Spirit Kebangkitan Ummat

Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) “Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim). “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi) Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma(Italia). Rasulullah SAW bersabda: ”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Rabu, 28 Desember 2011

Barat Membuat Rencana Untuk Menunda Kembalinya Khilafah

Barat Membuat Rencana Untuk Menunda Kembalinya Khilafah

Kantor Media Hizbut Tahrir
Wilayah Yaman
No          : H.T.Y 103
Tanggal : 21 Desember 2011/26 Muharram 1433 H

Keterangan Pers
Barat Kapitalis Tidak Kuasa Menghadapi Islam dan Membuat Rencana-Rencana Untuk Menunda Kembalinya Khilafah
Surat kabar Akhbar al-Yawm yang terbit di Yaman pada hari Selasa (13/12) lalu mengutip dari kantor berita AFP Prancis sebuah laporan tentang bangkitnya aktivis Islam ke tampuk pemerintahan. Di dalamnya dinyatakan ucapan Muhammad Qahthan anggota Panel Tinggi Perkumpulan Yaman untuk Reformasi yang memiliki orientasi islami. Ia mengatakan: “bahwa partainya yang dibentuk pasca penyatuan Yaman pada tahun 1990 tidak mengusung slogan “Islam adalah solusi” seperti halnya Ikhwan di Mesir. Partainya juga tidak memiliki agenda politik Islami. Sebab Yaman adalah negeri muslim dan harmonis”. Sebagaimana ia juga berniat untuk terus dalam koalisinya dengan orang-orang kiri dan nasionalis. Qahthan juga mengatakan, “kubu manapun di Yaman tidak bisa mencirikan diri dengan Islam ataupun kearaban. Kami adalah masyarakat yang seluruhnya muslim dan kami meyakini bahwa kami keturunan Arab dan kubu manapun tidak bisa menarik masyarakat melalui slogan-slogan “Islam adalah solusi”. Masalah Islam di negara tidak jadi masalah di Yaman”.
Perhatian yang ditunjukkan oleh barat baik Amerika dan Eropa, seputar siapa yang akan menjadi penguasa baru di negeri Islam ini, menunjukkan dengan jelas akan kekhawatiran barat terhadap munculnya entitas politis kaum Muslim “al-Khilafah” setelah dahulu barat berhasil menghancurkannya dengan bantuan para pengkhianat dari kaum Muslim. Kekhawatiran itu muncul khususnya setelah berlalu sepuluh tahun sejak diluncurkannya perang salib terhadap kaum Muslim pada tahun 2001 dan ketidakmampuan Barat meraih kemenangan dalam perang tersebut. Problem-problem intelektual barat makin kusut di hadapan ide-ide Islam dengan makin meningkatnya keyakinan para pengikut barat atas ketidakbenaran ideologi kapitalisme. Juga masalah ekonomi dengan krisis-krisisnya yang berturut-turut dan akut, krisis “Dolar dan Euro”, disamping problem-problem lainnya yang mengancam kapitalisme akan lenyap.
Barat mulai melakukan tindakan paling keji dan mengeluarkan permainan politik paling akhirnya dengan menerima sampainya “Islam moderat” yakni sampainya aktivis Islam ke pemerintahan tanpa sampainya Islam ke pemerintahan. Itu adalah upaya untuk melanggengkan hegemoninya atas dunia Islam. Hillary Clinton menteri luar negeri AS dalam pernyataannya pada tanggal 8 November silam mengatakan ucapan untuk persiapan hal itu “mempromosikan tidak adanya penerimaan terhadap demokrasi pada diri aktivis Islam yang taat sebagai perkara yang salah”. Juga ucapan Jonathan Wilks duta besar Inggris untuk Yaman pada tanggal 7 Oktober silam mengatakan, “Inggris dari sisi doktrin tidak menentang adanya kelompok Islami dari “Ikhwan” atau kelompok lain yang menerima demokrasi, partisipasi dan menghormati pandangan pihak lain”.
Sampainya Islam ke pemerintahan itu berarti akan menyapu semua sistem hidup kapitalisme yang sedang eksis di negeri-negeri Islam baik pemerintahan, ekonomi, hubungan-hubungan internasional, politik pendidikan, tata pergaulan dan lainnya, serta diganti dengan sistem-sistem Islam yang dibangun diatas hukum-hukum syara’ yang digali dari al-Kitab, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas.
Daulah al-Khilafah adalah sistem pemerintahan satu-satunya yang akan menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara revolusioner dan menyeluruh. Daulah al-Khilafah itu sangat jelas bagi orang-orang yang berjuang menegakkannya. Sebaliknya, barat sangat mengkhawatirkannya. Barat tidak lain terus menerus menghalangi kemunculannya dengan berbagai rencana dan strategi yang terbuka. Akan tetapi barat tidak akan kuasa menghalangi kemunculannya. Dan pada akhirnya barat akan berinteraksi dengan daulah al-Khilafah di pentas internasional secara terpaksa, setelah ideologi manusia baik sosialisme maupun kapitalisme menjerumuskan ke kebinasaan. Al-Khilafah akan meliputi seluruh permukaan bumi. Maka barat yang kalah jangan sampai bisa mempedaya Anda. Jangan menyerah kepada rencana-rencana barat dan mengekor di belakangnya. Percayalah bahwa Allah pasti menolong Anda jika Anda menaati perintah-perintahNya dan Anda memenuhi seruanNya dengan mengembalikan hukumnya ke atas muka bumi. Berjuanglah bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan daulah al-Khilafah. Rasulullah saw bersabda:
« لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَلاَ يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزٍّ عَزِيزٍ يُعِزُّ بِهِ الإِسْلاَمَ أَوْ ذُلٍّ ذَلِيلٍ يُذِلُّ بِهِ الْكُفْرَ»
Urusan (agama) ini pasti akan mencapai apa yang dicapai oleh malam. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun baik di kota maupun di kampung kecuali Allah memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan Zat yang Maha Mulia yang dengannya Dia muliakan Islam atau dengan kehinaan orang yang hina yang dengannya Dia hinakan kekufuran


