Spirit Kebangkitan Ummat

Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) “Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim). “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi) Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma(Italia). Rasulullah SAW bersabda: ”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Selasa, 06 Desember 2011

BARAT MENGAKUI, KHILAFAH SEGERA TEGAK KEMBALI

BARAT MENGAKUI, KHILAFAH SEGERA TEGAK KEMBALI

                                                                                    Pandangan Barat
Peradaban dan Idiologi Islam disebut-sebut Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, di
hadapan Kongres Partai Buruh sebagai Idiologi Iblis. Perdanan Menteri Toni Blair
“Islam merupakan Idiologi ‘Iblis/jahat’ (‘evil idiologi) dengan ciri:
1. Ingin mengeliminasi Israel
2. Menjadikan Syariat Islam sebagai sumber hukum
3. Menegakkan Khilafah
4. Bertentangan dengan nilai-nilai liberal”.
(BBC News, 16 Juli 2005).

Direktur The International Security and Energy Program Nixon Center yaitu Zeyno
Baran, mengatakan:
“Hingga beberapa tahun yang lalu, sebagian besar kelompok Islam menganggap upaya
penegakkan Khilafah yang baru adalah tujuan yang utopis. Sekarang semakin banyak
orang yang mempertimbangkan pendirian kembali Khilafah sebagai tujuan yang
serius”.

News BBC memberitakan:
“In Solving all the problems of the current world today, muslim in muslim
countries agree to reestablish/restore Islamic State (Daulah Khilafah Islam (Dalam
menyelesaikan semua permasalahan yang dialami oleh dunia sekarang, kaum muslim di
negeri-negeri muslim setuju untuk menegakkan kembali Negara Islam (Daulah Khilafah
Islam)”.

(BBC News, 25/4/2007).
Charles Hill, Kepala Staff Departemen Luar Negeri di Era pemerintahan AS Reagen,
menyuarakan:
“Negara-negara di kawasan itu (Timur Tengah) ‘terancam bahaya’ oleh tata
pemerintahan (‘bad’ governance) yang ‘buruk’ dan Idiologi Islam yang akan
menghapuskan negara-negara dan membangun kembali Khilafah”.

Dalam pidatonya di Herritage Foundation tanggal 6 Oktober 2005, Menteri Dalam
Negeri Inggris Charles Clarke mengatakan:
“Tidak (mungkin) ada tawar menawar (kompromi) tentang perjuangan Pendirian kembali
Khilafah dan tidak ada ruang diskusi tentang penerapan hukum-hukum Syariat Islam…”
Bukan hanya itu, bahkan Perdana Menteri Inggris, ketika memberikan sambutan pada
Kongres Tahunan Partai Buruh, tanggal 16/7/2005 M, seputar Ledakan London, tanggal
7/7/2005 M, telah menjadikan Khilafah sebagai pusat perhatian, dan bukannya
Ledakan itu sendiri. Dia sampai mengatakan:
“Kita akan memerangi gerakan yang berusaha melenyapkan negara Israel, mengeluarkan
Barat dari Dunia Islam, dan mendirikan satu Negara Khilafah Islam, yang akan
menerapkan Syariat Islam di dunia Islam dengan cara mendirikan Khilafah untuk
seluruh umat Islam”.

David Brooks menulis di New York Times:
“Di atas segalanya, kita perlu melihat bahwa realitas sudah berubah. Di masa
lalu, kita memerangi gerakan idiologis yang mengendalikan negara. Kebijakan luar
negeri kita diarahkan pada hubungan dengan negara-negara itu; bernegosiasi dengan
negara, berkonfrontasi dengan negara. Kini kita dihadapkan pada suatu sistem
keyakinan yang bertentangan dengan sistem negara dan kembalinya Khilafah. Kita
akan membutuhkan seperangkat institusi baru untuk menghadapi realitas baru ini,
dan pelatihan baru untuk memahami orang-orang yang tidak tertarik dengan
kepentingan nasional, menurut pengertian tradisional. Pekan lalu Saya bertemu
dengan seorang pejabat militer yang bertugas di Afganistan dan Irak, yang
observasinya pas sekali dengan ketua komisi 911. Ia mengatakan bahwa apa yang
terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini sudah salah arah; mulai sekarang hanya
10% dari upaya kita yang bersifat militer, sisanya idiologis. Ia mengamati bahwa
kita berada dalam perang melawan ‘ekstrimisme’ Islam, seperti kita pernah
berperang melawan komunisme di tahun 1880.

Dalam pidatonya kepada publik di sebuah diskusi di Virginia 28 Oktober 2005,
Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, menegaskan:
“Para pejuang militan itu meyakini bahwa kalau mereka menguasai satu negeri,
mereka akan memimpin seluruh bangsa Islam dan akan mengakibatkan kaum Militan
mampu mendongkel kekuasaan seluruh pemerintahan moderat di kawasan tersebut dan
tak lama kemudian mereka akan mendirikan Imperium Islam radikal yang terbentang
dari Spanyol hingga Indonesia”.

Pada Konferensi Keamanan ke 42 yang berlangsung di Munich, menteri pertahanan
Amerika Serikat, Donald Rumsfeld menjelaskan:
“Mereka mencoba mengambilalih pemerintahan dari Afrika Utara hingga ke Asia
Tenggara dan menegakkan kembali Khilafah yang mereka inginkan dan hal ini pada
suatu hari nanti akan meliputi setiap benua” ujarnya “Mereka telah membuat dan
menyebarkan peta yang menghapuskan batas-batas negara dan menggantinya dengan
suatu imperium dunia”. (Sunday Times, 6/02/2006).

Pernyataan yang sama dilontarkan oleh Tony Blair saat merespon pemboman di London.
Kala itu Blair menyatakan dengan emosi:
“Mereka memiliki jaringan di setiap negara dan ribuan kawan yang terus bepergian.
Mereka memiliki support dana yang baik. Lihatlah website mereka. Mereka memiliki
propaganda yang canggih. Mereka merekrut siapapun dengan cara apapun dengan
mudah. Mereka memiliki tuntutan… ini disebabkan idiologi agama mereka… Mereka
melakukan apa yang diperintahkan Tuhan mereka; mereka akan mendapat surga. Mereka
menuntut pembubaran Israel, penarikan Barat dari negeri-negeri Islam,
‘mengabaikan’ harapan masyarakat dan pemerintah, mendirikan ‘negara Taliban’ dan
hukum Syariah di Dunia Arab menuju Satu Kekhilafahan untuk semua kaum Muslim.”
Wakil Presiden Amerika Serikat di bulan Februari 2007 dalam kunjungan ke Australia
pasca Konferensei Internasional Khilafah Islamiyyah di Australia pada bulan yang
sama mengatakan:
“Tegaknya Khilafah sudah tidak bias dibendung lagi”.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Donald Rumsfle pun pernah mengatakan:
“Jika tentara Amerika Serikat keluar dari Irak segera, Irak akan menjadi surga
bagi militan dan menjadi basis penyebaran Negara Adidaya Islam yang akan
‘mengancam’ dunia…Irak akan menjadi basis Negara Khilafah yang baru, yang akan
meluas ke Timur Tengah”. (Washingtonpost.com, 5/12/2005).

Dalam kesempatan yang lain, tanggal 5 Desember 2005, Menteri Pertahanan AS Donald
Rumsfeld dalam komentarnya tentang masa depan Irak di Universitas John Hopkins,
juga menyatakan:
“Irak akan menjadi pondasi Khilafah Islam yang baru yang akan membentang ke
seluruh Timur Tengah dan akan mengancam pemerintahan yang sah di Eropa, Afrika dan
Asia. Inilah rancangan mereka. Mereka (gerakan Islam fundamentalis) telah
menyatakan hal itu. Kita akan melakukan kesalahan mengerikan jika kita gagal
mendengar dan belajar”.

Desember 2004 lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan
yang berjudul’ “Mapping Global Future”. Dalam laporan ini diprediksi empat
skenario dunia tahun 2020, diantaranya:
A New Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam
global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global
Barat.

Dan akhirnya, Pusat Studi Kerajaan Belanda di awal tahun 2007 merekomendasikan
kepada Kerajaan Belanda:
Tegaknya Khilafah adalah sebuah keniscayaan. Kerajaan Belanda harus menerima
kenyataan bahwa Khilafah akan segera tegak kembali & Kerajaan Belanda harus mulai
menyusun kebijakan-kebijakan yang akan diambil ketika Khilafah tegak nanti.
Wallahu A’lam bish Showwab.

Related Posts by Categories

Tidak ada komentar:

Posting Komentar