Spirit Kebangkitan Ummat

Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) “Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim). “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi) Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma(Italia). Rasulullah SAW bersabda: ”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Selasa, 06 Desember 2011

PERTOLONGAN ALLOH Dalam Medan Jihad Afganistan, Gaza, Bosnia " Allohuakbar "

PERTOLONGAN ALLOH  Dalam Medan Jihad Afganistan, Gaza, Bosnia " Allohuakbar "

                                          Berikut ini ana Kutipkan Beberapa Kisah-Kisah Ajaib tentang Pertolongan ALLOH di Bumi Suci Afganistan, yang diambil dari buku “Ayyaturahman fi jihadil afgan” karangan As Syahid Syeikh.Dr Abdullah Azzam rohimahulloh.

Yang mana Kisah-kisah ini dituturkan langsung dari medan pertempuran dan ditulis oleh beliau dengan memperhatikan secara serius jalur periwayatan yang benar dari orang-orang terpercaya yang mengalami langsung kejadian-kejadian ajaib ini (Karomah)….
Sebagaimana yang kita ketahui beliau (As syahid Dr.Abdullah Azzam) tidak menulis isi buku ini melainkan setelah beliau merasa mantap akan kebanrannya.
Bahkan syeikh Abdul Aziz bin Baaz berkata dalam Kata Pengantar buku ini :
“Ini adalah kabar gembira,sebaik-baik kabar gembira yang memberikan berita kemenangan kepada mereka (|Mujahidin), insya Allah!”
Lalu juga Perkataan Dr.Umar Al-asyqar beliau berkata : “Yang Terpenting dari semunya adalah jalur periwayatan yang benar.Apabila riwayat kisah tersebut terdiri dari orang-orang yang jujur, maka kita wajib menyebarluaskannya, baik Manusia Percaya atau tidak”..

Dilihat dari sisi logika manapun akan merasa heran dan tak percaya bagaimana Para mujahidin yang minim persenjataan, minim personel dan tak memiliki jet tempur seperti musuh, dapat mengusir penjajah kuffar sebesar Uni Soviet yang ketika itu menjadi salah satu “Super Power Dunia”, dalam perang yang berlangsung selama 10 tahun.

Hanya dengan keberanian para mujahidin serta pertolongan ALLAH lah yang dapat menyebabkan Musuh lari tunggang langgang dengan wajah kehinaan.

Kita berdoa semoga NATO serta Amerika yang sekarang menyerang Afganistan, akan mengalami nasib serupa dengan Uni Soviet, Amienn…..

Berikut beberapa kisah ajaib itu :
A.Tembakan dan Serangan “Muncul” DARI BERBAGAI ARAH…
Arsalan menceritakan padaku (maksudnya pada Syeikh Dr.Azzam,penulis buku ini), dia berkata :
“Kami pernah berada di daerah syahturi. Jumlah Kami saat itu 25 Mujahid.Kami diserbu oleh 2000 pasukan Komunis. Setelah kami bertempur selama 4 jam, tentara komunis kalah.70-80 tentara komunis tewas dan 26 tentara tertawan , “Kenapa kalian cepat sekali kalah?”
Mereka menjawab : “Peluru dan senjata mesin Amerika menyerbu kami dari empat arah.”. Arsalan berkata ,”Kami(Mujahidin) tidak mempunyai peluru itu dan tidak pula memiliki senjata mesin. Kami hanya menggunakan granat lempar dan menyerbu dari satu arah”.
B.Burung Bersama Mujahidin
1. Jalaludin Haqqani -salah satu mujahid terkenal di afganistan- menceritakan padaku :
“Kami bisa mengenali tanda-tanda pesawat-pesawat tempur musuh yang akan menyerang
Kami.
Caranya dengan melihat burung-burung yang terbang di atas kamp kami.Ketika kami melihatnya berputar-putar di atas kamp, Kami mulai mempersiapkan senjata untuk membalas serangan pesawat musuh”
2. Al-Hajj Muhammad Jul –Salah satu Mujahid di konar- Menceritakan padaku ,”Saya melihat burung-burung terbang bersama pesawat tempur lebih dari sepuluh kali. Burung-burung itu terbang lebih cepat daripada pesawat. Padahal kecepatan pesawat tempur yang kita ketahui adalah tiga kali lebih cepat dari kecepatan suara”
C. ULAR tidak mematuk Mujahidin
Umar Hanif bercerita tentang kisahnya :
“Sering sekali ular datang dan tidur bersama mujahidin di kamp mereka sejak empat tahun yang silam. Ular itu tidak mematuk mujahidin”
D.Kalajengking bersama mujahidin
"Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan tiada lain ia kecuali peringatan bagi manusia.”
QS Al-Mudatsir (74):31.
Abdushshamad dan mabubullah menceritakan kepadaku :
“Orang-Orang Komunis mendirikan perkemahan di dataran Qunduz. Tiba-tiba mereka diserbu oleh sekelompok kalajengking. Akibatnya 6 tentara mereka disengat dan tewas, sedang yang lainnya melarikan diri.”
E.Doa Mujahidin Dikabulkan
Maulawi Arsalan –Salah satu mujahid yang terkenal di afganistan , dia adalah mujahid yang ditakuti oleh tentara Rusia, sampai-sampai mereka mengatakan dia adalah orang yang memakan daging manusia -
Sang Mujahid berkata :
“ Suatu ketika kami hanya memiliki satu granat dan satu senjata anti-tank. Kemudian kami melaksanakan Sholat dan berdoa kepada Allah S.W.T agar Dia menghantamkan granat ini kepada musuh. Saat itu kami berhadapan dengan 200 tank dan kendaraan berat lainnya. Kami melemparkan granat itu dan tepat mengenai sebuah mobil yang mengangkut bahan peledak. Sehingga mobil itu meledak dan menghancurkan 86 tank, beserta mobil panser yang lainnya. Akhirnya musuhpun kalah dan kami mendapat harta ghonimah yang sangat banyak”. Dan saya (syeikh Dr.Azzam) telah bertemu dengan pemuda yang melemparkan garanat itu di Batur.
ALLAH S.W.T berfirman :
“Bukan kamu yang membunuh mereka tetapi Allah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar tatkala kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. ”
( Surah al-Anfaal : Ayat 17 )
F. Bom tidak meledak
Jalaludin Haqqani menecritakan padaku, dia berkata :
“Kami bersama 30 Mujahid menghadapi serbuan bom-bom dari pesawat tempur musuh. Semua bom-bom itu meledak.Namun tatkala ada satu bom yang beratnya kurang lebih 54 Kg meluncur ke hadapan kami, Bom itu tak meledak.Seandainya meledak pasti kami semua terbunuh”
G. Pasukan Berjumlah Kecil Mengalahkan Ribuan tentara Musuh
Haqqani mengkishkan padaku :
“Kami berjumlah 59 mujahid, diserbu oleh kekuatan yang terdiri dari 220 Tank, Mobil Panser , Pesawat Tempur dan didukung oleh 1500 tentara – Jumlah ini dietahui dari pengakuan musuh yang ditawan –
Akhirnya, dari pertempuran dahsyat itu diperoleh harta ghonimah , 54 tank hancur, 150 tentara komunis tewas, dan 100 orang lainnya luka-luka. Kami mendapatkan harta rampasan senjata anti pesawat,beberapa senjata mesin Jerinov, 7 pucuk senjata Klashinkov, satu buah senjata roket 66 mm, 280 peluru roket dan 36.000 butir peluru”
H. Jasad Syuhada Yang Tersenyum dan Mengeluarkan Wangi kasturi
1. Maulawi Abdul Karim menceritakan kepadaku ,dia berkata :
“ Saya Melihat sekitar 1200 orang mati syahid. Saya tidak melihat satu pun dari tubuh mereka yang berubah.
Dan saya tak melihat seorang pun dari tubuh mereka yang dimakan oleh gerombolan anjing, pada saat anjing-anjing itu memakan mayat orang-orang komunis”
2. Bau Wangi dari minyak wanggi sebagus apapun mungkin hanya bertahan sampai satu pekan, namun bau wanggi orang syahid masih terasa wanggi lebih dari tiga bulan .

Nashrullah Manshur menceritakan padaku, dia berkata :
“ Saudaraku mati syahid, Setelah tiga bulan ibuku bermimpi bahwa dia berkata,seluruh lukaku sembuh, kecuali luka di kepala. Maka ibuku ingin membuktikannya.Diapun menggali kuburnya –Yang berada dekat dengan kuburan lain – Setelah lubang kubur itu tampak, dan demikian pula kuburan yang ada disampingnya, Kami melihat ada seekor ular di atas mayat. Lantas ibuku berkata :
“Jangan kamu gali lagi !”. Saya berkata : “Sesungguhnya saudaraku ini mati sayhid, tidak mungkin kita mendapati ada ular.”.
Setelah kami dapat menggalinya, tiba-tiba mayat itu mengeluarkan bau wangi hingga menusuk hidung. Dan hampir saja kami tidak sadarkan diri karena bau wanggi yang amat sangat wangi. Kami mendapatkan luka di bagian kepalanya mengeluarkan darah, lalu ibuku menyentuhnya. Dan karena hal itu, jarinya menjadi wanggi dan selalu wangi hingga tiga bulan kemudian. Sampai sekarang, jarinyapun masih bau wanggi seperti minyak kasturi”


Demikian lah sebagian kisah yang ada di buku “Ayyaturahman fi jihadil afgan”,
Semoga kita yang membaca mendapati kematian seperti para syuhada atau minimal khusnul khotimah dalam meperjuangkan agama ini…
ALLAH HU AKBAR !!!

Jihad Palestina



Keajaiban-Keajaiban yang Terjadi Saat Perang di Gaza Palestina



Keajaiban-Keajaiban yang Terjadi Saat Perang di Gaza Palestina.
Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel sangat kesulitan.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.
Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka “mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.
Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.
Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata kuno.
Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa “peristiwa aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.
Berikut ini adalah rangkuman “kisah-kisah ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk kita ingat dan renungkan.


Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.
Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.
Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”
Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya,
“Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?”
Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.
Suara Tak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).
Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.
“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.
Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.
Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.
“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.
Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesuatu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.
Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan,
“Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”
Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.
Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis.” Kenapa kalian menangis?” tanyanya.
“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.
Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.
Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.
“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.
Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.
Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan,
“Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?
Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.
Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.
Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.
Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.
Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.
Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga tidak memiliki kesempatan serupa.”
Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.
Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.
Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.
Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa, “Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”
Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para mujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
Merpati dan Anjing
Seorang mujahid Palestina menuturkan “kisah aneh” lainnya kepada situs Filithin Al Aan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.
Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.
Begitu merpati itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.
Adalagi “cerita keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.
Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”
Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.
Kabut pun Ikut Membantu
Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).
Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.
Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu telah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.
Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com (sudah tidak bisa diakses lagi). la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.
Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.
Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.
Selamat Dengan al-Qur’an
Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengetahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.
Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.
Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.
Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).
Dr. Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.
Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.
“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah,
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ’sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,’ (Al-Baqarah [2]: 155-156),”
jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).
Harum Jasad Para Syuhada
Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.
Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.
Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo.com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.
Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.
Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.
Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan,
“Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”

Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.
Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.
Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.
Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)

Terbunuh 1000 lahir 3000
Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.
Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza.
“Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.
Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.
Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.
“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.”
Keajaiban-keajaiban yang terjadi saat perang di Gaza Palestina, kisah-kisah ajaib Pejuang Mujahidin Palestina dibantu pasukan tidak dikenal serdadu berseragam putih dan keajaiban lainnya.
Dari berbagai sumber

JIHAD BOSNIA 1992 - 1995
" Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain)
dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar." (at-Taubah: 111)
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: " Barangsiapa yang mati dan
dirinya tidak pernah berjihad dan tidak pernah meletakkan dalam dirinya keinginan
untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan.“
(Hadist Riwayat Imam Muslim)
Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan
padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“
(Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)
Mukadimmah
Segala puji bagi Allah, pencipta alam semesta, yang telah memberi petunjuk pada kita dengan Islam, dan mengeluarkan kita dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat. Salam dan shalawat semoga selalu dilimpahkan pada junjungan kita, Nabi dan Rasul kita, Muhammad SAW, juga kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga datangnya hari kiamat.

Para mujahidin asing (Foreign Mujahidin), merupakan bagian tak terpisahkan dari kisah jihad di Bosnia dan medan-medan jihad lainnya. Mereka datang dengan hasil keringat mereka sendiri. Mereka datang untuk berperang, terluka, mati syahid dan dikuburkan di negeri asing, yang mungkin namanya tak pernah mereka dengar sebelum terjadinya jihad.

Ribuan pemuda-pemuda ikhlas dari berbagai negara, datang untuk bertempur dan mati membela orang-orang yang tidak pernah dikenalnya. Tidak ada sedikitpun keuntungan dunia yang bisa mereka raih. Mereka datang karena panggilan Allah : membela Islam, dan membela saudara-saudara seiman yang dianiaya. Kehadiran mereka menyentakkan hati bangsa muslim Bosnia yang telah lupa dengan agamanya.

Sebagian dari mereka telah menemui Rabb-Nya sebagaimana yang mereka cita-citakan, dan
sebagian lagi masih menunggu dengan setia di berbagai medan jihad hari ini.

"Di antara orang-orang mukmin itu ada laki-laki perwira yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya),“ (Al Ahzab : 23)

Dengan keluasan hikmah-Nya, terkadang Allah memberikank arom ah dalamsy ah adah (mati syahid) para mujahidin, sebagai kabar gembira dan peneguh bagi mereka yang masih berjuang. Allah juga mengabarkan kabar gembira dalam bentuk mimpi yang dialami para mujahidin, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah SAW :

"(setelah aku wafat) tidak ada lagi kenabian selain mubasysyirat (kabar kabar gembira). Para sahabat bertanya: apa yang dimaksud mubasysyirat (kabar-kabar gembira)? Beliau menjawab: mimpi yang baik". (Hadits Riwayat Bukhari)

seorang Mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ada tiga macam:
  1. mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah 'azza wa jalla,
  2. mimpi seorang Muslim yang dialaminya sendiri,
  3. dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian shalatlah." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kumpulan dari berbagai sumber di internet. Semuanya merupakan kisah nyata para syuhada dalam perang di Bosnia dalam kurun waktu 1992-1995. Bahkan sebagian besar kisah dalam buku ini berasal dari kesaksian orang pertama, yaitu orang yang secara langsung mengenal dan menyaksikan peristiwa syahidnya yang bersangkutan. Kisah-kisah ini berasal dari website www. azzam.com, yang merupakan salah satu situs yang paling banyak memuat mengenai jihad Islam di berbagai penjuru dunia. Setelah kejadian 11 September 2001 (walaupun terbukti peristiwa tersebut hanyalah rekayasa amerika), sebuah gelombang penutupan situs-situs Islam melanda Internet www.azzam.com termasuk salah satu korbannya. Scotland Yard (FBI-nya Inggris) menutup situs ini dan menangkapi para pengelolanya.

Lewat berbagai cara, dengan izin Allah, sebagian besar informasi teks dapat diselamatkan melalui arsip internet. Namun sebagian besar gambar tidak dapat diselamatkan. Setelah ditambah dengan berbagai sumber lainnya di intenet, kami menerjemahkannya dan menyajikannya kepada Anda dalam bentuk buku, dengan harapan semoga kisah para syuhada ini dapat tersebar dan abadi hingga mencapai generasi sesudah kita. Ceritakanlah kisah para syuhada ini pada anak-anak kita, sebagaimana para sahabat biasa menceritakan kisah perang mereka bersama Rasulullah kepada anak-anak mereka. Semoga mereka dapat mencontoh pengorbanan dan keikhlasan mereka yang telah dipilih Allah SWT sebagai syuhada.

Ya Allah, berikanlah pertolonganMu pada para mujahidin di Palestina, Iraq, Chechnya, Afghanistan, Kashmir, Moro, Guantanamo dan di seluruh dunia. Ya Allah, kuatkanlah kaum muslimin di manapun mereka berada. Amin ya Allah.


Jihad di bumi Bosnia
Bosnia-Herzegovina adalah salah satu negara kecil di Semenanjung Balkan, Eropa bagian Tenggara. Luas wilayahnya hanya 51.233 km persegi (sedikit lebih luas dari Propinsi Jawa Timur). Islam masuk ke kawasan Balkan (termasuk Bosnia) sekitar tahun 1389, ketika wilayah Balkan ada di bawah kekuasaan Turki Utsmani antara abad XII hingga akhir abad XIX.

Pada tahun 1918, Bosnia menjadi wilayah Yugoslavia. Akhir Perang Dunia ke II menempatkan rezim komunis di puncak kekuasaan Yugoslavia. Mulai saat itulah umat Islam Bosnia mengalami sekularisasi yang kuat, hingga sebagian besar kaum muslimin Bosnia melupakan agamanya meskipun masih mengaku beragama Islam.

Keruntuhan komunis di Uni Soviet membawa efek yang serupa pada Yugoslavia yang merupakan negara satelit Uni Soviet. Runtuhnya sistem komunis pada akhir 1988 menyebabkan Yugoslavia terpecah menjadi enam negara, yaitu Serbia, Kroasia, Bosnia, Macedonia, Slovenia dan Montenegro.

Awalnya, Slovenia dan Kroasia menyatakan memisahkan diri dari Yugoslavia dan menjadi negara berdaulat. Selepas itu, Yugoslavia menjadi negara yang senantiasa berubah, baik wilayahnya maupun populasinya. Menyusul Slovenia dan Kroasia, Bosnia melalui referendum tahun 1992 pun menyatakan pemisahan diri dari Yugoslavia dan menjadi negara berdaulat dipimpin Presiden Alija Izatbigovic. Inilah yang memicu pembantaian rakyat Muslim Bosnia oleh bangsa Serbia pimpinan Slobodan Milosevic pada 1992.

Serbia berupaya mempertahankan kesatuan Yugoslavia. Etnis Serbia yang umumnya bergama Kristen Ortodox ini ingin mendominasi pemerintahan, militer dan administrasi negara. Di Serbia terdapat sekitar 6 juta etnis Serbia, sedangkan di Bosnia 1,36 juta jiwa dan di Kroasia 0,5 juta jiwa. Milosevic berobsesi mewujudkan Negara Serbia Raya yang bersifat monoetnis, maka ia menentang habis-habisan berdirinya Bosnia Herzegovina yang mayoritas Muslim dengan melakukan pembersihan etnis non-Serbia dan merebut wilayah dari Bosnia dan Kroasia.

Negara Bosnia yang dideklarasikan pada tahun 1992 merupakan negara multietnis berpenduduk 4,3 juta jiwa, dengan komposisi 43,7% etnis Bosnia (90% muslim), 31,3% etnis Serbia/Serbia- Bosnia (93% beragama Kristen Ortodox), 17,3% etnis Kroasia/ Kroasia- Bosnia (88% beragama Katolik Roma) dan etnis lainnya 5,5%.

Pada awal terjadinya perang di tahun 1992, warga negara Bosnia yang terdiri atas etnis Bosnia dan etnis Kroasia bersama-sama menghadapi serangan tentara Serbia. Namun ketika keadaan Bosnia mencapai titik kritis, dimana

sekitar 70% wilayah Bosnia direbut oleh Serbia, etnis Kroasia di Bosnia dibantu Negara Kroasia berkhianat dan berusaha merebut wilayah Bosnia yang tersisa (30%). Akibatnya Kroasia berhasil menguasai 20% wilayah Bosnia, sementara warga muslim Bosnia hanya menguasai 10% wilayahnya.

Tindakan ini menjadikan muslim Bosnia terjepit oleh serangan dua musuh sekaligus. Ironisnya, dalam keadaan seperti ini PBB dan negara-negara Barat bersikeras mempertahankan embargo senjata pada muslim Bosnia. Mereka menutup mata terhadap pembantaian besar-besaran yang terjadi di depan mata mereka. Adalah merupakan bukti nyata bahwa PBB juga memusuhi Islam, walaupun omonganya semanis madu tapi hatinya sepahit empedu.

Dalam langkah majunya menguasai wilayah Bosnia, pasukan Serbia melakukan pembantaian massal pada muslim Bosnia. Mereka yang beruntung masih hidup dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Sejarah mencatat perang ini ditandai dengan pemerkosaan terhadap para wanita Islam dilakukan secara massal dan sistematis. Bayi-bayi hasil perkosaan tentara Serbia akan dianggap warga etnis Serbia. Dengan demikian, kelak Serbia dapat mengklaim sebagai etnis mayoritas di wilayah-wilayah yang didudukinya. Serangan Serbia (yang kemudian dibantu oleh Kroasia) terhadap muslim Bosnia telah menyebabkan tragedi kemanusiaan yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia kedua.

Pecahnya perang di Bosnia tidak luput dari perhatian para mujahidin yang baru saja berhasil menjatuhkan pemerintahan komunis di Kabul. Lima orang mujahidin dari Afghanistan segera bertolak ke Bosnia mengecek kondisi yang sebenarnya. Salah satu dari mereka adalah Syeikh Abu Abdul Aziz. Beliau adalah salah satu pemuda yang sejak awal bergabung dalam jihad Afghan karena seruan Syeikh Abdullah Azzam, semoga Allah menerima syahid beliau.

Temuan para utusan tersebut di lapangan membenarkan terjadinya pembantaian
terhadap kaum muslimin di Bosnia.

Maka mulailah para mujahidin dari seluruh dunia mengalir masuk ke Bosnia. Mereka ditempatkan dalam satu batalion yang khusus terdiri atas mujahidin non Bosnia. Mereka datang dari seluruh dunia, bahkan sebenarnya para mujahid Arab adalah minoritas, menurut Syeikh Abu Abdul Aziz. Batalion itu dinamai Katibat al-Mujahidin (Batalion
Mujahidin), atau Odred El-Mudzahidin dalam bahasa Bosnia. Batalion tersebut merupakan
bagian dari Angkatan Bersenjata Bosnia, yaitu Batalion ke-Tujuh (SEDMI KORPUS, ARMIJA REPUBLIKE BH) Angkatan Darat Bosnia

Krisis yang terjadi akibat serangan Serbia dan Kroasia, ditambah kehadiran para mujahidin asing yang ikhlas mengingatkan rakyat Bosnia akan agama yang telah mereka tinggalkan selama ini. Semangat muslim Bosnia untuk kembali pada Islam semakin besar. Masjid- masjid mulai dipenuhi jamaah. Jilbab semakin banyak dikenakan para muslimah Bosnia. Majelis-majelis ilmu dan tahfiz Qur’an mulai bermunculan kembali.



Dengan pertolongan Allah, melalui perjuangan rakyat Bosnia dan mujahidin asing, lambat laun keadaan mulai berubah. Kepada tentara muslim Bosnia, mujahidin asing berbagi taktik dan strategi untuk mengalahkan musuh yang memiliki persenjataan yang lebih kuat, hasil pengalaman perang sebelas tahun di Afghanistan. Angkatan Bersenjata Bosnia dan mujahidin asing tidak lagi bertahan. Mereka melancarkan berbagai operasi penyerangan untuk merebut daerah-daerah strategis di Bosnia. Daerah-daerah yang dikuasai oleh pasukan Serbia, satu per satu berhasil direbut kembali.

Khawatir dengan tekanan balik dari pasukan muslim, negara-negara Barat segera mensponsori perundingan damai. Berbagai bentuk tekanan diberikan kepada ketiga pihak yang bertikai, agar mereka dapat menghentikan perang dan berunding. Pada tahun 1994 Kroasia menandatangani perjanjian damai dengan Bosnia dan bersama-sama mendirikan Federasi Bosnia.

Saat muslim Bosnia berhasil menguasai kembali 51% wilayahnya, di bawah tekanan politik negara-negara Barat dan krisis ekonomi yang mencekik, pemerintah Bosnia terpaksa menandatangani Perjanjian Dayton di Paris pada Desember 1995. Wilayah Bosnia dipecah menjadi dua negara bagian, yaitu Federasi Bosnia (berisikan warga etnis Bosnia dan Kroasia) dengan luas wilayah 51% dan Republik Serbska (berisikan warga etnis Serbia) dengan luas wilayah 49%

Maka berakhirlah perang yang telah membawa begitu banyak korban : diperkirakan antara 100.000 hingga 200.000 ribu orang telah tewas (sekitar 69% korban tewas adalah muslim Bosnia), lebih dari 40.000 wanita diperkosa, dan 1,8 juta orang terpaksa mengungsi.


Mereka Yang Dipilih Allah 
Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia
Sudah menjadi kebiasaan para mujahidin untuk menggunakan nama julukan selama melakukan jihad. Hal ini diperlukan untuk melindungi identitas mereka (juga keluarga mereka) dari rezim-rezim thaghut (termasuk indonesia dengan densus88 nya) yang menguasai negeri-negeri Islam saat ini, dan untuk menghindari penangkapan ketika melakukan perjalanan keluar masuk medan jihad. Oleh karena itu, banyak dari syuhada pada buku ini dipanggil berdasarkan nama julukan mereka (Abu Ali, Abu Bakar, dll).


ABDULLAH SHAYBANI
Syahid dalam operasi Black Lion, Mei 1995 pada umur 19 tahun
Mujahid ini begitu muda, ia baru berusia 19 tahun. Ia seorang yang periang dan berakhlak baik. Saat operasi berlangsung, Abdullah Shaybani dan seorang mujahid lainnya, Abu Muslim al-Yamani, berlari menyerang bersama dengan terpisah beberapa meter. Kemudian keduanya terkena tembakan dan terkapar dalam keadaan luka. Abu Muslim merasakan kesakitan, namun ia tidak berteriak dan hanya mengerang. Abdullah Shaybani yang terkapar tidak jauh darinya menoleh ke arahnya dan berkata, “Harapkan pahala dari A llah, lupakan rasa sakitmu.”

Para mujahidin lainnya kemudian membawa mereka ke rumah sakit, dan alhamdulillah Abu-Muslim pulih dengan cepat. Namun Abdullah Shaybani menderita luka yang lebih parah dan setelah beberapa hari Allah mengangkatnya sebagai seorang syahid. Saat kematiannya, muncul aroma harum yang memenuhi ruangan tersebut. Hal ini disaksikan oleh orang-orang di sana. Inilah bukti Allah menerimanya sebagai seorang syahid, dan inilah tanda dari Allah bagi para mujahidin lainnya, bahwa mereka melangkah di atas jalan kebenaran.

Berkata Rasulullah SAW : "Demi Dia yang memegang jiwaku, tidak ada seorang pun yang terluka di jalan Allah, dan Allah paling tahu siapa yang terluka di jalanNya, kecuali dia akan datang pada hari Kiamat dengan luka-lukanya, darahnya akan mengalir keluar dan berwarna merah dan mengeluarkan wangi seperti wanginya misk (kesturi)." (HR Muslim).
ABU ABDULLAH AL-LIBYI
Abu Abdullah al-Libyi, dari Libya. Komandan regu Black Lion. Syahid pada Mei 1995
Komandan operasi Black Lion adalah Abu-Abdullah al-Libyi. Ia datang dari Libya tidak lama setelah perang Bosnia pecah. Sebelumnya ia adalah seorang pengemudi tank di Angkatan Darat Libya. Abu Abdullah menghabiskan tiga tahun berjihad di Bosnia, sebagian besar waktunya dihabiskan di garis depan.

Jika engkau melihatnya, engkau akan tahu bahwa dia begitu pemalu. Bahkan jika engkau duduk berhadapan dengannya, ia tidak berani menatap wajahmu. Jika engkau duduk bersamanya untuk makan, ia tidak mau menjamah makanannya sebelum ada orang lain yang memulai, bahkan meskipun ia sangat lapar. Namun ia begitu berani menghadapi orang-orang kafir. Ia biasa menjadi orang yang pertama mencapai bunker musuh.

Kami melihatnya sebagai perwujudan salah satu ayat dalam al-Qur’an, ketika Allah menjelaskan ciri-ciri orang-orang beriman ‘asyidda’u alal kuffar ruhamaau bainahum’, keras dan berani menghadapi orang-orang kafir, lemah lembut dan penyayang kepada sesama orang beriman.

Abu Abdullah tidak bersuara keras, tidak banyak bicara namun selalu melakukan tugasnya. Karena itu para mujahidin mencintainya, meskipun ia seorang yang pendiam. Saya teringat pada sebuah Hadits :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: „Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Ia memberi tahu Jibril bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai Fulan, dan menyuruh Jibril untuk mencintainya, maka Jibrilpun mencintainya. Jibril lalu memberi tahu penghuni langit bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai Fulan dan menyuruh mereka juga untuk mencintainya, maka penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ia diterima di atas bumi." (Hadits Riwayat Bukhari)

Semua mujahid mencintainya. Mujahid ini, ia melakukan misi reconnaissance (pengintaian) yang memakan waktu selama tujuh bulan. Ia melakukan pemetaan dan pengintaian pada sebuah daerah bergunung-gunung sepanjang tiga kilometer. Daerah ini benar-benar sangat strategis, terlebih lagi bagi para tentara Serbia.

(Catatan : Daerah yang dimaksud adalah pegunungan Vlasic di Bosnia bagian utara. Pada perang dunia ke II, pasukan Hitler berupaya untuk merebut gunung ini dari tangan Serbia selama lima tahun lamanya, namun selalu gagal. Begitu pula dalam perang Bosnia, upaya pasukan Angkatan Bersenjata Bosnia selama tiga tahun untuk merebut daerah ini selalu gagal. Pada tanggal 10 September 1995, mujahidin asing dan pasukan Angkatan Bersenjata Bosnia melakukan operasi militer bersama untuk merebut daerah ini dengan nama sandi
Operation Badr.)

Abu Abdullah menghabiskan tujuh bulan mengintai dan memetakan daerah ini. Ia melakukannya pada malam dan siang hari, dalam cuaca seperti apapun. Ia selalu pergi sendirian, dan mematikan radionya. Ia mendekati bunker Serbia, kadang-kadang begitu dekat hingga para tentara Serbia membuang sampah pada Abu Abdullah tanpa menyadari nya.

Karena itu Abu Abdullah mengenal tiga kilometer tersebut seperti telapak tangannya sendiri. Maka setelah pengintaian selama tujuh bulan, misi penyerangan dilakukan. Alhamdulillah, Allah memberikan kami kemenangan dan ketiga gunung itu jatuh dalam waktu hanya enam menit (!). Banyak tentara Serbia tewas dan kami mendapatkan banyak senjata.

Setelah misi ini selesai dan kemenangan telah jelas berada di tangan mujahidin, tiba-tiba sebuah peluru sniper (penembak jitu) Serbia mengenai Abu Abdullah al-Libyi, dan ia pun syahid

ABU ABDULLAH ASH-SHARQI
Abu Abdullah ash-Sharqi, syahid di pegunungan Vlasic, Bosnia, pada hari Jumat pagi setelah malam Lailatul Qadr, tanggal 25 Ramadhan, 1995.
Ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang syahid di Afghanistan. Abu Abdullah datang ke Bosnia pada tahun 1994. Ikut ambil bagian dalam operasi untuk merebut gunung tertinggi di Bosnia, pegunungan Vlasic, pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Selama sembilan jam ia berjalan bersama para mujahidin lainnya menempuh jalan yang ditutupi salju tebal dalam keadaan berpuasa. Para mujahidin menawarkannya makanan dan ia mengambilnya, hanya untuk dimasukkan ke dalam sakunya. Hal ini ia lakukan agar tidak ada yang mengetahui bahwa ia sebenarnya sedang berpuasa, karena ia kuatir Amir (komandan) akan menyuruhnya berbuka. Banyak mujahidin yang hadir pada malam itu meyakini bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadr.

Malam itu Abu Abdullah bermimpi melihat dirinya syahid akibat sebuah peluru di tenggorokannya setelah ia menewaskan dua tentara Serbia. Dalam operasi keesokan harinya, mujahidin memperoleh kemenangan dan berpikir semua bunker musuh telah direbut. Tiba-tiba mereka menemukan sebuah bunker musuh yang selama ini menembaki mereka. Saat mereka mendekati bunker tersebut, para mujahidin menemukan dua orang Serbia tergeletak mati di lantai.

Di samping mereka terbaring Abu-Abdullah ash-Sharqi, dalam keadaan syahid dengan satu buah peluru menembus tenggorokannya. Saat itu Abu Abdullah mengenakan sorban yang ia lilitkan pada lehernya. Rupanya peluru tersebut menembus sorban dan leher Abu Abdullah, dan membawa kain sorban di bagian depan hingga menembus leher Abu Abdullah, namun jenazah Abu Abdullah tidak berdarah sama sekali.

Abu Abdullah adalah satu-satunya mujahidin yang syahid dalam operasi tersebut.

Abu Ali, dari Kuwait Syahid dalam operasi melawan Kroasia di Travnik, Bosnia, pada tahun 1993
Seorang letnan satu pada Angkatan Udara Kuwait, namun ia adalah seorang yang berakhlak baik dan sering melakukan dakwah. Ia dicintai oleh para mujahidin Arab dan Bosnia. Suatu hari ia ditangkap oleh tentara Kroasia bersama Abu Sahar al-Ha’illi (juga telah syahid) di Travnik, namun ia tetap bersabar dalam penyiksaan. Salah satu mujahidin yang ditangkap bersamanya menyarankan bahwa jika ia menangis atau menunjukkan kesakitan, maka para penyiksa akan mengakhiri siksaannya. Abu Ali menjawab, "Tidak, Insya Allah saya tidak akan menangis."
Saat ia tertangkap oleh musuh, Angkatan Udara Kuwait memecatnya. Saat Abu Ali
mendengar berita ini, ia hanya mengucapkan, "Alhamdulillah".

Beberapa bulan kemudian, ia dibebaskan dalam pertukaran tawanan dan kemudian ia ikut dalam sebuah operasi melawan tentara Kroasia. Saat itu ia melintasi sebuah tanah yang ditanami ranjau, dimana salah satu ranjau meledak hingga menghancurkan kakinya, hingga Abu Ali syahid sambil berteriak, "Allahu Akbar, Allahu Akbar!"

ABU BAKR AL-LIBY
Abu Bakr Al-Liby, dari Libya. Syahid pada tahun 1995
”Seorang saudara yang dicintai oleh para mujahidin, ia bertugas dengan ikhlas tanpa ganjalan di hatinya. Suatu hari ia melakukan tugas jaga. Allah mentakdirkan, pada saat itu sebuah roket musuh menghantam tanah di sampingnya dan meledak. Beberapa serpihan roket tersebut menembus lehernya dan ia syahid sekitar sepuluh atau lima belas menit kemudian. Para mujahidin kemudian menguburkannya. Namun pada saat itu mereka tidak mengetahui arah kiblat, sehingga mereka menguburkan Abu Bakr ke arah yang salah. Setelah berlalu satu bulan, syeikh kami berkata,’Kita harus menggali kuburnya dan menguburkannya ke arah yang benar.’

Kemudian kami menggali kuburannya kembali. Tanah di Bosnia keadaannya sama dengan keadaan tanah di Inggris, bahkan lebih becek. Saat kami mendapatkan jenazahnya, kami dapati jenazahnya masih utuh, tidak membusuk, tidak mengeluarkan bau dan bahkan darah masih mengalir dari luka yang ada di lehernya.

Ini adalah sebuah hal yang mengherankan karena saya sudah pernah melihat mayat-mayat orang-orang Serbia, yang baru satu jam mati sudah mengeluarkan bau hingga kami menjauhinya. Setelah satu hari mayat-mayat itu berubah warna menjadi hitam. Seorang kulit putih berubah menjadi hitam! Seminggu kemudian bau busuknya semakin keras … itu keadaan mayat-mayat yang berada di atas tanah, sedangkan saudaraku ini berada dalam tanah selama satu bulan dan jenazahnya tetap utuh.”
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan ribath di jalan Allah, maka akan dialirkan kepadanya amal-amal shalehnya yang dulu ia kerjakan, dan dialirkan pula rezeki kepadanya, dan diamankan dari pertanyaan kubur, serta akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dalam keadaan aman selamat dari ketakutan yang amat dahsyat.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah dan Thabrani)

ABU HAMMAM AN-NAJDI
Abu Hammam An-Najdi, berasal dari Saudi Arabia. Komandan Base Camp ‘Lion’s Den’
(Sarang Singa) di garis depan. Syahid di Zepce, 14 Desember 1995 dalam penyerangan
oleh militer Kroasia ketika gencatan senjata, saat dalam perjalanan dari markas
mujahidin di Zenica menuju Camp Lion's Den di Zavidovic. Berumur 24 tahun.

Abu Hammam adalah seorang lulusan universitas di Saudi Arabia, seorang yang terpelajar dan mampu berbahasa Inggris dengan baik. Ia masuk ke Bosnia pada musim panas 1994 bersama Abu Ziyaad An-Najdi (semoga Allah meridhainya). Ia bergaul dengan baik dengan semua mujahid yang ada, membuat setiap mujahidin merasa dihargai, sehingga tidak lama kemudian ia diangkat menjadi Amir (komandan) base camp yang berada di garis depan.

Ia bekerja sangat keras untuk melayani saudara-saudaranya di jalan Allah dan berusaha untuk memudahkan segala hal bagi mereka. Jika para mujahid bertemu dengannya, mereka tidak melihat sosok seorang komandan atau amir, namun seorang teman yang enak diajak berbicara dan berbagi, bahkan tentang masalah sehari-hari sekalipun. Inilah sifatnya yang membuatnya dicintai para mujahidin. Ialah komandan yang memerintahkan misi rescue untuk mencari Abu Mujahid Al-Brittani, mujahid asal Inggris yang syahid dalam operasi Badar di Bosnia.

Pada hari itu, 14 Desember 1995, ia bersama empat mujahidin lainnya disergap oleh militer Kroasia di Zepce. Abu Hammam syahid karena tembakan jarak dekat (point-blank) di kepalanya, bersama empat mujahidin yang bersamanya. Abu Hammam dan temannya, Abu Ziyaad, tiba di negeri Bosnia bersama-sama dan meninggalkannya bersama-sama. Kami memohon pada Allah (SWT) agar mereka berkumpul bersama pula di jannah yang abadi di sisi Rabb Yang Maha Agung.

ABU KHALID AL-QATARI
Abu Khalid Al-Qatari, dari Qatar. Syahid ketika diserang pasukan Kroasia di Bosnia pada tahun 1993. Berumur pertengahan dua puluhan.
Kisah dari orang pertama
Seorang pemain bola tangan, ia adalah anggota tim nasional bola tangan Qatar. Ia datang ke Bosnia pada akhir 1992. Abu Khalid menyukai tugas jaga (ribath), ia biasa mengambil tugas jaga double shift selama empat jam di tengah cuaca yang dingin.

Abu Khalid seorang mujahid yang sangat tawadhu dan shalih. Kulitnya hitam karena ia keturunan negro, namun para mujahidin melihat nur (cahaya) pada wajahnya. Ada dua buah tanda bekas sujud di keningnya akibat lamanya ia bersujud dalam shalat malamnya yang panjang.
Suatu hari ia pernah ditanya, "Kapan engkau akan kembali ke negaramu, Abu Khalid?" Abu
Khalid menjawab, "Saya ingin syahid di sini."
Abu Khalid pernah berkata pada seorang mujahid, "Dulu ketika di Qatar, saya telah membeli
pakaian tempur untuk pergi dan berperang di Afghanistan, tetapi ibu saya mencegah kepergian saya.
Tetapi insya-Allah, kali ini, dengan pakaian tempur yang sama, saya akan syahid di Bosnia."
Sebelum sebuah operasi melawan Kroasia, saat menerima pembagian kelompok oleh Amir,
ia berbisik pada seorang mujahid di sampingnya,"Insya-Alllah, kali ini ALLAH akan
mengambil saya menjadi seorang syahid."

Kemudian ia melakukan perjalanan dengan mobil bersama lima orang mujahidin lainnya, salah satunya adalah Wahiuddin al-Misri, Amir Mujahidin (semoga Allah meridhainya). Mereka tersesat dan masuk sejauh 7 kilometer ke dalam wilayah musuh. Pasukan Kroasia
menembaki mereka dengan senjata anti pesawat hingga mobil mereka terpental 6 meter ke
udara. Semua mujahidin di dalamnya keluar dan bertempur hingga syahid.

Dua bulan kemudian, saat jenazah mereka dikembalikan, para mujahidin dapat mengenali mereka, kecuali jenazah Abu Khalid Al-Qatari. Jenderal Bosnia yang mengantarkan para jenazah mengeluarkan jenazah yang terakhir, jenazah itu berkulit putih dan wajahnya juga berwarna putih. "Ini saudara kalian yang terakhir.”

Para mujahidin mengatakan, "Ini bukan saudara kami, saudara kami punya kulit yang hitam.”

Kemudian para mujahidin memeriksa lebih lanjut jenazah itu. Mereka membuka bajunya dan menemukan bahwa dari bagian leher ke bawah, kulit jenazah itu berwarna hitam. Kemudian mereka membuka lengan bajunya dan menemukan bahwa dari siku ke atas, kulit jenazah itu berwarna hitam, sedangkan pada bagian lengan dan tangannya berwarna putih. Kemudian mereka menggulung celana panjangnya, dan menemukan bahwa kakinya berkulit putih, namun dari tumit ke atas berwarna hitam.

Salah satu mujahid yang menyaksikan berkomentar, bahwa sesuai dengan hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang beriman pada hari kiamat ialah bahwa anggota tubuh mereka yang dibasuh air wudhu akan bercahaya. Demikianlah yang terjadi pada jenazah Abu Khalid al-Qatari, semoga Allah SWT menerimanya di antara para syuhada.

"Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada Hari Kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya oleh sebab bekas-bekas wudhu. Oleh itu, barang siapa di antara kamu hendak memperpanjangkannya (menambah cahaya), maka baiklah dia melakukannya dengan sempurna." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

ABU MARYAM AL-AFGHANI Abu Maryam al-Afghani, dari Afghanistan. Syahid di Illyash, 1992
Seorang mujahid sejak jihad Afghanistan, ia datang ke Bosnia pada tahun 1992. Semua
mujahidin Arab dan Bosnia yang melihat Abu Maryam berkata,"Inilah seorang (yang akan)
syahid… ”
Suatu hari ia duduk bersama Abu Qutayfah al-Afghani, Abul Harith al-Bahraini, Abu
Muassa alKassoori dan Abu Maidh al-Muhajir. Abu Maidh bertanya pada Abu Maryam:
"Siapa yang akan mengurus anak perempuanmu bila engkau mati?"

Abu Maryam menjawab dengan yakin, "Allah yang akan mengurusnya.” Kemudian ia menunjuk ke arah langit, dan berkata, "Allah, Allah," kemudian ia menangis. Kemudian keempat mujahidin lainnya ikut menangis bersamanya.
Ia bertawakkal pada Allah SWT. Ia dikenal berakhlak baik, sering berpuasa dan tidak
banyak berbicara. Abu Maryam syahid dalam operasi Illyash pada tahun 1992.

Istrinya, Ummi Maryam yang berasal dari Jerman gembira mendengar kabar tersebut. Ia seorang wanita mujahid, dengan sabar menerima kematian suaminya. Suatu hari saudara laki-laki Abu Maryam berniat untuk menikahinya. Ummi Maryam berkata, "Siapapun yang menikahi aku harus memenuhi satu syarat, yaitu ia akan tinggal bersamaku selama lima belas hari kemudian ia pergi melakukan Jihad."

Saudara Abu Maryam kemudian mengurungkan niatnya. Saudara perempuan Ummi Maryam, yang masih non muslim, terketuk melihat kesabaran saudaranya hingga kemudian ia memutuskan menjadi seorang muslimah. Saat ini alhamdulillah, ia telah menikah dan suaminya pun pergi berjihad.

ABU MUAZ AL-KUWAITi
Abu Muaz Al-Kuwaiti (Adil Al-G hanim), berasal dari Kuwait. Komandan Mujahidin Asing. Syahid dalam operasi Miracle pada tanggal 21 Juli 1995, sebuah operasi militer yang dilakukan untuk merebut kembali wilayah Muslim yang dirampas tentara Serbia.
Berumur akhir dua puluh. Kisah dari orang pertama

Abu Muaz adalah anak seorang gubernur di Kuwait. Ia juga seorang atlet nasional Kuwait. Ia memegang rekor nasional Kuwait dan pernah mengikuti Olimpiade. Abu Muaz mengikuti jihad di Afghanistan selama enam tahun. Dalam masa itu, setiap beberapa bulan ia kembali ke Kuwait untuk menggalang dana dan kesadaran kaum muslimin tentang Jihad di Afghanistan. Ia berkeliling ke masjid-masjid di Kuwait, dan berdiri memberikan ceramah seusai shalat berjamaah, untuk mengingatkan mereka tentang kewajiban membantu saudara- saudara seiman di Afghanistan.

Abu Muaz tiba di Bosnia pada 04 Mei 1994 dan segera dipercaya menjadi komandan mujahidin asing, karena pengalaman militer dan organisasinya selama jihad di Afghanistan. Ia seorang mujahid yang sangat tawadhu. Dalam Operation Miracle di bulan Juli 1995, karena posisinya yang senior, Abu Muaz tidak ditempatkan dalam regu penyerbu. Hal ini membuatnya sangat sedih.

Setelah operasi ini selesai, Abu Muaz pergi ke puncak gunung dan mengkonsolidasi pasukannya. Ia kemudian terkena tembakan di kakinya dan gugur sebagai syuhada. Empat hari kemudian, seorang mujahid yang berasal dari Madinah Al-Munawarrah yang juga berjihad di Bosnia melihatnya di dalam mimpi. Ia melihat Abu-Muaz kembali ke masjid di dalam kamp mujahidin di garis depan.

Mujahid itu menuturkan:
"Saya melihat Abu-Muaz bertemu dengan para mujahidin, semua orang tampak gembira bertemu kembali dengannya. Tampak kaki bagian atasnya dibalut, tepat dimana ia tertembak. Saya merasa kesal, bagaimana mungkin ia berada di sini jika ia seharusnya syahid? Maka saya dekati dia, kemudian saya bersalaman dengannya dan bertanya,
'Abu-Muaz, mengapa engkau di sini? Apakah engkau syahid atau tidak?’

Ia berpaling dan tidak mengatakan apa-apa. Kemudian, saat tidak ada yang melihatnya, ia segera menuju ke pintu keluar masjid. Saya tahu dia akan keluar dan pergi, jadi saya menunggunya di pintu keluar masjid. Ia meninggalkan masjid dan pergi keluar. Kemudian saya melihat sebuah lempengan di bawahnya yang mengangkatnya naik ke arah langit. Saya kemudian mengejarnya, menangkap kakinya dan berkata,
"Abu-Muaz! Saya mohon beritahu saya apa yang terjadi! mengapa engkau di sini? Apakah engkau syahid atau tidak?"
Ia menjawab, "Y a, saya syahid."
Saya bertanya padanya, 'Seperti apa mati syahid itu?’
Ia menjawab, 'Pada hari operasi itu, sebuah jendela terbuka di langit menuju surga dan semua
mujahidin yang akan syahid pada hari itu pergi melalui jendela itu langsung menuju surga."

Saya kemudian bertanya, 'Bagaimana rasanya mati syahid?'
Ia menjawab,’Engkau tidak merasakan apapun. Begitu engkau mati, muncul dua gadis cantik
berambut pirang yang mengantar engkau ke surga.’
Aku bertanya,'Seperti apa surga itu?'
Abu-Muaz menjawab, 'Bukan cuma satu surga, tapi banyak surga! '
Saya bertanya lagi, 'Bagaimana dengan kenikmatan dan kesenangannya?’
Ia menjawab, 'Setiap hari dan di setiap tempat.'
Abu-Muaz kemudian berkata, ‘Sekarang lepaskanlah aku.'
Maka saya kemudian bertanya pada Abu-Muaz, ‘Satu pertanyaan terakhir, dapatkah engkau
memberitahu saya, apakah saya akan mati syahid?

Abu-Muaz mengatakan, 'Saya tidak dapat mengatakannya padamu'
Maka saya kemudian bertanya, ‘Dapatkah engkau memberitahu saya, dengan datang dalam
mimpiku beberapa hari sebelum saya mati?' dan Abu-Muaz menjawab,
'Saya akan mencoba. Sekarang lepaskanlah saya.'
Seorang mujahid lainnya yang mengenal Abu Muaz dengan dekat menceritakan:

"Ia seorang yang sangat kaya di Kuwait, namun masih mengingat kewajibannya terhadap Jihad. Ia menghabiskan enam tahun di Afghanistan dan setelah perang Afghanistan selesai, ia datang ke Bosnia. Saudaraku ini berbicara sangat singkat, namun jika ia bicara, ia akan memberikan pelajaran tentang Islam dan berita akan apa yang terjadi di Bosnia. Dan bila ia berbicara, ia membuatmu merasa senang. Bahkan jika berita itu berita yang paling buruk sekalipun, ia membuatmu merasa senang mendengarnya. Karena akhlak baiknya dan pengalaman organisasionalnya, para ikhwan mujahidin memilihnya menjadi komandan seksi mujahidin asing.

Sebuah nikmat yang Allah berikan padanya adalah tafsir mimpi. Para mujahidin biasa bertanya tentang mimpi mereka padanya dan ia akan menjelaskan artinya, dan sangat sering penjelasannya sesuai dengan kenyataan. Saudaraku ini bekerja siang dan malam untuk Islam dan saudara-saudara mujahidin lainnya. Dan pada operasi Miracle Allah mengambilnya sebagai seorang syahid. "

Ketika masih hidup, Abu Muaz pernah bercanda, ‘Jika saya mati, jika Allah menerima saya
sebagai syuhada, ambillah gambar wajah saya dari kiri ke kanan, agar orang-orang dapat melihat apakah ini wajah seorang Arab atau bukan!’ Ia mengatakan ini untuk menjawab orang-orang'

yang membantah adanya kehadiran mujahidin asing di Bosnia. Nyawanya meninggalkan tubuhnya dengan sebuah senyum khas di wajahnya dan video kamera mengambil gambar wajahnya dari berbagai sudut, sebagai bukti akan dua hal:
  • (i) bahwa ini adalah seorang mujahid asing yang bukan berasal dari Bosnia dan
  • (ii) untuk menunjukkan bahwa sebagian mujahidin syahid dengan senyum di wajah mereka.
Semoga Allah menjadikan engkau tetap tersenyum, wahai Abu Muaz, dan mengangkatmu
bersama barisan para Nabi dan para mujahidin yang syahid sebelummu. Amin.

“Sesungguhnya tetesan darah yang pertama kali tercucur dari salah seorang di antara kalian, menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosanya oleh Allah, sebagaimana Dia merontokkan dedaunan dari dahan pepohonan, dan dua orang bidadari bergegas menyongsongnya, serta mengusap debu yang menempel di wajahnya, keduanya berkata,’Selamat datang bagimu.’ Dan dia pun menjawab,’Selamat datang bagi kalian berdua.“ (Hadits Riwayat al-Bazzar dan Thabrani)

"Dari Abu Hurairah ra, dia berkata : disebutkan perihal orang yang mati syahid dari Nabi SAW, beliau berkata : Bumi tidak Bumi tidak akan kering dari darah syahid sehingga dua orang istri bergegas menyongsongnya, seolah-olah mereka seperti dua ekor burung yang baru disapih dalam sarangnya di suatu bumi, dan di tangan mereka masing-masing daripadanya ada pakaian yang nilainya lebih baik daripada dunia dan seisinya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Majah)



ABU MUSA AL-ALMAANI Abu Musa Al-Almaani, dari Jerman. Kameramen mujahidin Bosnia. Syahid pada operasi Miracle, Bosnia, 21 Juli 1995.
Kisah dari orang pertama.
" Saya berpikir apakah lebih baik melempar granat ke dalam atau menaruh kamera di dalam
bunker"
Abu Musa dilahirkan dari keluarga asal Turki di Jerman, namun keluarganya tidak memiliki uang sehingga menjualnya ke sebuah keluarga Jerman, yang mengasuhnya sebagai seorang non-Muslim. Di masa kecilnya, ia menjadi seorang siswa teladan dan bertingkah laku sangat baik. Tidak seorangpun merasa bahwa ia berbeda karena warna kulitnya tidak berbeda.

Namun tiba-tiba pada umur 15 tahun keadaannya mulai berubah. Ia mulai membuat masalah di sekolah dan ragu akan identitasnya. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya dan ia bukan seorang Jerman.
Suatu kali ia pernah bertengkar dengan ibu angkatnya yang mengatakan pada Abu Musa,

"Kamu bukan anakku.”Abu Musa menuturkan, "Kalimat itu terpatri dalam benak saya, lalu saya kembali dan bertanya pada ibu saya apa maksudnya. Ia menolak memberitahu, namun setelah saya berusaha membujuknya, ibu saya mengungkapkan semuanya. Ia masih menjalin komunikasi dengan orang tua kandung saya, lalu saya pergi untuk menemui mereka dan kemudian tinggal bersama mereka. " Demikianlah Abu Musa tinggal bersama orang tua aslinya selama beberapa tahun,
hingga pada saat berusia 21 tahun ia memutuskan untuk pergi ke Bosnia

Abu Musa mempunyai pengalaman dengan video film dan editing, sehingga di Bosnia ia menjadi kameramen para mujahidin. Dengan demikian, selain membawa senapan Kalashnikov, ia selalu membawa kameranya dalam setiap pertempuran. Ia mendokumentasikan pertempuran di garis depan sambil ikut bertempur bahkan mencapai bunker tentara Serbia sebelum mujahidin lainnya. Ia berdiri di atas bunker-bunker itu, dengan orang-orang Serbia di dalamnya masih terus menembak.

Ia berkata pada seorang mujahidin, bahwa pada saat ia sampai di sebuah bunker, “Saya berpikir apakah lebih baik melempar granat ke dalam atau menaruh kamera di dalam bunker…” dan akhirnya ia memilih menaruh kamera di dalam untuk mendapatkan gambar terbaik, mengeditnya dan mengirimkannya kembali pada kaum muslimin yang tidak tahu sedikitpun tentang Jihad. Dengan demikian, mereka dapat melihat Jihad dalam pesawat televisi mereka dan mengetahui tentang kewajiban yang telah dilupakan Dunia Islam ini.

Itulah cita-citanya, ia ingin membuat rekaman yang terbaik dan karena itu ia selalu berada di garis depan bersama kameranya. Dalam operasi Miracle, ia berada dalam kelompok yang terdiri dari empat mujahid asal Turki yang bersumpah akan bertempur sampai mati. Mereka menepati janji mereka pada Allah, maka Allah menepati janjiNya pada mereka.

Banyak orang yang mengenal Abu Musa akan menggambarkannya sebagai orang yang kocak. Orang lainnya mungkin menilainya sebagai orang yang kurang cerdas namun sebenarnya ia sangat cerdas dan insya Allah, telah mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah (SWT)


ABU MUSLIM AL-IMARAATI Abu Muslim Al-Imaraati, dari Uni Emirat Arab (UAE). Komandan lapangan mujahidin asing di Bosnia. Syahid dalam Operation Miracle, Bosnia Utara, pada 21 Juli 1995. Kisah dari orang pertama

Ia tidak pernah sempat melihat anak lelakinya, namun Allah akan mengumpulkannya bersama
keluarganya di Surga, Insya Allah..."

Abu Muslim adalah saudara kami yang sangat lemah lembut. Namun pada musim panas, sifatnya berubah. Ia menjadi sangat berani di medan pertempuran. Bahkan ia mulai melakukan misi pengintaian seorang diri, dan pulang membawa tas yang penuh berisikan ranjau musuh yang berhasil digalinya seorang diri.

Saat Abu Muslim mendengar tentang Jihad di Bosnia, istrinya baru saja hamil. Namun ia memilih membela muslim Bosnia dan berangkat berjihad, dengan membawa kenangan akan keluarganya dan harapan untuk dapat bertemu mereka kembali jika masih ia hidup.
"Harta dan anak-anakmu adalah perhiasan dan cobaan dunia, dan di sisi Allah-lah
balasan yang agung," [Quran 64:15]

Anak lelakinya lahir saat ia berada di Bosnia. Setelah beberapa bulan berjalan, ia belum juga melihat anaknya. Akhirnya Abu Muslim berniat untuk pulang dan menemui keluarganya untuk sementara setelah operasi ini (Operation Miracle) dilakukan. Dalam operasi ini, Abu Muslim dan kelompoknya, Alhamdulillah, berhasil merebut sebuah tank dari tentara Serbia. Setelah merebut tank itu mereka terus bergerak maju dan Allah (SWT) mentakdirkan Abu Muslim syahid dalam operasi itu.

"Ia tidak pernah sempat melihat anak lelakinya, namun Allah akan mengumpulkannya
bersama keluarganya di Surga, Insya Allah..."

"Orang yang mati syahid itu dapat memberikan syafaat kepada 70 orang di kalangan
keluarganya." (Hadits Riwayat Abu Dawud)
ABU MUSLIM AL-TURKI Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun.
Kisah dari orang pertama

Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

Tak lama kemudian, Abu Muslim mendengar tentang situasi di Bosnia, dan berkata pada dirinya bahwa saya harus berangkat ke Bosnia, saya harus bertaubat pada Allah dan bertempur melawan pasukan Serbia, semoga dengan demikian Allah mengampuni semua yang telah saya lakukan di masa lampau.

Ia tiba di Bosnia pada musim gugur 1992 dan mengikuti training pada sebuah kamp di Mehorich. Abu Muslim adalah orang yang paling tua di antara para mujahidin. Saat mujahidin melakukan lari pagi, mereka semua harus menggenggam sebuah senapan, kecuali Abu Muslim, karena usianya yang tua dan kepayahan fisiknya. Orang yang melihat matanya akan mendapatkan mata seorang yang benar dan jujur kepada Allah.

Dalam sebuah operasi melawan pasukan Kroasia, Amir pasukan tidak memilihnya untuk ikut dalam operasi tersebut karena usianya yang tua. Namun Abu Muslim mulai menangis, meraung-meraung bagaikan seorang bayi hingga Amir pasukan terpaksa memasukkannya untuk ambil bagian dalam operasi tersebut.

Dalam operasi tersebut Abu Muslim tertembak di lengannya hingga menghancurkan tulangnya dan sebatang logam harus ditanamkan di lengannya selama enam bulan. Abu Muslim rajin melatih lengannya, dan setelah 45 hari dokter mengatakan bahwa logam tersebut sudah dapat diambil dari tangannya. Semua orang terkejut mendengar kabar tersebut.

Sebelum dilakukan sebuah operasi besar terhadap pasukan Kroasia, Abu Muslim mendapat mimpi, di mana ia melihat Rasulullah SAW dan mencium kakinya. Kemudian Rasulullah SAW berkata padanya,”Janganlah kau cium kakiku.” Kemudian Abu Muslim mencium tangan Rasulullah SAW, hingga Rasulullah berkata padanya,”Jangan kau cium tanganku.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya padanya,”Apa yang kamu inginkan hai Abu Muslim?” Abu Muslim menjawab,” Y a Rasulullah, berdoalah pada Allah untukku, agar dalam operasi besok
saya mati syahid.”

Sebelum operasi tersebut dijalankan, Amir pasukan, yaitu Komandan Abul Haris memilih personil yang akan ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia menolak Abu Muslim untuk ikut, karena masih terluka dan belum pulih.

Seorang mujahid yang hadir saat itu berkata,” Aku bersumpah pada Allah bahwa Abu
Muslim mulai menangis seperti bayi dan berkata pada Amir, ‘Takutlah pada Allah! Abul
Haris, saya akan menuntutmu di hari Kiamat jika engkau tidak mengikutkanku dalam operasi ini.”
Saat komandan Abul Haris menyuruhnya untuk tidak berteriak karena kuatir didengar
musuh, Abu Muslim menjawab, ”Demi Allah, jika engkau tidak memilih saya dalam operasi ini

Abul Haris, saya akan menangis keras hingga terdengar ke seluruh negeri.” Lalu ia berkata,”Ikutkan saya dalam operasi ini di mana saja, meskipun sebagai orang yang paling belakang, ikutkanlah saya dalam operasi ini.”

Akhirnya Abu Muslim diikutkan dalam operasi ini di posisi belakang. Namun jalannya pertempuran berubah, hingga barisan belakang menjadi barisan depan (berhadapan dengan musuh – penerjemah) dan barisan depan menjadi barisan belakang. Abu Muslim menjadi mujahid kedua yang syahid dalam operasi itu oleh sebuah peluru yang mengenai dadanya.

Tubuhnya baru dikembalikan oleh pasukan Kroasia setelah tiga bulan, bersama tubuh saudara senegaranya Daud al-Britany. Sebuah aroma wangi tercium dari tubuhnya yang tampak tidak berubah meskpun tiga bulan telah berlalu. Semua orang yang menyaksikannya mengatakan bahwa tubuhnya menjadi lebih tampan dan tampak lebih putih daripada ketika terakhir kalinya mereka melihat Abu Muslim.

Seorang mujahid bertutur bahwa dari semua jenazah para syuhada yang pernah dilihatnya
di Bosnia, tidak ada yang lebih tampan daripada jenazah Abu Muslim at-Turki.

"Barangsiapa yang menderita suatu luka dalam jihad fi sabilillah, kelak ia akan datang pada hari kiamat, baunya seperti bau harum minyak kesturi, dan warnanya seperti warna za’faron, ada ada cap syuhada’ padanya. Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)


ABU SAHAR AL-HAILI
Abu Sahar Al-Haili dari from Hail, Jazirah Arab. Syahid oleh pasukan Kroasia di Travnik, Bosnia Utara tahun 1993.
Kisah dari orang pertama.

Seorang mujahid yang sangat berani dan sabar. Suatu hari ia melakukan perjalanan di Travnik, Bosnia utara, bersama sekelompok Mujahideen. Mereka dihentikan oleh pasukan Kroasia yang memblokir jalan. Abu Sahar mengajak para mujahidin untuk bertempur dan tidak menyerah. Namun para mujahidin yang lain mengusulkan agar mereka menyerah karena mungkin mereka akan dilepaskan di kemudian hari.

Saat hendak menahan mereka, pasukan Kroasia melihat senapan Kalashnikov milik Abu Sahar tidak dikunci dan siap ditembakkan. Mereka menembaknya lima kali saat ia berteriak “Laa ilaaha illallah, muhammadun rasuulullah!”. Kami memohon Allah agar menerimanya sebagai syuhada.



ABU SAIF ASH-SHAHRANI AT-TAIFI DAN ABU HAMAD
AL-OTAIBI
Abu Saif Ash-Shahrani dan Abu Hamad Al-Otaibi, keduanya berasal dari Arab Saudi. Syahid dalam operasi untuk mempertahankan Byala-Bucha, sebuah desa muslim di dekat Travnik, Bosnia Tengah, melawan tentara Serbia pada tahun 1993. Mereka berumur dua
puluh tahunan. Kisah dari orang pertama.
"Mereka saling mencintai di dunia ini, dan mereka saling mencintai di akhirat nanti."

Abu Saif adalah seorang tentara di Angkatan Darat Arab Saudi. Suatu hari ibunya melihat berita di televisi mengenai genocide (pembantaian) yang dilakukan terhadap muslim Bosnia. Saat melihat berita itu ia berkata pada anaknya, Abu Saif, “Anakku! Bangun dan pergilah! Lihat apa yang mereka lakukan, mereka memperkosa dan membunuh saudara-saudara kita. Bangun dan pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi!”
Abu Saif pergi ke Riyadh, dimana mereka bertemu dengan Abu Hamad Al-Otaibi. Keduanya berangkat bersama ke Bosnia. Setelah perjalanan yang panjang dan menyulitkan, akhirnya mereka tiba di sebuah kamp mujahidin pada hari Rabu. Saat itu mereka telah menjadi teman baik. Dan seluruh mujahidin mengetahui betapa dalamnya cinta di antara mereka. Mereka menyelesaikan training dan akhirnya sampai di garis depan di desa Biala- Bucha pada hari rabu.
Abu Khalid Al-Qatari, seorang mujahidin dari Qatar menuturkan, pada malam pertama
mereka garis depan, "Abu Hamad mendekatiku pada pukul satu tengah malam, lalu

membangunkanku dan berkata,’ Abu Khalid, bangunlah! Shalat di waktu ini lebih baik dari dunia dan segala yang ada di dalamnya!’ Kemudian aku bangun dan pergi untuk mengambil wudhu. Saat aku kembali, aku tidak mencari Abu Hamad tapi aku tidak berhasil menemukannya. Kemudian aku memasuki sebuah ruangan kecil di sudut rumah dimana senjata-senjata disimpan dan saya melihat Abu Hamad berdoa sambil menangis, 'Allahumar - zuqni - Syahadah, Allahumar - zuqni - Syahadah, (Y a Allah, berilah aku rizqi berupa mati syahid).

Abu Hamad pergi ke Bosnia meskipun ia menderita penyakit yang serius, yang menyebabkannya kesakitan dan membuatnya terjaga di malam hari. Sebagian mujahidin bahkan mendengarnya menangis dan memukul-mukul tembok di tengah malam karena menahan rasa sakit. Namun Abu Hamad selalu menyempatkan membawakan air dari sumur bagi saudaranya para mujahidin, meskipun saat itu bukan gilirannya.
Suatu hari orang-orang Serbia melancarkan serangan pada desa itu, sehingga mujahidin keluar untuk menghadapi mereka. Abu Saif di berada di depan grup, sedangkan Abu Hamad ada di belakang. Sebuah mortir 120 mm tiba-tiba datang dan meledak di dekat Abu Hamad. Pecahannya menghancurkan mulut dan tenggorokannya. Abu Hamad jatuh ke tanah, ia mengangkat jari telunjuk kanannya tiga kali, hingga Allah mengangkat ruhnya dari tubuhnya. Seluruh mujahidin sepakat untuk tidak memberitahukan kematian Abu Hamad pada Abu Saif, karena hal ini pasti akan membuatnya sangat sedih dan terpukul.

Saat Abu Saif bertemu para mujahidin lainnya setelah ledakan tersebut, ia mencari-cari Abu Hamad. Para mujahidin mengatakan bahwa Abu Hamad telah kembali ke desa itu, namun ia menitipkan senapan mesin PK-nya untuk Abu Saif. Abu Saif sangat gembira dan mengambil senapan itu. Dalam jalannya operasi, Abu Saif berada di garis depan, ia menewaskan banyak tentara Serbia dengan senapan PK tersebut hingga tertembak di dadanya.

Para mujahidin menjelaskan bahwa setelah tertembak Abu Saif masih tetap berjalan sejauh kira-kira dua puluh meter, ia memegang senapan mesinnya sambil melihat ke langit, dan berkata pada para mujahidin di sekitarnya, "Lihat, lihatlah ke langit! Lihatlah apa yang saya
lihat!” (Maksudnya ia dapat melihat surga sesaat sebelum syahid, sebagaimana terjadi terhadap
banyak syuhada sepanjang sejarah Islam)
Para mujahidin menjawab, “Kami tidak dapat melihat apa-apa.” Para mujahidin terheran- heran melihat hal itu, kemudian tiba-tiba tembakan kedua mengenai kepalanya, setengah otaknya jatuh ke tanah, kemudian Abu Saif bersujud dengan masih memegang senapan PK milik Abu Hamad, sambil mengatakan "ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!" Salah satu mujahidin berusaha untuk mengambil senapan PK yang dipegangnya, namun Abu Saif memegang senapan itu dengan erat, tidak mau melepaskannya hingga nyawanya meninggalkan tubuhnya.

Abu Saif dan Abu Hamad dikuburkan bersama dalam liang lahat yang sama pada hari Rabu. Mereka seperti dua orang sahabat Nabi yang syahid dan dikuburkan bersama-sama hingga Rasulullah SAW bersabda, " Mereka saling mencintai di dunia ini, dan mereka saling
mencintai di akhirat nanti.
Sesungguhnya orang yang mati syahid akan memperoleh tujuh hal di sisi Allah: Diampuni dosa-dosanya pada saat pertama kali menetes darahnya, melihat tempat tinggalnya di surga, dikenakan padanya pakaian iman, diberi perlindungan dari siksa kubur, aman dari ketakutan besar pada hari kiamat, diletakkan di atas kepalanya mahkota keagungan, yang satu permata yaqut dari mahkota itu lebih baik daripada dunia dan seisinya, serta dikawinkan dengan tujuh puluh dua orang istri dari bidadari, dan dapat memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang karib kerabatnya.“ (Hadits Riwayat Ahmad dan Thabrani)



ABU THABIT AL-MUHAJIR
Abu Thabit Al Muhajir, dari Mesir. Komandan dan amir di garis depan. Syahid dalam operasi Badar di Bosnia pada 10 September 1995. Berusia awal tiga puluhan. Kisah dari orang pertama
Abu Thabit adalah seorang tentara yang sangat berpengalaman di tentara Mesir. Ia menghabiskan enam tahun di Afghanistan, untuk bertempur dan melatih para mujahidin. Ia datang ke Bosnia di awal perang pada tahun 1992 dan dipercaya sebagai Amir di garis depan.

Mujahid ini begitu berani sehingga ketika bertempur, ia tidak pernah merunduk untuk menghindari peluru. Meskipun ia seorang komandan, ia mempunyai karakter yang membuatnya disukai sebagai seorang teman. Ia membuat setiap orang merasa menjadi sahabatnya, dan bila melihatnya, kita akan teringat pada para sahabat Nabi SAW.
Dalam beberapa menit pertama operasi Badr, ia tertembak dua kali namun tidak mengeluarkan suara apa pun. Ia tetap bertempur, hingga peluru yang ketiga menembus jantungnya. Tanpa ada ekspresi rasa sakit, ia menoleh para mujahidin di belakangnya, lalu tersenyum dan berkata,”Saudaraku, saya terkena tembakan.” Kemudian ia menutup matanya dan berakhirlah kisah hidupnya.

“Orang yang mati syahid tiada merasakan sentuhan kematian melainkan hanya seperti salah seorang di antara kalian merasakan dicubit.” (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)



ABU UMAR AL-HARBI Abu Umar Al-Harbi, berasal dari kota Madinah Al-Munawarrah, Saudi Arabia. Komandan unit. Syahid dalam operasi Miracle di Bosnia pada 21 Juli 1995. Berumur awal dua puluhan. Kisah dari orang pertama.
Abu Umar Al Harbi datang dari Madinah Al-Munawarrah ke tanah jihad Bosnia dan meninggalkan kehidupan yang mewah dan berlimpah di belakangnya. Begitu sampai di kamp yang berada di garis depan, ia tidak pernah lagi kembali ke kota. Selama dua tahun ia berada di kamp, ia tidak pernah ingin kembali ke kota di mana terdapat kehidupan dunia yang menarik dengan toko-toko dan restaurannya. Ia menghabiskan waktunya di kamp atau di bunker-bunker yang berada di pegunungan. Bahkan jika ia membutuhkan sesuatu dari kota ataupun dari markas besar, ia meminta bantuan para mujahidin untuk mengambilkan atau membelinya dari kota.
Al-Harbi selalu berusaha untuk membuat para mujahidin tertawa dan terhibur. Di manapun ia berada, ia selalu membawa suasana yang riang, sehingga ia dicintai dan sangat populer di mata semua mujahidin. Jika seseorang melihatnya, ia tampak seperti seorang yang sering bercanda, namun ia seperti singa di tengah pertempuran.
Meskipun rasa humornya tinggi, kecintaannya terhadap sesama muslim sangat tinggi. Saat pembantaian kaum Muslimin di Srebrenica terjadi pada tahun 1995 (dimana sekitar delapan ribu kaum muslimin tewas dibantai oleh tentara Serbia dalam waktu satu minggu, padahal Srebrenica dijaga oleh pasukan UNPROFOR PBB), Abu Umar Al-Harbi tampak sangat sedih dan terpukul, melebihi mujahidin lainnya.
Dalam operasi Miracle, Harbi dipercaya menjadi komandan unit khusus yang terdiri atas
enam mujahidin. Tugas yang diberikan pada mereka adalah untuk merebut tiga buah bunker
Serbia yang terletak di medan yang paling berbahaya. Bunker yang pertama berada di tengah lapangan terbuka yang ditanami ranjau. Tidak ada pohon ataupun semak-semak yang dapat dipakai berlindung, dan hanya ada satu jalan akses keluar masuk yang langsung mengarah ke bunker tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan bunker lainnya yang biasanya tersembunyi oleh pohon-pohon ataupun gundukan tanah.

Rencana penyerangannya adalah sebagai berikut : Salah satu mujahidin akan membuka serangan terhadap bunker tersebut dari salah satu sisi dengan RPG (granat berpeluncur roket), kemudian mujahidin lainnya akan berlari maju melalui jalan akses yang ada. Saat mujahidin mengambil posisi dan menunggu saat-saat untuk menyerang, orang-orang Serbia di bunker itu mulai menembak, seakan-akan mereka tahu bahwa mujahidin akan menyerang. Para mujahidin di unit tersebut panik, dan saat mereka semua berpikir apa yang harus dilakukan, Al-Harbi segera berlari cepat mendekati bunker tersebut, melintasi lapangan terbuka di tengah-tengah tembakan yang mengarah pada para mujahidin. Para mujahidin lainnya ragu-ragu untuk mengikutinya dan berteriak padanya, “Apakah ada ranjau?’. Al-Harbi hanya menjawab,”ALLAHU-AKBAR!", sambil terus berlari.
Melihat pemimpin mereka berlari, akhirnya mujahidin lainnya ikut berlari menyerbu bunker tersebut. Al-Harbi akhirnya berhasil mendekati pintu masuk bunker Serbia dan hanya berjarak dua meter dari dua orang Serbia di dalamnya. Mereka menembaki Al-Harbi dan ia pun menembaki mereka. Saat ia berhasil menewaskan salah satu tentara Serbia, seorang tentara lainnya menembak Al-Harbi di keningnya dan ia pun gugur syahid.
Keesokan harinya, salah satu mujahidin melihat Al-Harbi dalam sebuah mimpi. Wajahnya
tampak sangat putih dan bercahaya. Mujahid itu bertanya padanya :
"Apa yang terjadi padamu?"
Al-Harbi menjawab, "Pada malam sebelum penyerangan, kami semua berada di sebuah bunker digunung. Saat itu saya tertidur dan kemudian saya berada dalam keadaan junub. Saat saya bangun, saya sadar bahwa tidak mungkin saya mandi wajib saat itu, jadi saya melakukan operasi tersebut dalam keadaan junub. "
Al-Harbi tahu bahwa dalam situasi ini, ia dapat melakukan tayammum, dan kemudian melakukan shalat, karena jihad lebih penting daripada turun gunung untuk mandi wajib. Bahkan ia adalah komandan (amir) kelompok itu, tidak mungkin ia menunda operasi itu hanya agar ia dapat melakukan mandi wajib.
"Saat saya mendekati bunker Serbia itu dan menembaki orang-orang di dalamnya, saya merasa ada sesuatu yang menempel pada kening saya, kemudian tiba-tiba saya merasa ada dua sosok yang memegang ketiakku dan mengangkatku dengan cepat sekali naik ke langit, kemudian para malaikat memandikan saya.”

Kejadian ini serupa dengan kejadian yang terjadi pada sahabat Rasulullah SAW, Hanzhalah ra, yang syahid dalam pertempuran sebelum ia dapat melakukan mandi wajib satu hari setelah malam pengantin. Rasululllah SAW mengatakan bahwa para malaikatlah yang memandikan Hanzhalah.

ABU ZAID AL-QATARI Abu Zaid al-Qatari, dari Qatar. Syahid dalam operasi Black Lion, Mei 1995, umur 17 tahun
Al-akh mujahid ini begitu muda, namun hatinya begitu bersih, hingga ia melihat Huur- al’Iin, bidadari surga, bukan dalam mimpi, namun ketika ia menjalankan tugas jaga(ri bat h ) di posisinya di tengah pegunungan. Setiap malam ketika ia memandangi langit, ia biasa melihat seorang wanita cantik yang mendatanginya. Namun ia tidak pernah memberitahukan hal ini kepada orang lain, kecuali pada seorang mujahid sahabatnya. Dari dialah kami mengetahui hal ini.

Abu Zaid Al-Qatari syahid dalam operasi Singa Hitam setelah ia berhasil membunuh empat tentara Serbia. Banyak kejadian yang dialami kaum Salaf (pendahulu) kita, dan bahkan pada masa hidup Rasulullah SAW, dimana bidadari surga turun dan menunjukkan dirinya pada kaum muslimin, sebagai kabar gembira agar mereka tetap bersabar di jalanNya.



ABU ZUBAIR AL-MADANI
dari Madinah Al-Munawarrah. Syahid dalam operasi militer untuk mempertahankan bandara Sarajevo, Oktober 1992. Umur 24 tahun.
Lahir dan dibesarkan di Madinah, ia beranjak dewasa dalam kecintaan pada Islam. Bertahun-tahun ia habiskan untuk belajar dan menyebarkan dinullah ini. Ia berangkat ke Afghanistan untuk bergabung dengan saudara seiman yang berperang di jalan Allah. Ia beserta para mujahidin ketika mereka merebut Jaaji, Jalalabad dan Kabul.

Setelah Kabul berhasil dikuasai, ia kembali ke Madinah dan tiinggal selama beberapa bulan. Ia dikaruniai suara yang indah, dan ia memanfaatkannya untuk membuat album kaset audio mengenai para syuhada Afghanistan. Album itu dinamai 'Qawaafilusy-Syuhadaa' (Kafilah para syuhada). Ia selalu berbicara dan berpikir tentang satu hal, yaitu syahadah atau mati syahid.
Suatu kali ia ditanya, "Mengapa engkau memburu syahid, bukankah engkau belum berbuat banyak untuk Islam?" Ia menjawab, "Lihatlah apa yang telah diberikan oleh saudara-saudara yang syahid sebelumnya. Nyawa kita adalah yang paling berharga yang bisa kita berikan."

Pada musim panas 1992 ia mendengar mengenai kekejaman yang dialami saudara seiman di Balkan dan pergi ke sana bersama temannya dari kota yang sama, Abul-Abbas Al-Madani. Selama dua bulan mereka bertempur untuk mempertahankan bandara Sarajevo, dalam pertempuran yang sengit dan membuat banyak orang melarikan diri dari medan pertempuran, kecuali Abu Zubair dan Abul-Abbas. Mereka tetap tinggal dan bertempur melawan tentara Mesir yang berada dalam Pasukan PBB hingga mereka gugur syahid.
Kami memohon pada Allah SWT untuk menerima mereka sebagai syuhada, dan
memasukkan mereka ke surga bersama para Nabi, syuhada, muttaqin dan shiddiqiin


ABUL-HARITH AL-BAHRAINI Abul-Harith Al-Bahraini, dari Bahrain. Syahid dalam operasi penyerangan terhadap pasukan Serbia yang mengepung Sarajevo, Bosnia, di dekat kota Visoko pada 29 Desember 1992. Berumur 23 tahun. Kisah dari orang pertama.
Betapa banyak orang yang mencari popularitas dan kekayaan hari ini? Inilah kisah orang yang telah meninggalkan keduanya untuk mengejar keridhaan Allah. Abul-Haarith adalah seorang pemain sepakbola terkenal di Bahrain. Begitu banyak remaja saat ini yang ingin menjadi orang sepertinya. Namun, ia meninggalkan karier sepakbolanya dan pergi ke Afghanistan untuk ambil bagian dalam jihad, demi mencari syahid fi sabilillah.

Ia kemudian pergi Bosnia untuk membantu Jihad di sana. Ia tumpahkan seluruh hati dan jiwanya untuk menyembah Allah. Abul Haarith menjadi teladan dengan akhlak dan keberaniannya. Ia selalu tampak membaca Al-Qur'an, membantu saudara-saudaranya sesama mujahidin atau menjaga garis depan (ribath).

Ia dikenal dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya, juga karena kesabarannya. Ia tidak pernah marah pada sesama mujahidin. Ia melaksanakan sabda Rasulullah SAW, "Senyum pada saudaramu adalah shadaqah” Ia sering tertawa dan membuat para mujahidin tertawa dan merasa terhibur. Abul-Haarith disukai oleh mujahid Arab maupun Bosnia. Ia sering bercanda dengan sesama mujahidin dengan menirukan lagu" y aa
habiibi" kepada para mujahidin. Ia selalu tampak riang dan gembira di siang hari bersama
saudara-saudaranya dalam jihad. Namun ketika malam tiba para mujahidin mendengarnya
menangis dalam shalatnya. Ia biasa menggunakan celak di matanya.
Beberapa hari sebelum operasi dijalankan, Abul-Haarith tampak lebih memperbaiki penampilannya dan mengenakan pakaiannya yang terbaik, seakan-akan ia bersiap bertemu dengan bidadari-bidadari penghuni surga. Sebelum operasi Visoko yang kedua melawan Serbia dimulai, ia memakai celak di matanya dan mengajak para mujahidin melakukan hal yang sama.

Saat pertempuran telah mencapai puncaknya dan para syuhada berguguran, Abul-Haarith menemukan Abu Maryam Al-Afghani terbaring di tanah, nyawanya telah melayang. Abul- Haarith mencium kening mujahidin tersebut dan berkata, "Ya Allah! Kumpulkanlah kami bersamanya".
Kemudian ia bergerak menuju musuh dan saat ia merayap di tanah, Allah mengabulkan doanya. Sebuah peluru sniper musuh mengenainya hingga ruhnya melayang, menemui Tuhannya.

Para mujahidin tidak dapat menguburkannya karena pertempuran yang hebat dan tebalnya salju, sehingga mereka memasukkan jenazahnya ke dalam lubang yang ada pada batang pohon.

„Dua waktu yang mana pintu-pintu langit akan dibuka pada kedua waktu tersebut, dan jarang orang yang berdoa tertolak permohonannya, yakni ketika datangnya seruan shalat dan saat berada di barisan perang di jalan Allah.“ Dan dalam lafazh yang lain disebutkan, “Dua hal yang tidak akan tertolak, yakni : Doa ketika datang seruan shalat, dan doa ketika tengah berlangsung peperangan tatkala sebagian membunuh sebagian yang lain.“ (Hadits Riwayat Abu Daud dan Ibnu Hibban)


Abul-Mundzir dari Yaman. Syahid dalam operasi Miracle, Bosnia, pada tanggal 21 Juli 1995. Kisah dari orang pertama
"... dan pada menit berikutnya saya mendapati diri saya sedang mengendap-endap di surga."

Abul-Mundzir menjadi anggota salah satu tim penyerbu dan ia syahid akibat sebuah tembakan yang mengenai kepalanya. Sehari setelah ia syahid, seorang mujahid bermimpi melihatnya dan bertanya pada Abul-Mundzir, “Apa yang terjadi denganmu?"
Abul-Mundzir menjawab, "Kami sedang berada di tengah hutan dan waktu itu kami sedang

ditembaki. Kami mengendap-endap untuk menghindar. Kemudian saya mengangkat kepala untuk melihat dari mana tembakan itu berasal dan dimana bunker tersebut. Saya melihat ke sekelilingku dan pada menit berikutnya saya mendapati diri saya sedang mengendap-endap di surga.”






Al-Battaar, dari Yaman. Spesialis tank. Syahid dalam operasi Miracle pada 21 July 1995.

Berumur pertengahan dua puluh. Kisah dari orang pertama
Al-Battaar adalah seorang tentara di angkatan darat komunis Yaman. Karena menyukai tank, ia pernah dikirim ke Kuba untuk mempelajari tank ke Kuba. Di sana ia mempelajari tank, luar dan dalam, hingga mengetahui segala hal tentang tank. Saat ia kembali ke Yaman, ia menjadi seorang muslim yang baik. Bukannya kembali ke angkatan darat komunis, ia malah pergi ke Afghanistan dan bertempur selama beberapa lama di sana hingga ia kembali ke Yaman.

Saat ia mendengar mengenai jihad di Bosnia, ia segera pergi begitu mendapat kesempatan. Selama di Bosnia ia memberikan training kepada para mujahidin untuk membagi semua pengetahuannya tentang tank. Ia juga yang mengajarkan para mujahidin bagaimana menyusup di bawah tank yang sedang berjalan, untuk membangun kepecayaan diri para mujahidin bertempur melawan tank-tank Serbia.

Keinginannya yang terbesar adalah menangkap sebuah tank musuh sebagai rampasan perang (ghanimah) dan menggunakannya untuk melawan musuh. Ia ingin menjadi orang pertama yang berhasil merebut tank untuk mujahidin. Dalam operasi Miracle para mujahidin berhasil menangkap sebuah tank dan mereka memanggil al-Battar lewat radio. Saat itu ia sedang menderita luka, namun ia segera menuju garis depan di puncak sebuah gunung dalam keadaan tangannya masih terbalut. Ia masuk ke dalam tank yang tertangkap tersebut dan melarikannya di tengah kejaran tentara Serbia, yang berusaha menghancurkan tank itu agar tidak digunakan oleh para mujahidin.
Battaar berhasil meloloskan diri dan membawa tank itu ke wilayah aman yang dikuasai mujahidin. Setelah memarkir tank tersebut, tanpa beristirahat Al-Battar kembali ke garis depan. Saat mencoba mengevakuasi seorang mujahid yang terluka dari bunker musuh, sebuah mortir meledak di dekatnya dan Allah mengambilnya sebagai seorang syahid.

Salah satu mujahidin yang bersama al-Battar melarikan tank yang tertangkap tersebut menceritakan bahwa ketika mereka berhasil mencapai wilayah mujahidin di kaki gunung, mereka menyadari bahwa mereka berhasil melakukan hal yang hampir mustahil : mereka berhasil merebut sebuah tank Serbia tanpa kehilangan nyawa mereka. Karena itu mujahid tersebut berkata, "Yaa Battaar! Kita tidak layak menjadi syahid, rupanya kita tidak cukup baik
untuk mati syahid.”

Karena mujahid ini juga terluka, maka ia memutuskan untuk kembali ke garis belakang untuk mendapatkan perawatan, karena ia mengira bahwa jalannya pertempuran telah selesai. Namun Battaar menjawab, "Tidak, saya akan kembali ke depan."

dan kemudian ia kembali ke puncak gunung, dimana pertempuran terjadi. Empat jam kemudian, saat Battar dan para mujahidin lainnya memasuki bunker musuh untuk menolong salah satu mujahid yang terluka, sebuah mortir mendarat masuk di dalam bunker itu dan meledak, hingga Battaar syahid di sana.



DAWOOD AL-BRITTANY
Dawood, dari Inggris. Syahid dalam pertempuran melawan pasukan Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, berusia 29 tahun. Kisah dari orang pertama
Dilahirkan dan dibesarkan sebagai seorang Kristen di Inggris, ia mendapatkan pekerjaannya di sebuah perusahaan komputer. Suatu hari ia datang ke tempat kerja menggunakan pakaian muslim. Saat ditanya teman-teman kerjanya, ia mengatakan bahwa kini ia telah menjadi seorang muslim. Seminggu kemudian ia dipecat dari tempat kerjanya dan kemudian berangkat ke Bosnia bersama dua orang lainnya.
Empat bulan kemudian, kedua temannya akan kembali ke Inggris untuk beberapa bulan dan
mereka mengajaknya kembali ke Inggris. Ia menolaknya dan menjawab,”Apa yang bisa aku
lakukan di negeri orang-orang kafir?”Dawood seorang yang tenang namun jenaka. Ia suka
melakukan tugas jaga, di tengah-tengah salju dan udara dingin pegunungan.

Seorang yang sangat cepat belajar Islam dan bahasa Arab, ia juga mencintai sunnah Rasulullah SAW. Ia biasa berbaring di sisi kanan untuk tidur, mencontoh kebiasaan Rasulullah SAW saat tidur. Ia juga biasa shalat malam dan shaum di siang harinya.

Komandan Abul-Harith bertutur tentangnya, “Kami semua tahu bahwa Dawood akan syahid,
karena iman dan takwanya yang meningkat semakin tinggi.
Pada malam sebelum dilaksanakannya operasi, Dawood mendapat mimpi, dimana ia melihat dirinya berlari di sebuah tempat yang dikelilingi beberapa istana yang besar. Ia bertanya, “Kepunyaan siapa istana-istana ini?” Kemudian dikatakan padanya, “Inilah istana
para Syuhada.” Kemudian ia bertanya, “Dimanakah istana Abu Ibrahim?” Abu Ibrahim adalah
seorang mujahid Inggris keturunan Turki yang syahid ditembak oleh tentara Perancis dalam
Pasukan PBB dekat bandara Sarajevo. Kemudian sebuah suara berkata, “Istana Abu Ibrahim
ada di sebelah sana.” Kemudian Dawood berlari ke arah istana temannya, Abu Ibrahim,
namun tiba-tiba ia terjatuh dan terbangun dari mimpinya.

Pagi harinya mujahidin melakukan operasi besar-besaran melawan pasukan Kroasia. Dalam operasi itu, saat sedang berlari, Dawood terkena sebuah peluru di dadanya. Ia gugur syahid, tubuhnya berguling ke arah bunker Kroasia di kaki bukit.

Setelah tiga bulan, tubuhnya dikembalikan kepada pada Mujahidin. Seakan-akan ia baru saja mati, darahnya masih mengalir dan memancarkan aroma wangi misk. Tubuhnya berbaring pada sisi kanan, sebagaimana kebiasaannya saat tidur.



JAMALUDDIN AL-YEMENI
Jamaluddin, dari Yaman. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 19 tahun. Cerita dari pihak pertama Seorang anak muda yang pemberani, Jamaluddin merindukan surga dan bidadari penghuninya sebagai istrinya sejak Jihad di Afghanistan. Ia datang ke Bosnia pada awal terjadinya perang di tahun 1992, dan sangat aktif melayani kebutuhan sehari-hari sesama mujahidin.

Dalam sebuah operasi melawan tentara Kroasia, senapan Kalashnikov milik Jamaluddin mendadak macet. Dengan menggunakan pistolnya ia kemudian menewaskan dua tentara musuh. Dalam operasi yang dimenangkan kaum muslimin itu, sebuah mortir musuh mendarat dan meledak di dekatnya, hingga Jamaluddin syahid dengan separuh tubuhnya hancur.

Setelah operasi tersebut selesai, mujahidin mengumpulkan jenazah personil yang syahid dalam operasi. Mereka menemukan semua jenazah mujahidin, kecuali jenazah Jamaluddin. Tiga hari pencarian telah belalu dan kecemasan melanda seluruh kamp mujahidin, karena kekhawatiran bahwa para tentara Kroasia mungkin mendapatkan jenazah Jamaluddin dan memotong-motongnya.

Hal ini berlangsung selama tiga hari, hingga pada saat menjelang shalat Fajar (shubuh), Amir Mujahidin saat itu, Wahiuddin al-Misri, bermimpi berbicara dengan Jamaluddin. Ia bertanya,
"Jamaluddin! Jamaluddin! Dimanakah tubuhmu, kami telah mencarinya selama tiga hari.”

Jamaluddin menjawab, “ALLAH telah mengurus tubuhku.”
Wahiuddin kemudian bertanya, “Ke mana saja engkau Jamaluddin?”
Jamaluddin menjawab, “Saya telah berbicara dengan ALLAH (SW T )”
“Apa yang Dia katakan padamu?, Wahiuddin bertanya.
Jamaluddin menjawab, “ALLAH (SW T ) bertanya padaku, 'Mengapa engkau datang ke Bosnia,

Jamaluddin?' dan aku menjawab’Y a ALLAH, aku datang ke sini agar engkau ridha', lalu kemudian ALLAH (SW T ) berkata padaku, 'Hari ini Aku ampuni semua dosamu dan engkau boleh tinggal di surga di bagian manapun yang kau sukai. "
Mujahid lainnya, Abu Utsman Al-Kuwaiti berkata tentang Jamaluddin:

Saudara kami Jamaluddin (semoga Allah mengampuninya) pergi ke Afghanistan mencari syahid, namun Allah menakdirkannya menjadi salah seorang syuhada negeri Bosnia. Ia selalu berlaku baik, seorang yang sabar dan selalu taat pada komandan kelompoknya. Ia menjalankan tugasnya dengan rela, baik itu berupa tugas menjaga ataupun mencarikan air untuk para mujahidin.
Beberapa jam sebelum kematiannya ia berkata pada saya, “Abu Utsman, mudah-mudahan kita
bisa bertemu kembali di surga. Saya berharap Allah memilih saya menjadi syahid.” Kami pergi

menuju medan pertempuran sambil bercanda dan tertawa-tawa. Sebelum pertempuran dimulai, Jamaluddin melakukan shalat dua rakaat dan berdoa pada Allah. Kemudian dia berkata pada saya,”Jika kita berpisah di dunia ini, kita akan bertemu kembali di akhirat nanti,
Insya-Allah”
Saya berharap berada dalam grup yang sama dengan Jamaluddin, namun ternyata tidak. Berita kesyahidannya kemudian sampai pada saya dan saya sedih mendengarnya, terlebih karena saya tidak termasuk mereka yang dipilih Allah menjadi syahid.

Saya melihatnya dalam sebuah mimpi, dimana saya melihatnya terbang dengan dua sayap di surga sambil memetik buah-buahan surga. Abu Talib (mujahid lainnya) juga ada dalam mimpi saya dan saya berseru padanya,”Oh saudaraku, lihatlah Jamaluddin. Mari kita meminta
pada A llah agar kita dapat bergabung dengannya, karena ia telah mendapatkan apa yang ia idamkan selama ini”

Rasulullah bersabda : „Tatkala saudara-saudara kalian tertimpa ajal, Allah menjadikan ruh-ruh mereka dalam jasad burung hijau, mereka mendatangi sungai- sungai surga, memakan buah-buahannya dan tinggal di lampu-lampu emas yang tergantung di bawah naungan ‚Arsy. Ketika mereka mendapati makanan, minuman dan tempat istirahat yang sangat nyaman, berujarlah mereka: ‚Siapakah yang akan menyampaikan kepada saudara-saudara kita tentang keadaan kita, bahwa kita ini hidup di dalam surga diberi rizki, agar mereka tidak membenci jihad ataupun merasa lesu dan enggan berperang?’
Maka berkatalah Allah Ta’ala :’Aku yang akan menyampaikan kepada mereka
tentang keadaan kalian.’ Kemudian Allah `Azza wa Jalla menurunkan ayat :
„Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati,
bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.“ (Ali Imran: 169)
(Hadits Riwayat Abu Daud dan Al-Hakim)



Muhammad Badawi, dari Mesir
Syahid dalam operasi Black Lion di Bosnia, pada tahun 1995

Ia adalah saudara yang kami cintai, ia biasa bekerja keras. Suatu kali ia pernah menyalami dan mencium saya dengan cara yang subhanallah, membuat saya merasa bahagia. Sebelum dilakukannya operasi, tampaknya ia tahu bahwa ia akan mati syahid, ia membagi-bagikan uangnya pada para mujahidin, begitu juga dengan barang-barangnya. Pada hari pelaksanaan operasi, sebuah peluru mengenai dadanya saat pertempuran terjadi. Ia terjatuh dan berkata pada mujahidin di sebelahnya, "Andai saja terkena di sini”,
sambil menunjuk keningnya. Beberapa detik kemudian sebuah peluru mengenainya tepat di tempat yang ditunjuknya. Hal ini sebagaimana terjadi dalam sebuah hadits Rasulullah SAW,

Sseorang Baduwi datang kepada Rasulullah SAW dan mereka memberikannya bagian dari Ghanimah (harta rampasan perang). Maka ia mendatangi Rasulullah SAW dan berkata,”Apa ini? Aku datang bukan untuk mendapatkan ini, tapi aku datang agar aku terkena di sini, (sambil menunjuk lehernya) oleh sebuah panah.” Dan keesokan harinya, orang itu tewas dengan sebuah panah di tempat yang ditunjuknya.


Salman Al-Farsi, dari Tunisia. Syahid dalam operasi Miracle di utara Bosnia pada

tanggal 21 Juli 1995. Kisah dari orang pertama
"Tidak salah lagi, ini adalah aroma wangi yang tidak dapat disamai parfum apapun di dunia ini.."
Salman Al-Farsi suka berlatih. Ia suka berlatih di jalan Allah, agar ia menjadi mujahid yang kuat dan mengakibatkan kerusakan sebesar mungkin pada musuh-musuh Allah. Ia selalu mendorong dirinya berlatih dengan niat untuk menghancurkan musuh-musuh Allah.

Salman seorang yang bertubuh besar. Ia tampak menarik perhatian dengan sebuah pedang besar, sepanjang lengan, yang diikatkan pada bahunya. Ia biasa mengenakan kain hitam sebagai ikat kepalanya.

Bila ia berbicara, ia hanya berbicara tentang syahadah (mati syahid) dan jannah (surga). Kedua hal ini yang selalu dibicarakannya, tidak ada yang menarik perhatiannya selain mati syahid dan surga.
Seorang mujahidin bercerita,

"...Dalam operasi kedua saya mengenali rompi yang dipakainya, karena hanya dia yang mengenakan rompi yang dlengkapi pedang. Ia telah syahid, namun para mujahidin tidak berhasil menemukan tubuhnya dan hanya menemukan rompi yang dipakainya. Saya bersama empat mujahidin lainnya mengambil rompi itu dan mencium sebuah aroma yang wangi. Aroma itu berasal dari darahnya. Kami berlima saling melihat satu sama lain karena terkejut dengan aroma wangi itu.
Sebelumnya kami mendengar cerita-cerita tentang aroma wangi itu, begitu pula keajaiban- keajaban lainnya yang terjadi, dan kami tidak pernah meragukannya, namun kami tidak pernah menyangka akan menemui hal ini. Kami mencium wangi itu, begitu pula dua orang tentara Bosnia yang bersama kami.

Tidak salah lagi, ini adalah aroma wangi yang tidak dapat disamai parfum apapun di dunia ini.. Aroma wangi itu begitu indah dan membuat kami merasa tenang dan nyaman. Insya Allah, ini adalah tanda bahwa Salman telah syahid, juga tanda bagi para mujahidin yang mencium aroma ini, bahwa jalan ini (jihad –penerjemah) adalah jalan yang benar dan agar tetap bersabar di jalan ini.”


Sayyad al Filistini, syahid pada 12 Desember 1995 dalam usia 18 tahun, dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-19.
Sayyad berasal dari sebuah keluarga asal Palestinia yang bermukim di Inggris. Ia lahir di London selatan. Saat ia kecil, keluarganya beremigrasi ke Saudi Arabia. Di sanalah ia menghabiskan masa kecilnya. Ketika menginjak remaja ia kembali ke Inggris. Sayyad seorang remaja yang ceria, ia sering bercanda dan tertawa. Saat berumur enam belas tahun, untuk pertama kalinya ia mendengar mengenai konflik Bosnia dari sebuah khutbah yang diberikan seorang pemuda yang pernah terlibat jihad di Bosnia. Saat itu telah timbul keinginannya untuk berangkat ke Bosnia.

Kemudian ia memasuki perguruan tinggi. Di sana ia terpilih menjadi amir organisasi mahasiswa islam. Dengan semakin banyak pengetahuan Islamnya, keinginannya untuk berjihad di Bosnia hidup kembali. Ia mulai bekerja dan memberikan penghasilannya pada ibunya untuk menopang keluarganya. Sisa penghasilannya dikumpulkan untuk persiapan berjihad. Masya Allah, lihatlah kesabarannya. Ia menolak sumbangan orang lain, karena ingin berangkat jihad dengan hasil keringatnya sendiri.
Akhirnya Sayyad memberitahukan keinginannya untuk berjihad ke Bosnia, dan ibunya
benar-benar mendukung, ia ingin anaknya berangkat.
Setelah persiapan berbulan-bulan, ia telah benar-benar siap. Dua orang sahabat muslimnya mengantar Sayyad ke stasiun Victoria Coach. Mereka melihat Sayyad tampak sedih, tidak seperti biasanya, dan berupaya menggali penyebabnya. Akhirnya Sayyad mengutarakan bahwa ia merasa sedih berpisah dengan ibunya.

Akhirnya ia tiba di Bosnia, dan memasuki kamp pelatihan. Ia disukai baik oleh para mujahidin asing dan bosnia, karena keramahan dan keceriaannya. Ia dapat berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris, dan cepat akrab dengan mujahidin bangsa Bosnia.

Setelah pelatihannya selesai, ia pergi ke base camp. Sayyad melakukan tugas jaga di pegunungan, juga ikut dalam beberapa operasi. Ia selalu berbicara tentang syahadah… ia berbicara begitu sering tentang syahadah. Saat rencana penyerangan didiskusikan, wajahnya tampak bercahaya, ia selalu memberikan saran dan menyebut-nyebut syahadah.
Akhirnya musim panas 1995 berlalu, beberapa temannya dari Inggris pulang ke negaranya, namun Sayyad tetap berada di Bosnia dan datanglah musim dingin. Di tengah dinginnya musim salju Bosnia, sifat-sifat Sayyad mulai berubah. Ia mulai rajin shalat malam dan selalu membaca al-Qur’an. Suatu hari ketika ia duduk bersama teman-teman yang sedang bercanda dan tertawa, air matanya mengalir dan dengan marah ia menegur mereka. Saat ini orang-orang kafirlah bisa tertawa-tawa, karena mereka yang berkuasa, sedangkan kaum muslimin saat ini tidak berkuasa, namun mereka juga tertawa-tawa, begitu ujarnya. Sayyad juga mulai membaca buku mengenai sunnah Rasulullah SAW, dan segera mempraktekkan apa yang dipelajarinya begitu ada kesempatan.

Suatu hari pada bulan Desember, ia menelpon ibunya dan memintanya mengirimkan uang, karena Sayyad berniat untuk pulang selama beberapa waktu. Namun pada hari minggu 10 Desember 1995, Sayyad menelpon kembali dan mengatakan agar ibunya tidak mengirimkan uang padanya, karena ia membatalkan niatnya. Pada hari selasa siang, tanggal 12 Desember 1995 itu, saat ia berada di dalam basecamp, sebuah mobil van yang berisi bahan peledak meledak, dan Sayyad berada di sebelahnya. Tubuhnya terlontar ke udara dan ia syahid seketika. Selain Sayyad terdapat beberapa orang lainnya di sebelah van tersebut, namun ajaibnya mereka tidak terluka sedikitpun, meskipun timbul kerusakan material pada daerah yang luas.
Rupanya Allah telah memilih Sayyad sebagai syahid.
Subhanallah…pada malam sebelum syahidnya Sayyad, ibunya, Ummu Sayyad bermimpi
melihat sebuah rumah yang indah di langit. Sebuah suara berkata padanya,’Inilah rumahmu,
engkau mulai membangunnya sejak 20 tahun lalu, dan hari ini rumah ini telah selesai.’

Apa arti mimpi ini? Sayyad telah syahid dua hari sebelum ulang tahun ke-19 nya. Jika engkau menambahkan sembilan bulan saat ia berada dalam rahim, dan engkau mengeceknya berdasarkan tahun hijriah… maka tepat 20 tahun hijriah hingga syahidnya Sayyad Al Filistini.

Dan dua minggu kemudian, Ummu Sayyad mendapat sebuah mimpi, dimana seekor burung kecil dengan sayap bercorak loreng terbang mengelilinginya. Burung itu kemudian hinggap pada Ummu Sayyad dan mencium pipinya. Subhanallah…


SURAT DARI IBU SEORANG SYAHID, UMM SAYYAD KEPADA KAUM MUSLIMIN
Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, kami memujiNya, kami meminta pertolonganNya, kami memohon ampunanNya, dan kami memohon perlindunganNya dari keburukan diri kami dan kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa diberi petunjuk Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, tidak ada yang dapat memberikannya petunjuk.
Amma ba’du:
Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
bersabda:

Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Ini nuthfah, Wahai Rabbku! Ini ‘alaqah (segumpal darah), wahai Rabbku! Ini mudghah (segumpal daging).” Maka apabila Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?” Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya. (HR. Bukhari)
Allah berkata dalam Al-Qur’an:

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [Quran 3:145]

Begitu kita lahir, saat itulah perjalanan kita menuju kubur dimulai. Kita mengucapkan keimanan kita pada Islam, kemudian amal-amal kitalah yang membuktikannya. Kita berjuang di dunia ini untuk dapat memasuki Surga, semoga Allah membalas kita dengannya, Ia telah menjanjikannya bagi mereka yang berperang di jalanNya dan mereka yang bersabar.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar?. [Quran 3:142]

Karena kita pasti akan bertemu kematian, bagaimanapun caranya, lalu mengapa harus
melalui perang di jalan Allah?
Lihatlah Surat Al-Baqarah (2), Ayat 153-157 dan Surat Ali Imran(3), ayat 169-175.

Kita ingin kematian datang pada kita ketika kita sudah mempunyai amal baik dalam catatan kita, untuk menyelamatkan kita dari Neraka dan Siksa Kubur. Kita berpikir bahwa kematian akan datang pada saat kita siap dan kita masih mempunyai waktu – betapa jauhnya kita dari kebenaran? Kita tidak pernah berpikir bahwa kematian adalah rahmat Allah pada orang- orang beriman yang rindu untuk bertemu denganNya. Kita tidak pernah berpikir bahwa sebagian orang meninggalkan dunia – dalam arti kata yang sebenarnya- meninggalkan dunia, berpisah dari dunia untuk memulai perjalanan abadi mereka dengan segala keindahan dan kebahagiaan mereka, yang kita idam-idamkan dengan segala usaha kita.
ALLAH SWT telah menyebut mereka dalam ayat-ayat tadi, Surat Al-Baqarah (2), Ayat 153-
157 dan Surat Ali Imran(3), ayat 169-175.

Abdullah bin Mas’ud (ra) mengatakan dari Rasulullah SAW, bahwa ruh para syuhada hidup dalam tubuh burung-burung hijau yang makanannya adalah buah-buahan surga.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Darda, Rasulullah bersabda: " Orang yang mati
syahid itu dapat memberikan syafaat kepada 70 orang di kalangan keluarganya." (Abu
Dawud)

Anas ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata, “Tidak ada seorang pun yang
yang masuk surga yang ingin kembali ke dunia meskipun ia mempunyai semua yang ada di bumi, kecuali seorang mujahid yang ingin kembali ke dunia agar ia mati syahid sepuluh kali karena kemuliaan yang ia dapatkan (dari Allah).“

Masruq mengatakan bahwa ia bertanya kepada Abdullah bin Mas'ud r.a. tentang ayat tersebut kepada Rasulullah saw. lalu ia menjawab, 'Ruh-ruh mereka berada di dalam perut burung hijau yang mempunyai sangkar tergantung di 'Arasy. Ia dapat terbang kesana kemari di surga sesukanya, kemudian kembali lagi ke sangkar, lalu T uhan mereka menengok dan berkata, 'Kalian menginginkan sesuatu?' Mereka menjawab, 'Apalagi yang kami inginkan, sedangkan kami dapat terbang kesana kemari di surga sesuka kami?' Allah swt. mengulangi pertanyaan itu 3 kali. Ketika mereka sadar bahwa mereka harus meminta, maka mereka berkata kepada Allah, 'W ahai T uhan kami, kami ingin Engkau mengembalikan ruh ke jasad kami, hingga kami dapat terbunuh lagi dijalan-Mu.' Karena tidak ada lagi yang mereka butuhkan, maka mereka dibiarkan". (H.R . Muslim)
Ini semua adalah bukti dari Qur’an kita yang mulia dan perkataan Rasulullah SAW, inilah
satu-satunya jalan dan tidak ada jalan selain Jihad.

Dengan sederhana kukatakan – anak-anak kita adalah intan permata kita yang telah diberikan Allah bagi kita. Mereka adalah nikmat yang tak ternilai bagi orang tuanya, dan kita adalah bank dimana Allah menyimpan intan permata – mereka adalah milik Allah dan Ia mempunyai hak untuk mengambilnya kapanpun Ia menginginkanannya. Renungkanlah itu saat kita membaca kata-kataNya dan yakini dengan hati dan jiwamu :
Inna lillahi wa inna ilahi raajiun, kami adalah milik Allah, dan kepadaNya kami akan
kembali.
Teriring cinta bagi kaum muslimin dan orang-orang yang beriman pada Allah,
Ummu Syahid Sayyad Al-Falastini

Wahiuddin al-Misri, dari Mesir. Syahid pada tahun 1993, di Bosnia pada umur 21 tahun.
Wahiuddin al-Misri adalah veteran jihad Afghan dan ia datang ke Bosnia pada musim panas 1992. Ia adalah Amir (komandan) para mujahidin Bosnia yang kedua. Seorang pejuang yang profesional dan berwawasan militer yang luas, namun sangat saleh dan tawadhu, meskipun ia seorang Amir. Suatu hari ia ditangkap oleh pasukan Kroasia saat di Srebnica dan dilepaskan dalam sebuah pertukaran tawanan. Setelah dibebaskan, saat penengah PBB hendak menyalaminya, ia menolak sambil mengatakan,
"Saya tidak berjabat tangan dengan orang kafir. "

Ia seorang yang sangat berani. Ia berada dalam mobil yang sama dengan Abu Harith al- Qatari saat mereka diserang oleh pasukan Kroasia, kemudian para mujahidin bertempur hingga syahid. Semoga Allah menerimanya sebagai syuhada. Amin.



PENUTUP
"Itu adalah umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan" (Al-Baqarah : 141)
Itulah mereka, para syahid yang dipilih Allah. Mereka telah menepati janji mereka pada
Allah, lalu Allah pun memenuhi janjiNya pada mereka dengan syahadah dan jannah.
Akan halnya kita, dimanakah kita?

Hari demi hari berlalu dan ajal semakin mendekat, sementara belum pernah kaki ini berdebu dalam jihad di jalan Allah, belum pernah mata ini berjaga dalam ribath di jalan Allah, belum pernah tubuh ini berdarah-darah di jalan Allah. Ya Allah, kapankah orang yang lemah seperti kami merasakan kemuliaan jihad?
“Dzarwatus-sanam (puncak tertinggi) Islam adalah jihad, tidak akan mencapainya
kecuali orang yang paling utama di antara mereka.” (Hadits Riwayat Thabrani)
Jihad dan syahadah sangat mahal harganya, demi Allah begitu mahal! Meskipun demikian, saya memohon kepada Allah untuk memberikannya pada saya, meskipun saya tidak layak untuk itu.
Pembaca yang budiman, dengan segala kerendahan hati penyusun meminta keikhlasan
pembaca sekalian untuk mendoakan penyusun :
  • Agar Allah memberikan petunjuk dan menjadikan saya seorang muslim yang lebihbaik.
  • Agar Allah memberikan kelapangan dan kebarakahan ilmu dan rizki
  • Agar Allah memberikan kesempatan untuk menutup lembaran hidup ini dengan jihad dan syahadah fi sabilillah... Amin.
Yakinlah bahwa sesungguhnya ketika pembaca mendoakan, seorang malaikat turut
mengamini dan mendoakan pembaca sekalian

Dari Shafwan bin Abdullah bahwa dia berkata :
Saya tiba di negeri Syam lalu saya menemui Abu Darda' di rumahnya, tetapi saya hanya
bertemu dengan Ummu Darda' dan dia berkata :
Apakah kamu ingin menunaikan haji tahun ini ? Saya menjawab : Ya.

Dia berkata : Doakanlah kebaikan untuk kami karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada dihadapannya terkabulkan dan disaksikan oleh malaikat yang ditugaskan kepadanya, tatkala dia berdoa untuk saudaranya, maka malaikat yang di tugaskan kepadanya mengucapkan :
Amiin dan bagimu seperti yang kau doakan".

Shafwan berkata : "Lalu saya keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda', beliau juga mengutarakan seperti itu dan dia meriwayatkannya dari Nabi. (Hadits Riwayat Muslim)

Marilah kita saling mendoakan, semoga Allah menjadikan kita berkumpul di surganya
kelak. Amin Ya Allah.
Abu Zawawi

Related Posts by Categories

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar