para ahli haq dan matinya hati para penyeleweng. Keberadaan mereka di muka bumi bagaikan bintang-bintang di langit yang akan bisa menerangi dan dipakai untuk menunjuki jalan dalam kegelapan di daratan dan di lautan. Ketika bintang-bintang itu redup (tidak muncul), mereka (umat) kebingungan. Dan bila muncul, mereka (bisa) melihat jalan dalam kegelapan.”
Dari ucapan Al-Imam Al-Ajurri di atas jelas bagaimana kedudukan ulama dalam agama dan butuhnya umat kepada mereka serta betapa besar bahayanya meninggalkan mereka.
Dalil-dalil tentang keutamaan ilmu dan ulama
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ
Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu ke beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “(Kedudukan) ulama berada di atas orang-orang yang beriman sampai 100 derajat, jarak antara satu derajat dengan yang lain seratus tahun.” (Tadzkiratus Sami’, hal. 27)
2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِصْطِ
Allah telah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia dan para malaikat dan orang yang berilmu (ikut mempersaksikan) dengan penuh keadilan.” (Ali ‘Imran: 18)
Al-Imam Badruddin rahimahullah berkata: “Allah memulai dengan dirinya (dalam persaksian), lalu malaikat-malaikat-Nya, lalu orang-orang yang berilmu. Cukuplah hal ini sebagai bentuk kemuliaan, keutamaan, keagungan dan kebaikan (buat mereka).” (Tadzkiratus Sami’, hal 27)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang keutamaan ilmu dan ulama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka secara khusus dari manusia lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian diri-Nya dan malaikat-malaikat-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan persaksian mereka (ulama) sebagai bukti besar tentang ketauhidan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agama, dan balasan-Nya. Dan wajib atas setiap makhluk menerima persaksian yang penuh keadilan dan kejujuran ini. Dan dalam kandungan ayat ini pula terdapat pujian kepada mereka (ulama) bahwa makhluk harus mengikuti mereka dan mereka (para ulama) adalah imam-imam yang harus diikuti. Semua ini menunjukkan keutamaan, kemuliaan dan ketinggian derajat mereka, sebuah derajat yang tidak bisa diukur.” (Tafsir As-Sa’di, hal 103).
Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Di dalam ayat ini ada dalil tentang keutamaan ilmu dan kemuliaan ulama. Maka jika ada yang lebih mulia dari mereka, niscaya Allah akan menggandengkan nama mereka dengan nama–Nya dan nama malaikat-malaikat-Nya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan nama ulama.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/27)
3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Katakan (wahai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (Az-Zumar: 9)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan unsur kesamaan antara ulama dengan selain mereka sebagaimana Allah menafikan unsur kesamaan antara penduduk surga dan penduduk neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakan, tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (Az-Zumar: 9), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Tidak akan sama antara penduduk neraka dan penduduk surga.” (Al-Hasyr: 20). Ini menunjukkan tingginya keutamaan ulama dan kemuliaan mereka.” (Miftah Dar As-Sa’adah, 1/221)
4. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
Maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir (ahlinya/ ilmu) jika kalian tidak mengetahui.” (An-Naml: 43)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mengetahui untuk kembali kepada mereka (ulama) dalam segala hal. Dan dalam kandungan ayat ini, terdapat pujian terhadap ulama dan rekomendasi untuk mereka dari sisi di mana Allah memerintahkan untuk bertanya kepada mereka.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 394)
5. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ
Dan tidak ada yang mengetahuinya (perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah) melainkan orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan: “Melainkan orang-orang yang berilmu secara benar di mana ilmunya sampai ke lubuk hatinya.” (Tafsir As-Sa’di, hal 581)
6. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمآءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya aku mengira bahwa terlupakannya ilmu karena dosa, kesalahan yang dilakukan. Dan orang alim itu adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hal. 28)
Abdurrazaq mengatakan: “Aku tidak melihat seseorang yang lebih bagus shalatnya dari Ibnu Juraij. Dan ketika melihatnya, aku mengetahui bahwa dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hal 28)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa mereka (para ulama) adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan mereka dari mayoritas orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28). Ayat ini merupakan pembatasan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah ulama.” (Miftah Dar As-Sa’adah 1/225)
7. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهً عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Ganjaran mereka di sisi Allah adalah jannah Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah, demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-Bayyinah: 8)
Badruddin Al-Kinani rahimahullah berkata: “Kedua ayat ini (Fathir ayat 28 dan Al-Bayyinah ayat 8) mengandung makna bahwa ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang-orang yang takut kepada Allah adalah sebaik-baik manusia. Dari sini disimpulkan bahwa ulama adalah sebaik-baik manusia.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 29)
Ucapan yang serupa dan semakna dibawakan oleh Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Miftah Dar As-Sa’adah, jilid 1 hal. 225.
8. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan mengajarkannya ilmu agama.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Hadits ini menunjukkan, barangsiapa yang tidak dijadikan Allah faqih dalam agama-Nya, menunjukkan bahwa Allah tidak mengijinkan kepadanya kebaikan.” (Miftah Dar As-Sa’adah, 1/246)
9. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)
Badruddin Al-Kinani rahimahullah mengatakan: “Cukup derajat ini menunjukkan satu kebanggaan dan kemuliaan. Dan martabat ini adalah martabat yang tinggi dan agung. Sebagaimana tidak ada kedudukan yang tinggi daripada kedudukan nubuwwah, begitu juga tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan pewaris para nabi.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 29)
Dan masih banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang kedudukan mereka dalam agama dan peran mereka dalam kehidupan umat.
Wallahu a’lam.
1 Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Shan’a di Syam, dan sebagian yang lain mengatakan Shan’a di Yaman. Adapun Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang kedua, yaitu yang dimaksud adalah Shan’a di Yaman.
Dikutip dari http://asysyariah.com Penulis : Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi Judul: Ulama Pewaris nabi

Ulama Ahlus Sunnah Ahlul Hadits dari Zaman Sahabat hingga Sekarang

Posted by Admin pada 21/07/2009
Pepatah mengatakan “Tak Kenal maka Tak Sayang“. Mari kita mengenal para ‘Ulama Ahlus sunnah (Ahlulhadits) dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur :

  • 1. Khalifah ar-Rasyidin :

  • • Abu Bakr Ash-Shiddiq

  • • Umar bin Al-Khaththab

  • • Utsman bin Affan

  • • Ali bin Abi Thalib

  • 2. Al-Abadillah : Para Sahabat

  • • Ibnu Umar

  • • Ibnu Abbas

  • • Ibnu Az-Zubair

  • • Ibnu Amr

  • • Ibnu Mas’ud

  • • Aisyah binti Abubakar

  • • Ummu Salamah

  • • Zainab bint Jahsy

  • • Anas bin Malik

  • • Zaid bin Tsabit

  • • Abu Hurairah

  • • Jabir bin Abdillah

  • • Abu Sa’id Al-Khudri

  • • Mu’adz bin Jabal

  • • Abu Dzarr al-Ghifari

  • • Sa’ad bin Abi Waqqash

  • • Abu Darda’

  • 3. Para Tabi’in :

  • • Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H

  • • Urwah bin Zubair wafat 99 H

  • • Sa’id bin Jubair wafat 95 H

  • • Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H

  • • Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H

  • • Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H

  • • Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H

  • • Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq

  • • Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H

  • • Muhammad bin Sirin wafat 110 H

  • • Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H

  • • Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H

  • • Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H

  • • Ikrimah wafat 105 H

  • • Asy Sya’by wafat 104 H

  • • Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H

  • • Aqamah wafat 62 H

  • 4. Para Tabi’ut tabi’in :

  • • Malik bin Anas wafat 179 H

  • • Al-Auza’i wafat 157 H

  • • Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H

  • • Sufyan bin Uyainah wafat 193 H

  • • Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H

  • • Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H

  • • Abu Hanifah An-Nu’man wafat 150 H

  • 5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:

  • • Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H

  • • Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H

  • • Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H

  • • Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H

  • • Imam Syafi’i wafat 204 H

  • 6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :

  • • Ahmad bin Hambal wafat 241 H

  • • Yahya bin Ma’in wafat 233 H

  • • Ali bin Al-Madini wafat 234 H

  • • Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H

  • • Ibnu Rahawaih Wafat 238 H

  • • Ibnu Qutaibah Wafat 236 H

  • 7. Kemudian murid-muridnya seperti:

  • • Al-Bukhari wafat 256 H

  • • Muslim wafat 271 H

  • • Ibnu Majah wafat 273 H

  • • Abu Hatim wafat 277 H

  • • Abu Zur’ah wafat 264 H

  • • Abu Dawud : wafat 275 H

  • • At-Tirmidzi wafat 279

  • • An Nasa’i wafat 234 H

  • 8. Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah:

  • • Ibnu Jarir ath Thabary wafat 310 H

  • • Ibnu Khuzaimah wafat 311 H

  • • Muhammad Ibn Sa’ad wafat 230 H

  • • Ad-Daruquthni wafat 385 H

  • • Ath-Thahawi wafat 321 H

  • • Al-Ajurri wafat 360 H

  • • Ibnu Hibban wafat 342 H

  • • Ath Thabarany wafat 360 H

  • • Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H

  • • Al-Lalika’i wafat 416 H

  • • Al-Baihaqi wafat 458 H

  • • Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H

  • • Ibnu Qudamah Al Maqdisi wafat 620 H

  • 9. Murid-Murid Mereka :

  • • Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H

  • • Ibnu Taimiyah wafat 728 H

  • • Al-Mizzi wafat 742 H

  • • Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H)

  • • Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)

  • • Ibnu Katsir wafat 774 H

  • • Asy-Syathibi wafat 790 H

  • • Ibnu Rajab wafat 795 H

  • 10. Ulama Generasi Akhir :

  • • Ash-Shan’ani wafat 1182 H

  • • Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H

  • • Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H

  • • Al-Mubarakfuri wafat 1427 H

  • • Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H

  • • Ahmad Syakir wafat 1377 H

  • • Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H

  • • Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H

  • • Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H

  • • Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H

  • • Hammad Al-Anshari wafat 1418 H

  • • Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H

  • • Muhammad Al-Jami wafat 1416 H

  • • Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H

  • • Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat 1423 H

  • • Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah

  • • Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah

  • • Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah

  • Sumber: Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama dengan sedikit tambahan
     Catatan Joko Tingkir

    ORANG ORANG KAFIR AMAT FAHAM SEKALIGUS KETAKUTAN AKAN BAHAYA KHILAFAH ISLAM BAGI PENJAJAHAN MEREKA DI DUNIA ISLAM
                                                                                                                     

    1. Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris, 1924

    Lord Curzon, who was the British Foreign Secretary back in 1924. After t...
    Top of Form
    o     
    Bottom of Form
    Oleh Joko Tingkir · 18 Juni 2011
    .
    Inna min ar-rijaali bahiimatan.
    Fii shuuroti r-rojuli as-sami'i al-mubshiri.
    Fithonun likulli mushibah fii maali-hi.
    Wa idza yushoobu bi diini-hi lam yasy'ur.
    ...
    Top of Form

    Bottom of Form
    Oleh Joko Tingkir · 23 Mei 2011
    Copas dari Media Ummat
    Mu'tashim Perhatian Kepada Rakyatnya.
    Ada qadhiyyah mashiriyyah lain dalam sejarah kekehilafahan al-Mu'tashim, yang hingga kini masih dikenang oleh umat Islam. Kisah penaklukan kota Amuriyyah, yang nota bene merupakan kota terpenting bagi imperium Romawi, selain Konstantinople.
    ...
    Top of Form
      Bottom of Form
      Oleh Joko Tingkir · 19 April 2011
      Mujahid Pena
      -*- HINAKAH AKHWAT MENGKHITBAH IKHWAN ? -*-
      by: Imatuzzahra Al Hurun'in
      ...
      Top of Form

      Bottom of Form
      Oleh Joko Tingkir · 24 Maret 2011
      HUKUM  LIBERALISASI  MIGAS  HARAM
      Dinuqil  oleh  Abu Hanifah dari materi DSA

      بسم الله الرحمن الرحيم
      NASHEHAH
      وعن جابر بن عبد الله رضى الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال لكعب بن عجرة: أعاذك الله من إمارة السفهاء، قال: وما إمارة السفهاء؟ قال: "أمراء يكونون بعدي، لا يهتدون بهدي، ولا يستنون بسنتي، فمن صدقهم بكذبهم، وأعانهم على ظلمهم، فأو...
      Top of Form

        Bottom of Form
        Oleh Joko Tingkir · 24 Maret 2011
         MANUSIA  SYETAN  ATAU  SYETAN MANUSIA ?
        Kata Syaithoon, / " setan "  ada dua pengertian :
        Pengertian pertama :
        Makna Lafadz " Sya-i-tho-nun"  secara gramatika,; dengan nun ashliyah pada wazan fa-i-'aa-lun ( yang akar katanya: sya-tho-na) maknanya adalah  = al-ba'iid, = " jauh "
        Pengertian ke dua :
        Kata:  sya-i-tho-nun dengan ya'   ashliyah sementara nu...
        Top of Form

        Bottom of Form
        Oleh Joko Tingkir · 2 September 2010
        Pemateri : Abu Hanifah

        Allaahu tabaraka wa ta'aala berfirman :
         إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
        Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Q...
        Top of Form


        Related Posts by Categories

        Tidak ada komentar:

        Poskan Komentar