500.000 Salinan Rancangan Konstitusi Islam Disebar Di Tunisia, Ribuan Hadiri Rapat Umum Membahas Konstitusi Khilafah

Sekitar 500.000 salinan rancangan Konstitusi Islam telah disebarkan ke seluruh penjuru Tunisia. Selama beberapa pekan terakhir para pemuda Hizbut Tahrir secara masif telah menggelar sosialisasi konstitusi Khilafah di berbagai tempat di negeri cikal bakal revolusi dunia Arab tersebut.
Agenda dakwah terus digelar, mulai dari berbagai event hingga pertemuan-pertemuan. Sekitar 1000 orang menghadiri rapat umum yang membahas Rancangan Konstitusi Islam yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, pembebasan negeri-negeri Muslim, pergolakan Arab dan persatuan umat Islam, Ahad, 25 Desember 2011.
Acara yang digelar secara terbuka di lapangan terbuka di Sakrah, dihadiri oleh kaum Muslim yang telah berkumpul sejak pagi hari. Acara dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran.
Sebelum pembahasan, beberapa nasyid, nyanyian dan yel-yel digelorakan menyerukan penegakkan Khilafah. Para peserta berkali-kali menyambut seruan dengan meneriakkan yel-yel “Wahai Tunis, Khilafah solusi”, atau “Bukan timur, bukan barat, al-Khilafah Islamiyah” dan “Al-ummah turid khilafah islamiyah” (Umat ingin Khilafah Islamiyah).
Pembicara Muhammad Ali bin Hussein, anggota Kantor Informasi Hizbut Tahrir membahas pondasi bagi konstitusi, yaitu Islam dan agama Islam. Sementara Jurubicara Hizbut Tahrir Tunisia Ridla Belhadj membahas beberapa pasal dari rancangan konstitusi dan menyerukan rakyat Tunisia untuk kembali kepada Islam dan cara hidup yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah, satu-satunya sumber konstitusi. Belhadj juga menjelaskan bahwa para penentang gagasan Khilafah dengan para pendukungnya sangat jelas seperti benang putih dan garis hitam.
Sejumlah kitab (buku) yang terkait masalah Khilafah dipamerkan, seperti kitab “Mafahim Hizbut Tahrir”, “Struktur Daulah Khilafah dalam Pemerintahan dan Administrasi”, “Sistem Pergaulan dalam Islam”, dan kitab-kitab lainnya. Dipamerkan juga kliping majalah “Al-Khilafah” yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir pada tahun 1990.
Hizbut Tahrir sangat aktif di Tunisia untuk menyeru kaum Muslim kembali bersatu di bawah naunggan Khilafah. Belakangan, Hizbut Tahrir Tunisia mengeluarkan sebuah nasyroh yang berjudul “Anda Orang Pertama yang Mencabut Orang-orang Zalim… Maka Jadilah Orang Pertama yang Menegakkan Agama”.
“Wahai warga kami di Tunisia: saudara-saudara kami …jadilah bersama kami diatas metode Rasulullah saw, berpegang kepada Islam, berjuang untuk mewujudkan persiapan dan pondasi untuk daulah Islam … Daulah al-Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah yang telah disampaikan kabar gembiranya oleh Rasul saw. Negara itu dari hari kita sekarang ini telah begitu dekat,” tegasnya. (syabab.com, 28/12/2011)


Menghitung Hari Keruntuhan Ekonomi Eropa

Eropa menjelaskan bahwa umur perekonomiannya tinggal beberapa minggu saja. Di mana, mantan Ketua Dana Moneter Internasional (IMF), Dominique Strauss-Kahn mengatakan kepada Financial Times pada saat konferensi pers yang diadakan di Beijing bahwa “Kepercayaan investor terhadap para pemimpin Eropa terus menurun hari demi hari.”
Mantan Ketua IMF itu mengatakan bahwa rencana penyelamatan dengan (640 miliar euro), yang sedang dikerjakannya berjalan dengan sangat lambat, karena memerlukan persetujuan dari semua parlemen di negara-negara kawasan euro, dan prosedur ini akan memakan waktu sekitar dua bulan.
Strauss juga menyatakan tentang keraguan seputar perjanjian fiskal baru untuk Eropa yang sedang ditentang oleh Jerman.
Perjanjian itu mengharuskan semua negara anggota untuk tidak melampaui batas defisit 3% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara itu. Sementara negara yang melebihi persentase ini akan didenda. Ketika Strauss ditanya: “Apa yang akan terjadi jika negara menolak untuk membayar denda?” Ia menjawab: “Tidak apa-apa.” (kantor berita HT, 27/12/2011).

Bahaya Perusakan Aqidah di balik Peringatan Natal Bersama dan Tahun Baru

[Al Islam 587] Dalam sepekan ini, mengemuka kembali seruan-seruan untuk mengucapkan selamat natal atau bahkan ikut berpartisipasi dalam perayaan natal baik hadir dalam perayaan di gereja, atau menjadi panitia dalam perayaan natal bersama, dsb. Bahkan sebagian tokoh mencontohkan langsung dengan menghadiri atau menjadi panitia perayaan natal bersama.
Dibalik seruan natal bersama, dsb, disengaja atau tidak, ada pesan jahat. Ketika berpartisipasi dalam natal bersama, dsb itu dianggap sebagai wujud toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Seolah dengan mudah bisa disimpulkan, bahwa yang tidak ikut atau bahkan menolaknya, adalah orang yang tidak toleran dan tidak mau rukun dengan umat agama lain. Tentu kesimpulan seperti itu terlalu menyederhanakan masalah.
Hukum Muslim Merayakan Natal
Hukum merayakan natal maupun perayaan keagamaan umat lain bagi seorang muslim sebenarnya sudah jelas yaitu haram. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Dan orang-orang yang tidak menghadiri/menyaksikan az-zûr, dan apabila mereka melewati al-laghwu (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna), mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS al-Furqan [25]: 72).
Mayoritas mufassir, memaknai kata az-zûr di sini adalah syirik (Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, iv/89). Sementara Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, memaknai az-zûr itu adalah hari raya kaum Musyrik (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, iii/1346).
Sedangkan kata lâ yasyhadûna, menurut jumhur ulama’ bermakna yahdhurûna az-zûr -tidak menghadirinya- (Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, iv/89). Makna inilah yang lebih tepat sesuai dengan konteks kalimat ayat tersebut, sebab frase Allah menyatakan (artinya): “dan apabila mereka melewati al-laghwu (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna), mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS al-Furqan [25]: 72).
Dengan demikian, keseluruhan ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka tidak menghadiri az-zûr. Dan jika mereka melewatinya, maka mereka segera melaluinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun oleh nya (lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, juz 3, hal. 1346).
Berdasarkan ayat ini, banyak fuqaha’ yang menyatakan haramnya menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Kaum Muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani. ” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, hal.201).
Anas ra menceritakan bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan -hari Nayruz dan Mihrajan- maka beliau pun bersabda:
« قَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ »
Sungguh Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik yaitu : Idul Adha dan idul Fithri (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i dengan sanad yang shahih).
Mengomentari hadis ini, di dalam Faydh al-Qadîr (iv/551) disebutkan: “di dalamnya terdapat dalil bahwa mengagungkan hari Nairuz dan al-Mihrajan dan semisalnya -yakni hari raya kaum kafir- adalah terlarang”. Ibn Hajar al-‘Ashqalani juga mengomentari, “darinya diistinbath terlarangnya bergembira di hari-hari raya kaum musyrik dan menyerupai mereka. Bahkan syaikh al-Kabir Abu Hafash an-Nasafi dari Hanafiyah sampai mengatakan : “siapa saja yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari raya mereka itu sebagai pengagungan terhadap hari itu maka dia telah kafir kepada Allah SWT” (Fath al-Bari, 2/442).
Imam Baihaqiy telah menuturkan sebuah riwayat dengan sanad shahih dari ‘Atha’ bin Dinar, bahwa Umar ra pernah berkata:
لَا تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الْأَعَاجِمِ وَلَا تَدْخُلُوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِي كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ
Janganlah kalian mempelajari jargon-jargon orang-orang Ajam. Janganlah kalian memasuki kaum Musyrik di gereja-gereja pada hari raya mereka. Sesungguhnya murka Allah SWT akan turun kepada mereka.
Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum muslim diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, hal.201). Tidak ada seorang sahabat pun yang mengingkari larangan Umar tersebut. Hal itu menunjukkan para sahabat bersepakat, haram terlibat dalam perayaan hari raya kaum kafir.
Begitulah, Islam telah melarang umatnya melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, apapun bentuknya. Melibatkan diri di sini mencakup perbuatan: mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Adapun perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).
Hal yang sama juga berlaku pada perayaan tahun baru masehi. Perayaan tahun baru Masehi secara khusus memang sangat erat dengan hari raya kaum kafir. Peringatan tahun baru sudah dimulai sejak 45 SM pada masa kaisar Julius Caesar. Januari dipilih menjadi bulan pertama diantaranya karena dikaitkan dengan nama dewa Janus. Umat Kristen akhirnya ikut merayakannya. Berdasarkan keputusan Konsili Tours tahun 567 umat Kristen ikut merayakan Tahun Baru dan mereka mengadakan puasa khusus serta ekaristi. Lalu pada tahun 1582 M, Paus Gregorius XIII mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Sejak saat itu, umat kristen di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.
Bahaya Pluralisme dan Sinkritisme
Umat Islam harus mewaspadai seruan-seruan yang mangajak merayakan atau mengucapkan selamat natal dan tahun baru. Sebab dibalik seruan itu ada bahaya besar yang bisa mengancam aqidah umat Islam. Seruan berpartisipasi dalam perayaan natal, tidak lain adalah kampanye ide pluralisme. Paham kufur yang mengajarkan kebenaran semua agama-agama di dunia. Bagi penganut ajaran pluralisme, tidak ada kebenaran mutlak. Semua agama dianggap benar. Itu berarti, umat muslim harus menerima kebenaran ajaran umat lain, termasuk menerima paham trinitas dan ketuhanan Yesus.
Seruan itu juga merupakan propaganda sinkretisme, pencampuradukan ajaran agama-agama. Spirit sinkretisme adalah mengkompromikan hal-hal yang bertentangan. Dalam konteks Natal bersama dan tahun baru, sinkretisme tampak jelas dalam seruan berpartisipasi merayakan Natal dan tahun baru, termasuk mengucapkan selamat Natal. Padahal dalam Islam batasan iman dan kafir, batasan halal dan haram adalah sangat jelas. Tidak boleh dikompromikan !
Paham pluralisme dan ajaran sinkretisme adalah paham yang sesat dan haram bagi kaum muslimin untuk mengambilnya dan menyerukannya. Allah SWT telah menetapkan bahwa satu-satunya agama yang Dia ridhai dan benar adalah Islam. Selain Islam tidak Allah ridhai dan merupakan agama yang batil (lihat QS Ali Imran [3]: 19).Dengan tegas Allah SWT berfirman:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi (QS Ali Imran [3]: 85).
Allah SWT dengan tegas dan qath’i menyatakan bahwa Dia tidak beranak atau pun diperanakkan (QS al-Ikhlash [111]: 3). Jadi jelas ajaran trinitas Kristen merupakan ajaran syirik, menyekutukan Allah. Maka Allah SWT dengan qath’i menghukumi orang yang meyakini ajaran trinitas adalah kafir (QS al-Maidah [5]: 73). Allah pun tegas menyatakan orang kafir termasuk di dalamnya ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) akan dijebloskan ke neraka Jahannam dan mereka adalah seburuk-buruk makhluk (QS al-Bayyinah [98]: 6).
Perlu kita renungkan, bagaimana mungkin umat justru diminta tolong menolong dalam seruan dan perayaan kesyirikan yang benar-benar dimurkai Allah SWT ? Atau memberi selamat atas perayaan kelahiran Yesus yang mereka anggap sebagai tuhan, perkara yang sangat benci Allah SWT?
Wahai Kaum Muslim
Sungguh amat berbahaya bila hari ini umat justru diseru agar menggadaikan akidahnya dengan dalih toleransi dan kerukunan umat beragama. Begitulah yang terjadi ketika hukum-hukum Allah dicampakkan. Tidak ada lagi kekuasaan berupa negara al Khilafah yang melindungi aqidah umat ini. Islam dan ajarannya serta umat Islam terus dijadikan sasaran.
Perlu kita tegaskan, mengucapkan atau merayakan natal dan tahun baru tidak ada hubungannya dengan kerukunan umat beragama. Sesungguhnya kerukunan umat beragama bukan berarti dengan cara mengorbankan aqidah umat Islam. Dalam Islam tidak ada paksaan terhadap orang kafir untuk memeluk agama Islam, mereka juga boleh beribadah , keselamatan dan kesejahteraan mereka sebagai ahlul dzimmah pun dilindungi dan dijamin. Mereka tidak boleh didzolimi. Meskipun demikian, dalam masalah aqidah, Islam dengan tegas menyatakan bahwa agama mereka adalah kafir dan ajaran agama mereka adalah sesat .
Mudah-mudahan ke depan kita makin gigih menjelaskan Islam. Menyerukan syariah dan Khilafah, sehingga Islam benar-benar bisa terwujud secara nyata dalam kehidupan. Sebab hanya dengan syariah dan Khilafahlah, aqidah umat Islam terjaga sekaligus menjamin kesejahteraan dan keamanan umat manusia baik muslim maupun orang-orang kafir. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
Komentar Politik:
Juru bicara Kemendagri Reydonnyzar Moenek: Kekompakan kepala daerah dan wakilnya, cenderung bersifat sementara. Berdasarkan data Kemendagri, dari 244 pemilu kada pada 2010 dan 67 pada 2011, hampir 94% pemenang pecah kongsi setelah menjabat. Hanya 6% yang tetap solid berpasangan pada pemilihan periode selanjutnya. “Kebanyakan berhadapan.” (Lihat, mediaindonesia.com, 27/12)
Komentar:
  1. Itulah bukti motivasi mereka adalah kekuasaan, kekuasaan dan kekuasaan, bukan untuk mewujudkan kemaslahatan rakyat. Rakyat hanya dijadikan dagangan pemilu dan obyek penderita pasca pemilu.
  2. Demokrasi memang mengajarkan tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Sehingga keserakahan pada kekuasaan jauh lebih penting daripada persatuan dan kesatuan untuk mengurus rakyat.
Pemimpin yang mengabdi demi kemaslahatan rakyat sangat sulit (tak mungkin) terwujud dalam sistem sekuler kapitalisme demokrasi. Hanya dengan penerapan syariah Islam dalam naungan Khilafah sajalah, pemimpin akan mengabdi demi kemaslahatan rakyat. Sebab politik dalam Islam adalah memelihara kemaslahatan rakyat.

Tantangan Dakwah


Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah.  Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]:18).
Ahli tafsir ternama, Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tersebut: “Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah!  Ini adalah perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang oleh Dia. Adapun perintah ‘Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok’ artinya adalah, ‘Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Lihatlah amal-amal shalih apa yang telah kalian lakukan untuk menyongsong hari yang telah dijanjikan kepada kalian dan hari saat kalian kembali kepada Rabb kalian. Bertakwalah kepada Allah. Ini merupakan penegasan kedua untuk bertakwa.  ‘Sesungguhnya Allah Mahateliti atas apa yang kalian lakukan’ maknanya adalah, ‘Ketahuilah sesungguhnya Dia Mahatahu atas semua perbuatan kalian dan keadaan kalian.’  Tidak ada secuil pun yang tersembunyi bagi Allah.  Tidak ada urusan kalian yang tersembunyi dari Dia, baik perkara yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, hlm. 548).
Salah satu pelajaran penting dari ayat itu adalah bahwa hidup di dunia ini mulai dari takwa, diselingi evaluasi (muhasabah) untuk semakin meneguhkan ketakwaan tersebut.
Selama tahun 2011 suara yang menyeru untuk kembali ke pangkuan syariah makin nyaring terdengar.  Kawasan Timur Tengah sepanjang tahun ini terus menerus diguncang revolusi.  Tunisia, Maroko, Libya, Yaman, Suriah dan Mesir berguncang.  Gejolak revolusi umat terus menggelora. Islam politik di kawasan itu mulai naik bahkan mendominasi media massa.  Terlepas dari apa yang dimaksud, pernyataan Perdana Menteri Tunisia, Hamadi Jebali, menarik disimak.  Hamadi menyampaikan, “Masa kini adalah momentum Ilahi pada sebuah negara baru dan mudah-mudahan merupakan Masa Kekhalifahan ke-6.”
Ucapan seperti ini dari seorang moderat menggambarkan betapa keinginan masyarakat di sana untuk menerapkan Islam demikian besar sehingga berpengaruh pada ucapan Hamadi. Memang, kecenderungan alami dari masyarakat Arab lebih tertarik pada sistem Khilafah. Inilah ajaran agama mereka dan bagian dari sejarah mereka.
Di sisi lain, Eropa sedang dilanda gunjang-ganjing.  Amerika masih berada dalam kubangan krisis.  Gejolak selama tahun 2011 ini mengisyaratkan dunia kemudian akan kembali pada model masa pra-1945-yang  merupakan dunia multipolar-yang didominasi oleh pusat-pusat pengaruh geopolitik yang berbeda, dengan Kekhalifahan di puncaknya.
Suara yang sama berkumandang di Indonesia.  Dukungan para ulama tampak jelas.  Berbagai forum ulama selama kurun 2011 menyerukan syariah dan Khilafah.  Begitu juga dukungan dari kalangan tokoh, intelektual, mahasiswa dan pelajar.  Tidak kalah pentingnya, kembali pada syariah Islam dan menyatukan kaum Muslim ke dalam Khilafah juga diserukan oleh ibu-ibu rumah tangga.  Ini sebagian tanda makin dekatnya fajar kemenangan.
Bukan hanya harapan yang terang, tantangan dakwah Islam di Indonesia pun tidak menyurut. Ketidakadilan terhadap umat Islam terus berlangsung selama tahun 2011, yang bahkan dilakukan oleh sesama Muslim.  Ketika terjadi bunuh diri di Cirebon dan Solo, langsung Presiden menyebut bahwa pelakunya adalah teroris hanya karena pelakunya beragama Islam.  Namun, saat di Papua meledak granat disertai penembakan, buru-buru Ansyaad Mbai, Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyatakan bahwa itu tindak kriminal biasa.  Pada saat umat Islam menyerukan syariah Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan, segeralah mereka dituduh sebagai pihak yang membahayakan NKRI.  Sebaliknya, upaya separatisme dan disintegrasi yang secara terang-terangan dinyatakan oleh segelintir orang yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak disebut membahayakan NKRI.  Bahkan TNI dan Polisi yang berupaya menindak tegas mereka segera dituduh oleh LSM-LSM komprador sebagai melanggar HAM.  Intervensi Amerika Serikat (AS) dalam kasus ini tampak jelas.  Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY di Nusa Dua, Bali, Senin (24/10/2011) membicarakan Papua.  Berikutnya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton angkat suara mengenai konflik di Papua. Hillary menyampaikan kekhawatiran akan kondisi HAM di Papua. Ia menyerukan adanya dialog untuk memenuhi aspirasi rakyat di wilayah konflik tersebut (AFP, 11/11/11). Obama dalam pembicaraannya dengan Presiden SBY di Bali juga menyinggung masalah Papua.  Irama yang ditabuh asing ini diikuti oleh antek-anteknya di dalam negeri.
Persoalan calon Gereja Yasmin di Bogor menambah rasa ketidakadilan itu.  Umat Islam di Bogor dituding tidak toleran.  Padahal umat Islam Bogor ditipu. Ada penipuan dalam proses pengajuan izin IMB calon gereja tersebut.  Hilary Clinton bicara tentang kasus ini. Vatikan turut campur. Pada 16 Desember 2011 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengadakan rapat dengan Pemerintah membahas hal ini.  Masalah ini diinternasionalisasi.  Memang, kalau untuk memojokkan umat Islam, suara jarum jatuh pun terdengar ke seantero dunia!
Bukan hanya itu.  Untuk mengerem gerak perjuangan Islam digembar-gemborkan istilah deradikalisasi.  Selama tahun 2011 digelar berbagai acara di daerah-daerah.  Pimpinan dan ormas Islam dikumpulkan.  Temanya deradikalisasi.  Yang mengherankan, semua yang dimaksudkan dalam istilah deradikalisasi ditujukan kepada umat Islam!  Sasarannya adalah Islam.  Benar apa yang diingatkan oleh pengamat politik Herman Ibrahim bahwa hakikat dari deradikalisasi merupakan deIslamisasi. Dalam deradikalisasi pun terdapat politik belah-bambu di tubuh umat Islam.  Last but not least, deradikalisasi ini tidak dapat dilepaskan dari program war on terrorism yang merupakan agenda AS.  Yang rugi adalah umat Islam sendiri.
Tantangan seperti ini sebenarnya merupakan sunnatullah.  Setiap upaya dakwah untuk membangkitkan umat Islam senantiasa menghadapi tantangan.  Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya telah menghadapi banyak tantangan.  Beliau dituduh tukang sihir, tukang syair, gila, pemecah-belah bangsa Arab, dsb.  Bahkan beliau diembargo selama dua tahun dan diancam pembunuhan.  Justru, berbagai tantangan berupa tuduhan dan ancaman fisik menegaskan kemenangan dakwah semakin dekat.  Sebab, tuduhan dan ancaman fisik dari pihak anti-Islam merupakan tanda kekalahan mereka secara intelektual.  Yang penting adalah kita tetap berada di atas aturan Allah SWT.  Rasulullah saw. bersabda, “Sekelompok dari umatku selalu berada di atas aturan Allah, orang-orang yang menentang dan menyalahi mereka tidak akan memadaratkan bagi mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan menang atas manusia.” (HR Muslim). [MR Kurnia]

Related Posts by Categories

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar