Spirit Kebangkitan Ummat

Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) “Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim). “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi) Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma(Italia). Rasulullah SAW bersabda: ”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad)

Jumat, 30 Desember 2011

Sistem Demokrasi, Sudah Final? Revolusi Tunisia, Jihad Global & Saatnya Khilafah Islamiyah Memimpin Dunia

Revolusi Tunisia, Jihad Global & Saatnya Khilafah Islamiyah Memimpin Dunia

M. Fachry

Apakah Revolusi di Tunisia menjadi tanda berakhirnya era para diktaktor yang bengis dan dimulainya era khilafah Islamiyah ? Apa peranan dakwah dan jihad global di tengah kecamuk politik negeri-negeri Islam yang terpengaruh efek domino dari revolusi Tunisia? Siapkah umat Islam dengan kembalinya khilafah memimpin dunia? 
Revolusi Seorang Pedagang Sayur
Revolusi di Tunisia bermula dari seorang tukang sayur bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun. Muhammad Bouazizi  adalah simbol pemuda tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi, 300 kilometer sebelah selatan ibukota Tunisia. Pemuda di sana banyak yang bergelar sarjana namun sehari-hari hanya berkeliaran di café-cefe di jalan berdebu kota miskin, menunjukkan kegagalan pemerintah memberikan jaminan pekerjaan yang layak.  
Bouazizi, selama tujuh tahun berjibaku menjadi tukang sayur hingga polisi menyita gerobak sayurnya, 17 Desember 2011 dengan menuduhnya berjualan tanpa izin. Bouazizi sudah mencoba membayar 10 dinar Tunisia dan membayar lagi sekitar 7 dolar, namun ia malah ditampar, diludahi dan ayahnya yang sudah meninggal dihina. Bouazizi tidak terima dihina seperti itu, dan melapor ke markas provinsi berharap didengarkan keluhannya. Namun, sebagaimana biasanya para pejabat bertemu dengannya pun tak mau. Bouazizi pun mengambil langkah sendiri, dia menuangkan bahan bakar ke tubuhnya dan membakar dirinya sendiri. Ternyata Bouazizi tidak hanya membakar dirinya tetapi membakar amarah seluruh rakyat Tunisia atas kediktaktoran rezim yang berkuasa.
Ben Ali, sang diktaktor sempat mengunjungi Bouazizi pada tanggal 28 Desember untuk meredam api yang sudah membakar rakyat Tunisia. Namun, api di dada rakyat Tunisia sudah tidak bisa lagi dipadamkan, dan pada tanggal 14 Januari, hanya 10 hari setelah Bouazizi meninggal, kediktaktoran Ben Ali tergulingkan oleh sebuah intifadhah yang dipicu seorang tukang sayur.
Ben Ali, sang diktaktor Tunisia yang telah berkuasa selama 23 tahun adalah lambang pemerintahan sekuler negara-negara Islam, khususnya dunia Arab yang gagal menjalankan sistem pemerintahannya di segala aspek kehidupan. Pengangguran, liberalisasi ekonomi, pasar bebas adalah sumber masalah bagi Tunisia. Apalagi Tunisia tidak memiliki sember daya alam dan sangat bergantung pada asing. Ditambah lagi pemerintahan yang korup, represif, ketertutupan akses politik, maka lengkaplah penderitaan rakyat Tunisia yang akhirnya berujung kepada perlawanan untuk sebuah perubahan. Sebuah revolusi telah dimulai.
Masa Berakhirnya Para Diktaktor?
Runtuhnya rezim diktaktor Tunisia teryata menjadi kekhawatiran tersendiri bagi semua diktaktor, khususnya di negara-negara Arab. Mereka khawatir rakyat di negara mereka akan menjadikan revolusi di Tunisia sebagai inspirasi, dan itulah yang saat ini terjadi!
Abdul Bari Atwan, editor Al Quds Al Arabi yang berbasis di London menulis sebuah artikel berjudul Terima Kasih Rakyat Tunisia mengungkapkan kekhawatiran para diktaktor Arab atas revolusi Tunisia.
 ”Beberapa hari ini merupakan hari yang kritis bagi kebanyakan kediktaktoran pemimpin Arab. Kondisi kehidupan di Tunisia masih lebih baik dibandingkan kebanyakan negara Arab lainnya. Lebih lagi, diktaktor Tunisia tidak terlalu represif dibandingkan di dunia Arab lainnya”.
Abdul Bari Atwan, yang pernah menulis buku The Secret History of Al-Qa’ida (bercerita ttentang Syekh Usamah bin Ladin dan Al Qaeda) juga memberikan ‘saran’ menarik untuk pemerintahan Amerika terkait revolusi di Tunisia. Atwan menyarankan pemerintahan AS menyiapkan sebuah pulau di Kepulauan Pasifik untuk menerima sekutu Arab dan para diktaktor lainnya.
Pakar politik Arab, Hussein Majdoubi juga menganalisa kemungkinan terjadinya revolusi serupa di Tunisia akan merembet ke negara-negara Arab. Penguasa Maroko, Libya, Aljazair, dan Mesir menurutnya merupakan target revolusi selanjutnya. Dia juga kecewa dengan Barat yang terus menerus memberikan dukungan kepada para diktaktor Arab dan mengabaikan keadaan politik yang menyedihkan.
Clovis Maksoud, mantan utusan Liga Arab untuk PBB mengatakan revolusi Tunisia adalah inspirasi dunia Arab yang dipakai oleh negeri-negeri dengan rezim diktator. Dalam sebuah wawancara dengan Press TV, dia mengatakan “revolusi Tunisia merupakan salah satu peristiwa paling inspiratis di dunia Arab di waktu kontemporer ini”.
Yvonne Ridley, jurnalis Muslimah yang juga seorang mualaf asal London, UK, berpendapat bahwa rakyat dunia Arab saat ini telah kehilangan rasa takut terhadap rezim-rezim Arab yang menindas dan korup yang disangga oleh kekuatan AS dan Eropa, dan akan mulai berjatuhan seperti kartu domino. Dia melanjutkan :
“Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengirimkan Air Force One untuk mengumpulkan semua diktator, tiran dan para penguasa yang lalim yang digaji oleh AS dan membawa mereka kembali ke Washington. Seperti kotoran hewan peliharaan di New York Central Park, anda harus bertanggung jawab atas kekacauan anjing Anda.”
Revolusi rakyat Tunisia membuat para diktaktor Arab panik. Hal yang menimpa Ben Ali merupakan penghinaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seorang pemimpin Arab.  Sebuah kejadian luar biasa bila diktaktor Tunisia yang telah berkuasa selama 23 tahun akhirnya ditumbangkan oleh perlawanan rakyat yang kecewa dan muak dengan sistem yang mengatur mereka selama ini. Era para diktaktor nampaknya segera akan berakhir.
Efek Domino Revolusi Tunisia
Aksi tukang sayur, Muhammad Bouazizi, yang mencetuskan revolusi Tunisia teryata segera menjadi inspirasi rakyat di beberapa negeri Arab lainnya. Ada hampir selusin orang meniru aksi bakar diri di beberapa ibukota Arab, beberapa diantaranya termasuk di Kairo dan Aljazair. Bahkan, hingga saat ini, demonstrasi menuntut turunnya diktaktor Mesir, Husni Mubarak masih terus terjadi di jalan-jalan kota Mesir. Mesir kini bergolak.
Para pengunjuk rasa di Mesir bahkan membakar gedung pemerintah di kota pelabuhan Suez. Seorang saksi mata mengatakan protes terhadap pemerintahan diktaktor Husni Mubarak terus berlanjut di Mesir.
Pengunjuk rasa juga melemparkan bom molotov ke gedung pemerintah pada Rabu (26/1/2011), pembakaran dan pelemparan bom juga dilakukan di markas partai yang berkuasa, Partai Demokrasi Nasional, seperti yang dilaporkan AFP.
Ribuan penduduk Mesir turun ke jalan di seluruh negeri untuk melanjutkan aksi unjuk rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya, menentang larangan pemerintah yang sebelumnya diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pengunjuk rasa membakar ban dan melempari polisi dengan batu di Kairo sementara polisi anti huru-hara yang bersenjata lengkap telah dikerahkan di kota-kota besar untuk membubarkan masa yang menentang aturan diktaktor Mesir tiga dekade, Mubarak.
Bentrokan dilaporkan terjadi di kota Alexandria dan Suez, di mana tentara keamanan menggunakan meriam air, gas air mata, pentungan dan peluru karet untuk membubarkan massa. Setidaknya 70 orang-55 pengunjuk rasa 15 polisi-terluka dalam bentrokan di Suez.
Demonstrasi besar-besaran di Mesir telah berjalan lima hari dan hingga hari ini terus terjadi bahkan semakin memanas. Polisi Mesir bahkan menembak 17 orang yang mencoba menyerang kantor polisi di Kairo, Mesir. Aksi ini terjadi menyusul peryataan diktaktor Mesir Husni Mubarak yang menolak turun tahta. Peryataan ini sontak semakin memanaskan suasana dan menambah semangat puluhan ribu massa turun ke jalan-jalan di kota-kota besar di Mesir. Efek domino revolusi Tunisia kini merambat dan terjadi di Mesir dengan satu tujuan yang sama, menurunkan para diktaktor!
Di Yaman, rakyat pun menuntut turun diktaktor bengis Ali Abdullah Saleh. Ribuan penduduk berdemonstrasi di ibukota, Sanaa, menyerukan sang diktaktor selama 30 tahun, Ali Abdullah Saleh, mundur. Keberanian rakyat Yaman untuk menggulingkan presidennya muncul setelah protes massa di Mesir dan revolusi di Tunisia yang berhasil menggulingkan rezim berkuasa.
Rakyat Yaman mengeluhkan meningkatnya kemiskinan di kalangan penduduk muda dan frustasi dengan kurangnya kebebasan politik. Juga mengeluhkan korupnya para pejabat.
“Kita berkumpul hari ini untuk menuntut turunnya Presiden Saleh dan pemerintahan korupnya,” ujar para demonstran.
Revolusi Tunisia memicu solidaritas warga di dunia Arab, terutama umat Islam yang muak dengan sistem pemerintahan diktaktor dan sekuleristik yang selama ini diterapkan. Setelah Tunisia, revolusi merembet ke Mesir, bisa jadi meluas hingga ke Yaman, dan mungkin akan terus berlanjut ke seluruh wilayah dunia Arab. Sebuah perubahan besar sedang terjadi. Para Fir’aun tengah menghadapi kemarahan dan perlawanan ‘Musa’ yang bangkit melawan kedzoliman!
Seruan Dakwah & Jihad Global
Revolusi Tunisia juga didukung dan bersinergi dengan seruan dakwah dan jihad global. Semua bermuara kepada ujung yang sama, penerapan syariat Islam dan menegakkan khilafah Islamiyah.
Puluhan aktivis Muslim di London berdemonstrasi di depan Kedubes Tunisia di London, Jum’at (21/1) menyerukan kepada umat Islam di Tunisia untuk menerapkan syariat Islam (Khilafah). Dalam demonstrasi tersebut, para aktivis Islam mengusung tulisan Shariah For Tunisia, dalam bahasa Inggris, Arab, dan juga Perancis. Mereka juga meneriakkan “Shariah Akan Kembali” dan “Khilafah Akan Kembali” yang disusul dengan gema takbir!
Sementara itu, Al Qaeda wilayah Maghrib atau yang lebih dikenal dengan sebutan AQIM mendukung revolusi Tunisia dan menyerukan penerapan syariat Islam sesegera mungkin di Tunisia. Dalam sebuah video berdurasi 13 menit, Syekh Abu Musab Abdul Wadud, amir AQIM, mengatakan mendukung aksi unjuk rasa rakyat Tunisia untuk menggulingkan diktaktor Ben Ali. Dalam video yang dikirimkan ke forum-forum jihad tersebut, beliau juga memberikan sejumlah saran strategis, termasuk siap untuk memberikan pelatihan penggunaan senjata.
Syekh Abu Musab Abdul Wadud juga mengecam Ben Ali karena melakukan penindasan, korupsi, dan tak memedulikan kepentingan rakyat jelata. Ia meminta para demonstran segera menggulingkan Ben Ali dan menerapkan hukum syariat Islam di Tunisia. Ia mengatakan, Muslim Tunisia harus memperluas aksi revolusi menjadi skala nasional.
AQIM pimpinan Syekh Abu Musab Abdul Wadud adalah tandzim Al-Qaeda di Al Jazair, atau lengkapnya Tandzim Al-Qaeda Biladil Maghrib Islami (Al Qaeda di Negara-negara Islam Afrika Utara) yang hingga saat ini eksis dan terus melebarkan pengaruhnya. Dulunya sebelum bergabung dengan Al Qaeda tandzim ini bernama The Salafist Group for Call and Combat (GSPC) atau dalam bahasa Arabnya Al Jama’ah As Salafiyyah lidakwah wal Qital.
Menurut para pakar, basis AQIM kini semakin melebar ke sejumlah negara, seperti Tunisia, Al Jazair, Mauritania, dan Mali. Mereka selalu mengatakan :
“Bencana Anda adalah bencana kami dan penderitaan Anda adalah penderitaan kami”.
Sistem Apa Yang Akan Digunakan?
Ke manakah arah revolusi Tunisia? Akankah syariat Islam segera diterapkan di sana? Tunisia adalah sebuah negara Arab yang berpenduduk Muslim terletak di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. Tunisia berbatasan dengan Aljazair di sebelah barat, dan Libya di selatan dan timur.
Di antara negara-negara yang terletak di rangkaian Pegunungan Atlas, wilayah Tunisia termasuk yang paling timur dan terkecil. 40% wilayah Tunisia berupa padang pasir Sahara, sisanya tanah subur.
Tunisia menjadikan sistem sekuler, yakni Republik untuk mengatur sistem kenegaraan dan bermasyarakatnya setelah merdeka dari penjajahan kafir Perancis pada 20 Maret tahun 1956. Ben Ali, naik ke tampuk kekuasaan melalui sebuah kudeta tak berdarah di tahun 1987 untuk kemudian menjadi penguasa diktaktor selama kurun waktu 23 tahun.
Selama berkuasa, Ben Ali tiada hentinya melakukan kejahatan kepada umat Islam Tunisia yang hal ini menunjukkan bahwa dirinya memang seorang diktaktor sejati. Bahkan Ben Ali adalah seorang pendukung setia zionis Israel, dimana dirinya melarang rakyat Tunisia demo anti Israel bahkan melarang upaya pengumpulan bantuan untuk Muslim Gaza. Terlalu!
Ben Ali juga seorang kaki tangan Amerika yang setia serta anti syariat Islam. Dia melarang jilbab, menutup masjid dan menugaskan polisi untuk selalu memata-matai masjid. Di tahun 1990-an Ben Ali mulai menangkapi kaum Muslimin yang memanjangkan jenggot di Tunisia- yang sebenarnya mereka ingin kembali kepada syariat Islam- melarang mereka ke masjid dan di tempat kerja dan lembaga-lembaga sekolah.
Ben Ali dan keluarganya teryata juga gemar mencuri kekayaan rakyat Tunisia sementara di waktu yang bersamaan rakyat Tunisia dibiarkan miskin, tak punya pekerjaan dan didzolimi setiap harinya. Korupsi dan kolusi menjadi santapan sehari-hari pejabat Tunisia yang akhirnya membuat rakyat Tunisia muak dengan sistem pemerintahan dan kediktaktoran Ben Ali hingga akhirnya bergerak melawan dan menggulingkan sang diktaktor.
Pasca tergulingnya Ben Ali, untuk pertama kalinya dalam 23 tahun, pemuda Muslim melaksanakan sholat berjamaah di jalan-jalan di kota Tunisia. Semangat untuk kembali dan menerapkan syariat Islam menjadi salah satu alternatif rakyat Tunisia, terutama kaum mudanya. Hal ini tentu saja menjadi kekhawatiran pejabat-pejabat sekuler dan mantan pendukung diktaktor Ben Ali.
Menteri Pembangunan Daerah, Silvan Shalom menyatakan keprihatinan tentang penggulingan penguasa diktator Ben Ali, karena “langkah ini akan memfasilitasi pergerakan Islam di negeri ini”.
Rakyat Tunisia yang tidak puas dengan hasil kudeta terhadap pemerintah negara itu, menyerukan perubahan radikal dalam politik. Mereka melakukan aksi massa menuntut pembebasan tahanan politik dari penjara diktator Ben Ali.
Sebagian besar rakyat Tunisia menyeru untuk mendirikan negara Islam dan menegakkan syariah Islam dan untuk memastikan konsolidasi negeri-negeri Muslim. Umat yang berdemoa di Tunisia meneriakkan : “tidak ada jalan lain, tidak ada jalan lain, Islam satu-satunya solusi!”  “Dengan jiwa kami, dengan darah kami, kami akan berkorban untuk Anda, wahai Islam!”
Berdiri di hadapan tentara Tunisia, mereka mengalamatkan kalimat ini untuk : “Kalian di Palestina, kalian di Irak, jatuhkan rantai penguasa dari leher kalian dan penuhi tugas Anda!”  “Wahai tentara Muslim, kami siap bersama Anda, dengan darah kita, dengan jiwa kita, dan anak-anak kita!  gulingkan rezim yang menindas!”
Sebuah pilihan tepat bagi rakyat Tunisia adalah menerapkan syariat Islam dan menegakkan sistem pemerintahan secara Islami, yakni dengan menegakkan khilafah Islam. Hendaknya rakyat Tunisia yang mendapatkan ‘berkah’ dari Allah SWT., dengan tumbangnya rezim diktaktor Ben Ali dapat memenfaatkan moment yang sangat berharga ini dan tidak tertipu dengan bujuk rayu dan tipu daya setan yang menawarkan racun demokrasi.
Seorang mujahid pernah menuturkan pengalaman berharga dalam perjuangan :
“Kita asyik dengan pertarungan militer, sukses menempa jiwa ikhlas, dan berhasil menghidupkan kecintaan mati syahid. Tetapi kita lalai memikirkan kekuasaan (politik). Sebab kita tak sepenuh hati menggelutinya. Kita masih memandang bahwa politik adalah barang najis. Hasilnya, kita sukses mengubah arah angin kemenangan. dengan pengorbanan yang mahal, hingga menjelang babak akhir saat kemenangan siap dipetik, musuh-musuh melepaskan tembakan “rahmat” kepada kita-demikian kosa kata yang biasa mereka gunakan-untuk menjinakkan kita.”
Faktanya, hingga saat ini revolusi di Tunisia belum diketahui akan bermuara kemana. Situasi masih tidak menentu. Saat ini, Perdana Menteri Mohammad Ghannouchi yang menjabat kekuasaan sementara menjanjikan segera digelar sebuah pemilu yang akan mengganti sistem presidensial ke sistem parlemen. Tentu saja janji ini hanyalah sebuah kebohongan saja yang tidak akan membawa dampak perubahan yang berarti. Karena pergantian rezim dan sistemnya masih dalam koridor sistem demokrasi yang anti syariat Islam.
Pergantian rezim atau diktaktor di sebuah negara bukanlah jaminan pasti perubahan kehidupan di negara tersebut. Pengalaman membuktikan pergantian rezim tanpa diikuti pergantian sistem kehidupan secara menyeluruh tidak akan membawa perubahan apapun. Apalagi janji-jani manis perubahan dan reformasi selalu diteriakkan oleh musuh-musuh Islam yang tidak bersedia syariat Islam dan khilafah diterapkan menjadi satu-satunya sistem yang mengatur kehidupan masyarakat Islam. Akhirnya, demokrasilah yang selalu ditawarkan sebagai alternatif terbaik sebuah perubahan. Padahal demokrasi adalah racun berbisa yang sangat mematikan bagi umat Islam yang rindu kembalinya syariat Islam di seluruh aspek kehidupan. Untuk itu, tidak ada alternatif lain, dan tidak ada sistem lain bagi umat Islam dimanapun kecuali kembali menerapkan syariat Islam secara kaafah (sempurna) dalam bingkai khilafah Islam.  
Khilafah, Siap Memimpin Dunia
Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (MULKAN ADLON), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (MULKAN JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)”. Kemudian beliau (Nabi) diam.” (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273).
Berita dari Nabi SAW., di atas menjadi kabar gembira bagi kaum Muslimin saat ini. Masa atau era khilafah (sistem kenegaraan Islam) yang mengikuti jejak kenabian tidak akan lama lagi akan dimulai pasca runtuhnya era ‘mulkan jabariyah’ atau era raja-raja yang sombong (bengis) alias para diktaktor.
Fenomena revolusi Tunisia, disusul Mesir, dan seterusnya bisa jadi menandai kebenaran hadits yang diyakini sebagai fase-fase sejarah kemunduran dan kebangkitan umat Islam. Pasca runtuhnya khilafah Islam terakhir di Turki, 3 Maret 1924, kaum muslimin memasuki periode buruk dalam sejarahnya. Digulingkannya sistem khilafah Islam oleh ‘dajjal’ Mustafa Kemal At Tatruk melahirkan sistem sekuler yang melahirkan para pemimpin diktaktor di seluruh negara-negara Islam. Pada saat itulah berakhir masa “mulkan adlon” dan dimulai masa “mulkan jabariyyah” alias para diktaktor. Para diktaktor ini atas desakan Barat menggunakan sistem demokrasi sekuler dengan pemilu sebagai jargon kebebasan dan perubahan.
Kini, umat sadar betapa bengisnya raja-raja dan pemimpin mereka sang diktaktor. Sistem demokrasi sekuler teryata juga hanya menjanjikan angin surga tanpa ada kenyataan sama sekali. Kondisi kehidupan yang terpuruk akibat menerapkan sistem dan ideologi kufur demokrasi akhirnya membangkitkan kesadaran dan angin perubahan di seluruh negeri-negeri Islam. Revolusi Tunisia menjadi pemicu sekaligus inspirasi.
Bersandar kepada berita gembira dari Nabi SAW., di dalam hadits sejarah umat Islam tersebut, maka pasca tumbangnya para diktaktor yang bengis akan menandai awal kemunculan sistem khilafah Islami dan berlakunya kembali syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Umat pun merindukan kemunculan kembali Al-Mahdi, sosok khalifah yang muncul pasca berakhirnya periode “mulkan jabbariyah” atau para diktaktor bengis. Tergulingnya Ben Ali, dan kemungkinan Husni Mubarak, dan disusuk para diktaktor lainnya menjadi tanda dekatnya masa yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW., tentang munculnya khilafah Islamiyah berdasarkan metode kenabian. Revolusi Tunisia bisa jadi menjadi sebuah pengantar datangnya masa yang dijanjikan tersebut, di mana umat Islam dan bahkan umat di seluruh dunia akan hidup dalam ketentraman, kesejahteraan, dan rahmat bagi alam semesta. Untuk itu, bersiapkan wahai kaum Muslimin menyambut datangnya kembali khilafah Islamiyah untuk memimpin dunia!
Wallahu’alam bis showab!  
By: M. Fachry

Read more: http://arrahmah.com/read/2011/01/30/10825-revolusi-tunisia-jihad-global-saatnya-khilafah-islamiyah-memimpin-dunia1.html#ixzz1i0kknepm

Roda Islam terus berputar (1): Revolusi dalam perspektif Islam

Muhib Al-Majdi

(Arrahmah.com) – Gejolak revolusi yang melanda negara-negara Arab belum berakhir. Meski beberapa rezim diktator telah tumbang, perjuangan rakyat untuk menegakkan syariat Islam dan membentuk pemerintahan yang pro-rakyat masih menghadapi batu sandungan dari dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, kekuatan rezim sekuler pro-Barat dan antek-anteknya masih menempati posisi-posisi strategis dalam pemerintahan. Di luar negeri, AS, Israel, dan negara-negara salibis Barat melancarkan berbagai konspirasi licik untuk mempertahankan hegemoninya di negeri-negeri kaum muslimin.
Para ulama dan mujahidin tidak menutup mata atas semua peristiwa bersejarah ini. Mereka tak bosan memberikan dukungan dan pengarahan kepada kaum muslimin yang tengah mengadakan revolusi, agar revolusi mereka berjalan sesuai syariat dan berhasil meraih tujuannya. Global Islamic Media Front (GIMF) merilis serial artikel dukungan kepada revolusi kaum muslimin di negara-negara Arab. Di antaranya serial artikel Syaikh Hasan Umar hafizhahullah yang berjudul Ruha al-Islam Dairah (Roda Islam terus berputar). Arrahmah.com menerjemahkan artikel pertama beliau untuk para pembaca. Semoga bermanfaat.
Roda Islam terus berputar (1): Islam dan Revolusi

بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada penutup para nabi yang tiada lagi nabi sepeninggalnya. Amma ba’du…
Dari Muadz bin Jabal berkata: “Saya mendengar Rasululah SAW bersabda:
أَلَا إِنَّ  رَحَى الْإِسْلَامِ دَائِرَةٌ ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ ، أَلَا إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ ، فَلَا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ ، أَلَا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ  يَقْضُونَ لِأَنْفُسِهِمْ مَا لَا يَقْضُونَ لَكُمْ ، إِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ ” قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : ” كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرَ ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ “
“Sesungguhnya roda pengilingan Islam terus berputar, maka hendaklah kalian berputar bersama kitab Allah kemanapun ia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’an akan berpisah dengan kekuasaan, maka janganlah kalian memisahkan diri dari Al-Qur’an.Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para penguasa yang memutuskan perkara untuk kepentingan diri mereka sendiri dan tidak memutuskannya untuk kepentingan kalian. Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membunuh kalian. Namun jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami lakukan?”
Beliau SAW menjawab, “Lakukanlah sebagaimana hal yang dilakukan oleh para pengikut setia nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besir dan disalib di atas sebatang kayu. Mati di atas ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan Musnad asy-Syamiyin serta Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyah al-Awliya’. Imam Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, 5/231, berkata: Perawi Yazid bin Martsad tidak mendengar hadits dari Mu’adz. Perawi Wadhin bin ‘Atha’ dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan lain-lain. Sementara seluruh perawi lainnya adalah para perawi yang tsiqah)
Setiap muslim dan muslimah harus memperhatikan hadits yang agung di atas, yang mengungkapkan  semangat revolusi Islam. Hadits ini menjelaskan bahwa kekuasaan sering kali membenci syariat Allah, kitab Allah, dan dien Allah. Kenapa? Karena kepentingan-kepentingan para penguasa bertabrakan dan menyelisihi dien Allah, kitab Allah, dan para pengikut kebenaran. Andai saja para penguasa membiarkan para pengikut kebenaran atau membuka pintu bagi mereka untuk mengemukakan pendapat dan mengingkari kemungkaran. Namun para penguasa itu menindas masyarakat dan memberikan tekanan hebat kepada para pengikut kebenaran. Karena selalu ada pertarungan antara dua manhaj; manhaj dien Allah di bawah panji kitab Allah dan manhaj setan dan penguasa yang batil di bawah panji-panji jahiliyah dengan beragam nama baik pada masa dahulu maupun masa sekarang.
Selama para penguasa menyelisihi Al-Qur’an, maka menaati mereka merupakan sebuah kesesatan, sedangkan mengikuti manhaj mereka merupakan jalan menuju neraka Jahaman. Nabi SAW bersabda, “Namun jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”
Di sisi lain, berpegang teguh dengan kebenaran itu pahit rasanya. Nabi SAW bersabda, “Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membunuh kalian.” Dari sinilah diperlukan sebuah kelompok berani mati yang mempersembahkan pengorbanan dan tidak menyelewengkan dien Islam hanya karena ingin menyenangkan penguasa, meraih manfaat-manfaat duniawi, kedudukan dan jabatan yann tidak langgeng.
Kelompok ini menyerupai keadaan generasi sahabat ketika mereka pertama kali mengemban dien Islam hini hingga akhirnya mereka serahkan kepada kita dalam keadaan jaya, menang, dan panjinya berkibar tinggi. Mereka adalah orang-orang yang asing. Nabi SAW bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا ، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا ،  فَطُوبَى  لِلْغُرَبَاءِ
“Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali asing sebagaimana keadaan pada awal kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”(HR. Muslim dan Ibnu Majah)
الَّذِينَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ
“Mereka adalah orang-orang shalih yang memperbaiki keadaan ketika masyarakat telah rusak.”(HR. Ibnu Wadhah dalam al-Bida’, Ad-Dulabi dalam al-Asma’ wa al-Kuna, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath dan al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Bathah dalam al-Ibanah al-Kubra, al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah, dan Abu Amru ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan. Imam al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, 7/281, berkata: Seluruh perawinya adalah perawi kitab ash-Shahih kecuali Bakr bin Salim, dan ia seorang perawi yang tsiqah)
الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاس
“Mereka adalah orang-orang yang tetap shalih ketika masyarakat telah rusak.” (HR. Ahmad, Hanad bin Sirri dalam az-Zuhd, al-Ajuri dalam al-Ghuraba’, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath dan a-Mu’jam as-Shaghir, Ibnu Bathah dalam al-Ibanah al-Kubra, Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Ma’rifah ash-Shahabah, dan Abu Amru ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan. Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1273 mengatakan: Sanadnya shahih dan seluruh perawinya tsiqah)
Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan dien Islam sekalipun sebagian besar memusuhi mereka. Nabi SAW bersabda:
لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ ، وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ
“Tidak membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka dan orang-orang yang memusuhi mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap teguh di atas keadaan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka adalah para penggenggam bara api. Nabi SAW bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ بِسُنَّتِي أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُم
“Akan datang kepada manusia suatu zaman yang pada saat itu orang yang bersabar dalam menggenggam teguh agama Islam bagaikan orang yang menggenggam bara api. Bagi orang-orang yang beramal dengan sunahku pada masa tersebut pahala amalan lima puluh orang di antara kalian.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Adi, Ibnu Wadhah, dan lain-lain. Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 957 berkata: Shahih berdasar keseluruhan sanadnya).
Hal itu karena mereka tidak mendapatkan para pembantu dan penolong dalam memperjuangkan kebenaran. Sementara gangguan dan ancaman mengincar mereka dari segala tempat. Namun mereka berjalan di jalan Allah SWT dan memperjuangkan dien Allah SWT. Mereka siap untuk masuk penjara bertahun-tahun. Mereka siap menanggung segala resiko dengan segala ragam bentuknya, meski dalam waktu yang lama. Mereka bahkan siap mati di jalan Allah. Nabi SAW bersabda: “Lakukanlah sebagaimana hal yang dilakukan oleh para pengikut setia nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu.” Semua resiko tersebut tidak memalingkan mereka dari dien Allah SWT.
Hadits ini merupakan salah satu contoh revolusi Islam melawan para pengikut kebatilan dan contoh kerasnya pertarungan antara kebatilan dan kebenaran. Ia sekalugis pesan kepada para pengemban agama Islam ini, bahwa Islam tidak akan tegak tanpa adanya pengorbanan-pengorbanan dan keteguhan-keteguhan. Dien Islam tidak akan tinggi dan Berjaya tanpa adanya persembahan nyawa para pengembannya. Maka persiapkanlah diri kalian untuk mengembannya, didiklah generasi-generasi Islam di atas prinsip ini.
Setelah penjelasan ringkas makna hadits di atas, kami sebutkan di sini sejumlah pelajaran yang bisa dipetik darinya:
1. Nabi SAW memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan Islam dalam segala keadaan, baik dalam kondisi susah maupun senang, kondisi sulit maupun lapang.
2. Nabi SAW menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan para penguasa akan berpisah. Para penguasa tidak akan menerapkan syariat Allah, sebagaimana dilakukan oleh para penguasa zaman sekarang.
3. Nabi SAW menjelaskan bahwa para penguasa yang tidak menerapkan Al-Qur’an sebagai undang-undang tersebut adalah orang-orang yang tersesat dan menyesatkan. Barangsiapa menaati mereka niscaya akan tersesat dari kebenaran dan mengikuti setan. Pembelaan para ulama su’ dan berbagai udzur (alasan pembenaran) untuk para penguasa tersebut sama sekali tidak member manfaat bagi para penguasa tersebut. Status mereka tetap saja adalah para pemimpin kesesatan, dan Nabi SAW menyatakan ‘Jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”
4. Hadits tersebut menjelaskan prinsip tidak adanya ketaatan kepada makhluk jika diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah SWT.
5. Hadits tersebut menjelaskan bahwa para penguasa yang menyimpang dari jalan Allah tersebut adalah para pembuat kehancuran dan kerusakan. Mereka merusak urusan dunia dan agama rakyat. Mereka tidak sungkan untuk menumpahkan darah rakyat tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Maka tepatlah sifat mereka dalam hadits di atas: “Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membunuh kalian. Namun jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”
6. Hadits tersebut memerintahkan kesabaran memegang teguh agama Allah meski apapun resiko yang akan menimpa seorang hamba. Sabda Nabi SAW: Lakukanlah sebagaimana hal yang dilakukan oleh para pengikut setia nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu.” Semua resiko tersebut tidak memalingkan mereka dari dien Allah SWT.
7. Hadits tersebut menjelaskan kaitan yang erat antara ujian dengan keimanan. Sebagaimana firman Allah SWT:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut (29): 2-3)
Juga seperti sabda Nabi SAW:
 يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ  بَلاءً ؟ قَالَ : ” الْأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ ، ثُمَّ  الْأَمْثَلُ ،  فَالْأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلابَةٌ زِيدَ فِي  بَلائِهِ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ
Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi kemudian orang-orang shalih kemudian orang-orang yang keimanannya di bawah mereka. Setiap orang akan diuji sesuai kadar agama (keimanan)nya. Jika ia teguh memegang agama, niscaya ujian untuknya akan ditambah.Jika agamanya lemah, niscaya ujiannya juga akan diringankan.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, ath-Thayalisi, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan lain-lain)
Beliau SAW juga bersabda:
 إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ  عِظَمِ الْبَلَاءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, niscaya Allah akan menimpakan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang ridha dengan ujian Allah, niscaya Allah ridha kepadanya. Dan barangsiapa marah kepada ujian Allah, niscaya Allah marah kepadanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baihaqi, al-Qudha’i, Abu Ya’la, dan lain-lain)
8. Hadits di atas menunjukkan bahwa Islam melakukan revolusi terhadap para penguasa yang menyelisihi kitab Allah dan menzalimi hamba-hamba-Nya, bagaimanapun besarnya kekuasaan mereka.
9. Selama para penguasa yang menyelisihi kitab Allah adalah orang-orang yang tersesat dan barangsiapa menaati mereka niscaya mereka akan menyesatkannya; maka para ulama yang mengajak rakyat untuk menaati para penguasa tersebut, tidak melawan mereka, dan bahkan menampakkan indah kondisi para penguasa tersebut dengan menyebut mereka sebagai ulil amri bagi kaum muslimin dan menuduh orang-orang yang melawan mereka adalah Khawarij…maka para ulama tersebut adalah orang-orang yang tersesat, bahkan mereka adalah para ulama tukang menyesatkan umat Islam. Mereka menyembunyikan kebenaran dan juga mencampur adukkan antara kebenaran dan kebatilan. Mereka menyodorkan kepada masyarakat agama ‘privat’ yang tidak mengandung jihad, amar ma’ruf, dan nahi munkar.
Mereka adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Para ulama yang tersesat menyerupai orang-orang Yahudi yang dimurkai oleh Allah, karena mereka mengetahui kebenaran namun tersesat (tidak mengamalkan ilmunya). Mereka itu dilaknat Allah SWT sampai mereka bertaubat. Di antara syarat taubat mereka adalah menjelaskan kepada masyarakat kebenaran yang mereka sembunyikan. Sebagaimana firman Allah:
{إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ * إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيَّنُواْ فَأُوْلَـئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ }
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang melaknati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran yang mereka sembunyikan), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah (2): 159-160)
Allah SWT mempersyaratkan taubat mereka harus disertai sikap menjelaskan kepada masyarakat kebenaran yang mereka sembunyikan. Seperti disebutkan dalam ayat ini:
{إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيَّنُواْ}
Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran yang mereka sembunyikan).”

Setelah itu kita memiliki sikap khusus kepada mereka dengan izin Allah.
Kita memohon kepada Allah semoga mengumpulkan kita di atas kebenaran dan mempekerjakan kita untuk memperjuangkan dien-Nya. Amin.
Syaikh Hasan Umar

Pengamat politik dan Jihad: Musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri (2)

Muhib Al-Majdi

(Arrahmah.com) – Dalam artikel pertamanya “Pengamat politik dan Jihad: Revolusi Suriah revolusi Islam (1)“, Asadul Jihad ats-Tsani — salah seorang komandan penting dan analis politik mujahidin Al-Qaeda— menjelaskan bahwa revolusi rakyat muslim ahlus sunnah Suriah melawan rezim Nushairiyah Suriah yang mendapat dukungan negara Syiah Imamiyah Iran dan Lebanon adalah revolusi Islam.
Dalam artikel keduanya ini, Asadul Jihad ats-Tsani menjelaskan siapa saja musuh-musuh ekstern revolusi Suriah, bagaimana planning dan konspirasi mereka untuk mengubur hidup-hidup revolusi Suriah, dan sarana apa saja yang mereka pergunakan. Selamat mengikuti analisa berharga beliau.
***
Musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du…
Pembicaraan tentang musuh-musuh revolusi Suriah erat kaitannya dengan pembicaraan tentang musuh-musuh revolusi di Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman. Para musuh bangsa-bangsa muslim adalah mereka, yang memiliki nama-nama, sifat-sifat, dan kekuasaan-kekuasaan yang sama. Maka revolusi Suriah wajib mengambil pelajaran dan manfaat dari revolusi-revolusi pendahulunya, serta memahami musuh umat muslim.

Pemerintahan dunia Arab dan Barat ingin menggagalkan revolusi-revolusi rakyat dan tidak menginginkan kemerdekaan mereka
Peristiwa yang terjadi di Tunisia dan Mesir telah membalik perhitungan-perhitungan dan planing-planing para musuh bangsa Arab dan Islam. Hal itu telah membuat mereka bersepakat untuk tidak membiarkan hal yang sama terjadi di negara-negara lain, demi mempertahankan kepentingan-kepentingan, kekuasaan-kekuasaan, dan dominasi-dominasi mereka.
Kemerdekaan manusia muslim dianggap sebagai himpitan terbesar bagi para tahgut Barat maupun taghut Timur. Oleh karena itu seluruh gerakan pemerintah-pemerintah Arab dan Barat setelah revolusi Tunisia dan Mesir dicurahkan untuk ‘mendinginkan’ para revolusioner rakyat agar mereka bisa dipecah-belah.
Para penguasa Arab tidak menghendaki reformasi, kecuali saat mereka sudah sangat terjepit oleh sulitnya keadaan selama terjadinya perubahan-perubahan dalam negeri dan perampasan dari luar. Mereka tidak menghendaki reformasi, karena reformasi memberikan kepada rakyat kebebasan yang lebih luas. Kebebasan inilah yang akan menghalangi para taghut untuk melakukan tindakan represif, perbudakan, dan perampokan terhadap hak rakyat.
Oleh karena itu mereka akan membendung dengan keras para revolusioner rakyat —di negara-negara yang telah mengalami revolusi— untuk membekukan hasil-hasil dan tuntutan revolusi mereka, seperti yang kini terjadi di Tunisia dan Mesir. Di negara-negara lain, mereka membendung dengan keras para revolusioner rakyat agar tidak mampu merealisasikan revolusi, atau setidaknya meminimalkan hasilnya, sebagaimana yang kini terjadi di Libya, Yaman, dan Suriah.
Sudah sama-sama disepakati, bahwa secara alami ‘kekebasan itu menular’. Karena khawatir revolusi akan menjalar ke negara-negara lain Arab Saudi, Yordania, Maroko, Aljazair, dan lain-lain; negara-negara tersebut akan melakukan apapun yang mereka mampu demi menunjukkan kepada rakyatnya bahwa jika mereka melakukan revolusi, niscaya revolusi hanya akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan dan bencana, seperti yang terjadi di Libya dan Suriah. Negara-negara tersebut juga ingin kekuatan Barat melihat revolusi-revolusi tersebut sebagai kekacauan yang justru mengganggu kepentingan-kepentingan dan hegemoni Barat sendiri. Dengan begitu, Barat akan semakin menguatkan hubungannya dengan pemerintahan negara-negara lain dan tetap menjalin hubungan dengan pemerintahan yang negaranya tengah dilanda revolusi. Untuk itulah, negara-negara Arab yang lain bekerja keras untuk memberangus revolusi —seperti yang mereka lakukan di Libya, Yaman, dan Suriah— agar mereka tidak mengalami kejatuhan yang sama.
Di sisi lain, negara-negara Barat akan bekerja keras untuk ‘membonsai’ revolusi-revolusi yang terlanjut terjadi, agar tidak melenyapkan kepentingan-kepentingan dan hegemoni Barat. Seandainya sepuluh orang warga Israel, Amerika, atau Inggris terbunuh; niscaya seluruh pemerintahan, organisasi, dan media massa internasional akan bangkit untuk melakukan pembalasan dendam. Adapun jika yang terbantai adalah ribuan umat Islam oleh kebiadaban pemerintahan antek Barat, maka hal itu boleh-boleh saja, terkadang dianjurkan, bahkan dalam kondisi tertentu wajib dilakukan!

Revolusi damai Tunisia dan Mesir telah berlalu dan tidak akan terulang
Mayoritas orang berpandangan bahwa demonstrasi-demonstrasi damai di Tunisia dan Mesir yang telah menjatuhkan pemerintahan taghut merupakan jalan pokok yang langkah-langkahnya harus diikuti. Atas dasar itulah mereka lantas membuat pemahaman-pemahaman dan analisa-analisa. Mereka melantur dengan teori-teori yang tidak benar tentang metode yang paling tepat  untuk dilakukan di negara-negara Arab lainnya.
Namun kita melihat realita bertolak belakang dengan teori mereka. Metode demonstrasi damai di Tunisia dan Mesir adalah pengecualian dari sebuah kaedah pokok. Metode tersebut telah meraih angan-angan terjauhnya, dan kini periodenya telah berlalu. Seluruh taghut yang lain di negara-negara Arab dan Barat telah mengambil pelajaran darinya. Sungguh keliru membangun metode di atas sebuah pengecualian dengan meninggalkan kaedah pokok yang dipelihara dengan teguh oleh para taghut negara-negara Arab. Kaedah pokok mereka adalah menindas, memperbudak, dan memperbodoh rakyat, meski untuk itu mereka harus lain melakukan pembantaian sebuah bangsa dan merubah susunan demografi sampai ke akar-akarnya!
Jika saya bersumpah bahwa taghut yang kabur Bin Ali dan taghut yang terlengserkan Husni Laa-Mubarak, seandainya keduanya masih bertahan niscaya keduanya tidak akan pernah mau meninggalkan kursi kekuasaannya, saya percaya sumpah saya tidak keliru. Apa yang dialami oleh dua orang taghut itu adalah pengecualian yang tidak akan terulang lagi. Kaedah pokok para taghut adalah kebiadaban yang mereka tunjukkan di Libya, Yaman, dan Suriah.

Kawan-kawan revolusi Suriah di luar negeri
Seluruh bangsa Arab dan muslim mendukung bangsa Suriah. Mujahidin yang sejak lama telah berperang melawan pemerintahan-pemerintahan taghut juga mendukung bangsa Suriah. Amirul mujahidin syaikh Aiman azh-Zhawahiri hafizhahullah telah merilis audio yang indah dan ringkas berisi dukungan kepada bangsa Suriah, dengan judul Izzu asy-Syarqi awwaluhu Dimasyqa’ (Kejayaan Timur berawal dari Damaskus). Para ulama, dai, intelektual, dan pakar indipenden Arab dan Islam juga memberikan dukungan kepada bangsa revolusioner Suriah. Semakin jauh seseorang dari hubungan dengan para pejabat dan penguasa, maka ia semakin tulus dalam mendukung bangsa Suriah. Semakin dekat dan dicintai seseorang oleh penguasa taghut, maka ia semakin merealisasikan tujuan-tujuan pemerintahan taghut.

Musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri
Sesungguhnya musuh-musuh utama revolusi Libya dan Yaman di luar negeri merupakan sosok musuh-musuh utama revolusi Suriah di luar negeri. Mereka adalah (pemerintahan) negara-negara Arab, negara-negara Barat, dan Negara-negara non-Barat yang memiliki hegemoni internasional yang ingin menjaga kepentingan-kepentingan dan kebijakan-kebijakan politiknya, apapun bangsanya.
Orang yang mengikuti perkembangan berita hendaknya tidak lupa bahwa musuh-musuh dari luar tersebut memiliki sarana-sara perubahan yang tersembunyi dan besar. Di antaranya sarana diplomasi dan media massa. Juga intervensi secara langsung di bidang logistik dan militer yang sangat mengagumkan, untuk merubah perimbangan kekuatan revolusi dan menyetirnya sesuai kepentingan-kepentingan mereka.
Negara-negara Arab dan Barat bersekutu dalam melawan revolusi, dan dalam prakteknya mereka satu sama lain saling berintervensi. Api peperangan secara tersembunyi tengah membara. Barisan pemerintahan yang sedang mengalami revolusi —seperi Libya, Yaman, dan Suriah—, didukung oleh pemerintahan negara-negara Arab lainnya dan negara-negara Barat. Mereka semua berdiri dalam satu barisan melawan rakyat yang melakukan revolusi di Negara-negara tersebut, dengan cara-cara yang penu tipu daya. Dalam sebagian keadaan, mereka tidak memihak kepada salah satu pihak yang ‘bertikai’, sesuai dengan perintah yang diberikan oleh musuh-musuh umat Islam, demi membuat senang musuh-musuh lslam.

Target-target musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri
  1. Pemerintahan negara-negara Arab. Saya bisa menyerupakan bahwa pemerintahan negara-negara Arab melihat revolusi bangsa-bangsa Arab bagaikan permainan kursi roda.
  2. Negara-negara Barat dan negara-negara imperialis modern non-Barat. Mereka memandang revolusi bangsa-bangsa Arab dan kemerdekaan seorang muslim sebagai sebuah ‘perasan’ (penyaringan). Mereka belum mengetahui antek-antek, kepentingan-kepentingan, dan hegemoni-hegemoni mereka manakah yang akan selamat atau binasa? Oleh karena itu mereka berusaha untuk memperlemah semua pihak (pemerintahan rezim Arab maupun revolusioner rakyat) agar mereka bisa melakukan intervensi baru di negara-negara tersebut. Oleh karenanya, mereka tidak akan menunda-nunda dalam memerangi revolusi dan menyelewengkan tujuan-tujuannya.

Contoh intervensi musuh dari luar dalam revolusi Yaman
Saya menganggap ‘kabut tersembunyi’ yang diperankan oleh media massa —yang dibelakangnya bercokol lembaga-lembaga riset dan para pakar spesialis di bidang psikologi dan sosiologi— tidak tertandingi oleh pengaruh apapun, tidak juga bombardir dengan bom dan rudal. Para ahli pun jarang mengetahui tujuan-tujuan tersembunyi dan kebusukan-kebusukannya.
Usaha untuk ‘mendinginkan’ revolusi di Yaman dengan tujuan ‘mencerai-beraikan’ revolusi telah berlangsung. Sebagai contoh, di media massa muncul banyak diskusi dan analisa tentang jalan terbaik dalam melakukan revolusi. Juga diskusi-diskusi yang memfokuskan diri pada akibat-akibat buruk dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam revolusi. Kebanyakannya diuraikan dengan cara yang cerdas dan tersembunyi. Juga diskusi-diskusi dan analisa-analisa tentang kesudahan nasib tahut Yaman dan lain-lain. Laporan-laporan dan berita-berita yang diangkat tentang Yaman terkadang memfokuskan dan membesar-besarkan sebagian elemen dan pemikiran, dengan mengecilkan elemen-elemen dan pemikiran-pemikiran yang lain. Jadi pemberitaan media massa tentang revolusi Yaman berjalan di atas rel yang baku dan telah digariskan sebelumnya untuk mengarahkan masyarakat kepada arah sosiologi yang telah dikaji (oleh lembaga-lembaga kajian antek Barat, edt).
Para taghut Arab dan Barat telah sukses mengulur-ulur waktu sehingga Ali Abdullah Saleh tidak meninggalkan kursi kekuasaannya. Revolusi Yaman telah ‘dibekukan’ dengan sukses sehingga menjadi revolusi yang ‘membosankan’. Pertaruhan antara pihak pemerintahan taghut Yaman dengan para revolusioner kini secara garis besar sebatas pihak mana yang lebih dahulu bosan dan capek, disbanding pihak yang lain!
Seandainya jutaan rakyat tersebut bergabung dengan orang-orang merdeka yang berada di bawah organisasi, Anshar asy-Syari’ah, yang melangsungkan revolusi bersenjata niscaya mereka akan mampu membebaskan wilayah yang sangat luas di Yaman dari cengkeraman taghut Yaman. Niscaya hasil-hasil revolusi tidak akan tertunda sampai batas pencapaian saat ini, sebuah pencapaian yang selain terlambat, juga ‘mendinginkan’ revolusi, mencerai-beraikan tujuan-tujuannya, dan melemahkan semangat rakyat.
Dari sisi lain, ‘pendinginan’ rakyat Yaman telah berperan dalam mencerai-beraikan ikatan sosial mereka dalam beberapa bulan ini secara luas. Banyak pandangan, pendapat, prinsip, dan pokok tujuan rakyat Yaman yang berubah karena berbagai persoalan selama beberapa bulan terakhir ini. Banyak orang yang melalaikan aspek yang sangat penting ini. Aspek inilah yang ‘dikerjai’ oleh para taghut internasional melalui ‘kabut tersembunyi’ media massa mereka. Dampak-dampak positif dari perubahan sosial ini akan memberikan banyak keuntungan bagi pemerintahan taghut-taghut internasional, sementara dampak-dampak negatifnya akan dirasakan oleh rakyat Yaman dan kawasan Yaman untuk jangka waktu yang jauh ke depan. Hanya kepada Allah-lah kita meminta pertolongan.
Inilah satu contoh, yang tidak akan saya jelaskan secara panjang lebar,  tentang intervensi-intervensi musuh dari luar untuk mempengaruhi jalan dan hasil revolusi. Cara ini pula yang dipraktekkan terhadap revolusi Suriah, dengan cara yang cerdas dan dikaji sebelumnya.

Contoh intervensi musuh luar dalam revolusi Libya
Libya…apa yang kalian pahami dari Libya?
Saya akan menyebutkan dua contoh secara ringkas mengenai intervensi-intervensi musuh dari luar dalam upaya untuk membunuh, menggagalkan, dan mengecilkan hasil revolusi Libya.
1. Negara-negara Arab.
Saya akan mengetengahkannya lewat peranan Liga Arab. Tidak ada yang meragukan pengkhianatan para penguasa Arab atau pemerintahan negara-negara Arab dan keberpihakannya kepada musuh-musuh bangsa Arab dan Islam. Hanya orang yang dipertanyakan kewarasan akal dan keluhuran akhlaknya saja yang meragukan pengkhianatan pemerintahan negara-negara Arab. Kita telah hidup dalam banyak dekade yang pahit, dan kita tidak mendapatkan dari para penguasa tersebut selain ketundukan kepada musuh luar, dan perbudakan serta penindasan terhadap bangsanya sendiri.
Selama dekade-dekade yang telah lewat, kita tidak mendapatkan sikap apapun dari Liga Arab, selain sikap yang sejalan dengan keputusan-keputusan musuh-musuh luar (melalui PBB, IMF, dan lainnya, edt) yang memusuhi umat Arab dan umat Islam. Jika orang tidak berpendapat seperti ini, kami menantang dirinya untuk menghadirkan bukti.
Pemerintahan negara-negara Arab melalui Liga Arab telah sangat dalam menunjukkan persekongkolan dan pengkhianatan, demi memerangi revolusi Libya, merubah tujuan-tujuannya, dan menyerahkannya kepada salibis Barat agar mereka ‘kerjai’ sesuka hati mereka.
Bersamaan dengan dimulainya revolusi Libya, Liga Arab bangkit dari kuburnya dan meluapkan kemarahannya untuk ‘menegaskan’ rezim Qaddafi telah kehilangan legitimasinya! Memangnya rezim Qaddafi memiliki legitimasi?!!! Siapa pula sejatinya yang memberikan legitimasi kepada negara-negara Arab lainnya —jika legitimasi itu ada— sehingga mereka bisa merampasnya dari rezim Libya?!! Bagaimana bisa muncul sikap seperti ini dari Liga Arab? Maha Suci Allah Yang menghidupkan kembali hamba-Nya dari tulang belulang yang telah hancur!
Apa sebenarnya tujuan dari keanehan diulang-ulangnya ‘penegasan’ di awal revolusi Libya bahwa rezim Qaddafi? Sebuah kampanye yang mempergunakan media massa dalam skala besar-besaran untuk melariskan makar ini, yang peranan besarnya dijalankan oleh penguasa Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar? Ketiga negara tersebut selalu mendesak Liga Arab sehingga Liga Arab mengeluarkan sebuah ‘surat keputusan’ yang aneh. Namun Liga Arab sama sekali tidak mengeluarkan ‘surat keputusan’ aneh seperti itu terhadap penguasa Yaman atau penguasa Suriah. Bahkan sebelumnya Liga Arab juga tidak mengeluarkan ‘surat keputusan’ seperti itu terhadap pemerintahan Shadam Husain!
Apa tujuan semua itu? Sesungguhnya langkah baru dan pengkhianatan baru yang saat ini dilakukan oleh Liga Arab adalah memberi legitimasi kepada NATO untuk berbuat sekehendak hatinya di Libya tanpa ada intervensi siapa pun.
Aliansi setan NATO memerlukan persetujuan Rusia dan China untuk menelurkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengizinkan intervensi militer di Libya. Rusia dan China tentu akan menolak penanda tanganan resolusi tersebut, karena khawatir kelak akan diperlakukan sama dengan Libya. Rusia melakukan pembantaian massal di kawasan Kaukasus (Chechnya, Dagestan, Ingusethia, edt). China melakukan kebiadaban yang sama di Turkistan Timur (propinsi muslim Sinxiang, edt). Rusia dan China menolak penanda tanganan resolusi karena khawatir pemerintahannya akan diperlakukan sama dengan perlakuan terhadap pemerintahan Libya (yang membantai dan menindas rakyatnya sendiri, edt).
Di sinilah Liga Arab melakukan pengkhianatan. Dengan cara yang tersembunyi (tersamar), Liga Arab meyakinkan bahwa ada perbedaan antara Rusia dan China di satu sisi dengan Libya di sisi lain. Libya telah kehilangan legitimasinya dengan adanya penegasan Liga Arab, padahal pernyataan sikap Liga Arab tersebut tidak selaras dengan hukum internasional sekalipun (hukum kafir yang juga ditaati oleh Liga Arab, edt). Adapun kondisi Rusia dan China berbeda (tidak kehilangan legitimasi, edt), sehingga tidak akan terkena resolusi DK PBB seperti yang dialami oleh Libya. Diplomasi (baca: penipuan dan pengkhianatan, edt) Liga Arab inilah yang menyebabkan Rusia dan China menyetujui intervensi militer di Libya.
Selain itu, Liga Arab juga mengeluarkan surat keputusan yang melarang stasiun TV resmi Libya mempergunakan satelit-satelit Arab. Namun Liga Arab memperkenankan pengunaan satelit-satelit Arab oleh stasiun-stasiun TV Yaman dan Suriah! Ini sungguh sebuah keputusan aneh yang keluar dari peraturan usang Liga Arab sendiri.
Setelah memberikan justifikasi kepada NATO, kita tidak mendengar apapun dari Liga Arab terkait permasalahan Libya!
Kesimpulan ringkas masalah ini, tanpa uraian yang terperinci, sesungguhnya negara-negara Arab yang diwakili oleh Liga Arab akan melaksanakan apapun yang diinginkan oleh para taghut Barat. Pernyataan raja Arab Saudi yang diikuti ‘ekor-ekor’nya pemerintahan Kuwait dan Bahrain beberapa hari yang lalu tentang permasalahan Suriah hanyalah pelaksanaan dari keinginan-keinginan dan arahan-arahan negara-negara Barat yang hendak membunuh revolusi Suriah, minimal memperkecil skalanya, menumbuhkan keputus asaan dalam hati para pelaku revolusi Suriah, dan mengulur-ulur pemerintah Suriah agar melemah, lalu melakukan intervensi langsung.
Jadi seluruh negara Arab tidak menginginkan jatuhnya pemerintahan-pemerintahan yang ada dan tegak pemerintahan-pemerintahan baru yang boleh jadi memiliki kebijakan-kebijakan yang ‘panas’ dan tidak mengkhianati rakyatnya sendiri. Akibatnya wabah itu melanda negara-negera Arab lainnya dan membuat marah tuan-tuan Barat.
2. NATO.
Aliansi setan ini tidak sebodoh penampilan luarnya yang melakukan intervensi di Libya kemudian hendak mundur dari permasalahan Libya. Jika NATO ingin menyelesaikan masalah, ia dengan mudah bisa melenyapkan Qaddafi dan keluarganya dengan satu atau dua rudal. Melakukan itu bukanlah hal yang sulit, mengingat banyak utusan selalu menemui Qaddafi dan mereka bukanlah para pemain catur. Pemerintahan Qaddafi juga tidak seperti organisasi-organisasi jihad yang kematian pemimpinnya tidak berpengaruh terhadap jihad organisasi. Pemerintahan Qaddafi hanyalah pemerintahan duniawi yang celaka. Namun dengan mengulur-ulur, NATO hendak melemehkan semua pihak (yang bertikai di Libya) sehingga NATO leluasa memaksakan tentara, syarat-syarat, dan aturan-aturannya pada waktu yang dikehendakinya dan dengan pihak-pihak yang dikehendakinya.

Pelajaran dari dua contoh tersebut
Liga Arab yang merepresentasikan pemerintahan negara-negara Arab tidak menginginkan kebaikan bagi Suriah. Liga Arab bukanlah pemegang keputusan. Liga Arab hanyalah pemerintahan-pemerintahan boneka dan pengkhianat. Seandainya Liga Arab mampu menyelamatkan sebuah bangsa, niscaya ia akan mampu menyelamatkan penduduk muslim Gaza saat menghadapi agresi militer zionis Israil yang terakhir (Desember 2009, edt). Pertemuan Liga Arab belumlah berakhir dengan sempurna karena adanya intervensi-intervensi dari luar terhadap keputusan-keputusan negara-negara Arab.
Ketika pertemuan Liga Arab berakhir, tujuannya adalah ‘mendinginkan’ kemarahan bangsa Arab. Adapun penduduk muslim Gaza sampai hari ini tidak mendapat bantuan apapun yang diumumkan (dijanjikan) dalam pertemuan Liga Arab! Ini adalah permasalahan Gaza yang seluruh manusia di muka bumi mengetahui kejahatan zionis Israel kepada penduduk muslim Gaza. Maka bagaimana lagi dengan pemerintahan Bashar Asad, si pelanduk yang licik, yang kejatuhannya akan menyebabkan ‘neraka’ bagi pemerintahan-pemerintahan Arar yang menindas rakyatnya sendiri?

Kesimpulannya
1. Penduduk Suriah janganlah menunggu-nunggu kebaikan apapun para ‘mayat-mayat’ pemerintahan Arab yang hendak menggagalkan revolusinya. Kalian sekali-kali tidak akan bisa membuat para mayat dalam kuburan itu mendengar.
2. Penduduk Suriah janganlah bergantung kepada pemerintahan-pemerintahan Barat yang tidak menginginkan kebaikan bagi mereka. Sebab munculnya bencana-bencana yang melanda umat ini adalah para pemerintahan (pribumi) yang berkuasa dengan dukungan pemerintahan-pemerintahan Barat dengan tujuan memerangi umat Islam. Allah SWT menerangkan sifat mereka dengan firman-Nya:
مَا يَوَدُّ الذّينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الكِتابِ وَلا المُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِنْ خَيْرٍ مِنْ رّبِّكُم
Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan pun kepada kalian dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah (2): 105)
3. Catatan penting: Ketika kita membicarakan bahwa pemerintahan negara-negara Arab adalah pemerintahan boneka antek Barat, tidak berarti kita menyatakan pemerintah Turki bukan pemerintahan boneka antek Barat. Pemerintahan Turki tidak berbeda sedikit pun dengan pemerintahan negara-negara Arab. Perbedaannya hanyalah keinginan Turki untuk menjadi penguasa atas pemerintahan negara-negara Arab, yaitu pembesar yang mengajarkan kepada pemerintahan negara-negara Arab prinsip-prinsip ajaran sihir (menipu rakyat, edt).

Sarana-sarana pemerintahan negara-negara Arab
1. Media massa.
Sekiranya kita mengambil media massa Arab yang paling bagus sebagai sebuah contoh, maka tanpa diragukan lagi kita akan berbicara tentang stasiun TV Al-Jazeera. Pembicaraan tentang stasiun TV Al-Jazeera dan caranya dalam meliput revolusi sangatlah panjang dan memerlukan sebuah kajian yang lengkap. Stasiun TV Al-Jazeera sebelum terjadinya revolusi Tunisia dan Mesir bukanlah stasiun TV Al-Jazeera setelah terjadinya revolusi Tunisia dan Mesir. Antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat mencolok, yang akan diketahui oleh setiap orang yang cermat mengikuti liputannya.
Dalam artikel ini perlu saya ingatkan bahwa ‘teror media massa’ yang dilakukan oleh pemerintahan Suriah terhadap stasiun TV Al-Jazeera telah memberikan dampak negatif sejak awal dimulainya revolusi Suriah! Bahkan dampaknya merambah ke revolusi-revolusi yang lain seperti revolusi Libya dan Yaman, sehingga cara reportase terhadapnya juga ikut berubah.
Adapun seluruh media massa Arab lainnya, pengaruhnya lebih kecil dari pengaruh stasiun TV Al-Jazeera. Seluruh media massa tersebut memerankan pengkhianatan seperti yang dilakukan oleh pemerintahan-pemerintahan Arab, dengan tujuan mengubur hidup-hidup revolusi. Sikap dan kebijakan seluruh media massa tersebut sama persis dengan sikap dan kebijakan pemerintahan mereka. Media massa tersebut bekerja dengan cara yang samar, keji, dan sama sekali tidak menginginkan kebaikan bagi revolusi-revolusi tersebut.
2. Para ulama dan da’i.
Pemerintahan Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar telah memperalat sebagian ulama dan da’i untuk merealisasikan kepentingan mereka dan kepentingan negara-negara Barat demi membunuh jihad Islam di Irak. Kejadian serupa juga berlaku di Suriah dan negara-negara lain. Beberapa negara lain ikut mengambil peran tersebut, seperti pemerintahan Uni Emirat Arab dan Aljazair. Perlu saya ingatkan bahwa sebagian ulama dan da’i tersebut sampai saat ini memang belum begitu nampak bahayanya (terhadap revolusi, edt). Apa yang kami perkirakan tentang Suriah adalah permasalahan yang lain. Jadi, sebagian ulama dan da’i tersebut belum waktunya diperalat (oleh pemerintahan-pemerintahan boneka Arab antek Barat, edt) untuk memusuhi revolusi Suriah.
Secara umum, setiap kali seorang ulama atau da’i semakin dekat dengan penguasa dan pemerintahan Arab dan interaksi mereka dengan para penguasa tersebut baik, maka ulama atau da’i tersebut akan semakin merealisasikan keinginan-keinginan para penguasa boneka lagi pengkhianat tersebut yang bekerja untuk merealisasikan kepentingan-kepentingan negara Barat. Negara-negara Barat jelas tidak menginginkan jatuhnya pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut. Negara-negara Barat menginginkan pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut tetap eksis dan rakyatnya tidak meraih ‘kemerdekaan’.
Adapun setiap kali seorang ulama atau da’i semakin jauh dengan para penguasa boneka tersebut, maka ia akan semakin ikhlash dalam mengarahkan dan membela revolusi. Ulama dan da’i yang paling jauh dari (interaksi dan persekongkolan dengan) para penguasa tersebut adalah para ulama dan da’i dari kalangan mujahidin dan oraang-orang yang diburu oleh pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut. Mereka itulah orang yang lebih tulus dan lebih bertakwa dalam mendukung para revolusioner rakyat.
3. Harta
Ketahuilah, sesungguhnya setiap orang yang memberikan syarat sewaktu menunaikan sedekah dan bantuan, sejatinya ia ingin meraih tujuan pribadi atau tujuan pihak yang mengarahkannya. Berbagai jama’ah Jihad di manapun janganlah menerima sedekah atau bantuan apapun jika disertai syarat melakukan ini dan itu. Masalah ini telah mendatangkan banyak musibah bagi jihad pada masa-masa yang telah lalu. Momen artikel ini bukanlah membicarakan masalah ini secara panjang lebar. Barangkali sampai saat ini permasalahan ini juga belum terjadi di Suriah.

Israel
Ketika kita tidak membicarakan Israel dan pengaruhnya terhadap revolusi-revolusi ini, bukan berarti kita melalaikannya. Kami telah membicarakannya saat membahas planning-planing pemerintahan negara-negara Arab dan Barat, semuanya bersekongkol atas perintah zionis internasional.

Wahai penduduk Suriah…
Ketahuilah bahwa musuh sejati kalian bukan saja taghut Nushairiyah si Bashar Asad saja. Namun juga pemerintahan negara-negara Arab dan Barat, dengan pasukan infantri dan kavalerinya. Sampai saat ini, kalian mengungguli mereka semua, dengan karunia Allah SWT semata. Neraca kekuatan condong memihak kepada kalian. Dan cukuplah bahwa Allah SWT bersama kalian. Allah-lah Sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.
Dalam artikel selanjutnya, insya Allah, saya akan menuliskan jalan yang paling baik dan tepat untuk menyukseskan revolusi Syam yang penuh berkah ini, yang seluruh bangsa dan umat Muslim melihat kepadanya dan mendoakannya secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan agar Allah SWT memenangkannya, menerima pengorbanan pelaku-pelakunya, dan membalas mereka dengan balasan yang paling baik dan sempurna. Insya Allah, saya akan menulis bagaimana berinteraksi dengan musuh-musuh intern, baik yang berada di dalam negeri Suriah maupun di luar negeri; di antaranya adalah Iran yang terlibat secara langsung di Suriah.
اللهم منزل الكتاب ،ومُجري السّحاب ، هازم الأحزاب ، اهزم بشّار وزمرته وانصرنا عليهم ..
Ya Allah Yang menurunkan kitab suci, menjalankan awan, dan mengalahkan pasukan koalisi…
Kalahkanlah Bashar Asad dan golongannya…menangkanlah kami atas mereka!”

Asadul Jihad ats-Tsani
14 Ramadhan 1432 H / 14 Agustus 2011 M
Bersambung insya Allah….

(muhib al-majdi/arrahmah.com)

Peta kekuatan revolusi Islam dan mujahidin Suriah

Muhib Al-Majdi

DAMASKUS (Arrahmah.com) – Lebih dari 4000 warga muslim sunni telah tewas oleh kebiadaban tentara dan kepolisian rezim Nushairiyah Suriah. Puluhan ribu lainnya terluka parah. Korban tewas dan luka berat terus bertambah setiap hari. Selain itu, rumah, sekolah, masjid, pasar, ladang, dan bangunan sipil lainnya juga mengalami kerusakan parah oleh serbuan aparat keamanan dan militer rezim Bashar Asad dengan persenjataan berat.
Meski korban sudah demikian besar dan kebiadaban rezim Nushairiyah Suriah sudah terpampang di depan mata setiap hari, reaksi internasional sangatlah minim. Liga Arab memilih diam dengan kamuflase pengajuan peta perdamaian yang mandul di lapangan. Kekuatan Syiah Imamiyah Republik Iran dan Lebanon yang memendam kebencian berabad-abad kepada umat Islam ahlus sunnah wal jama’ah secara jelas memberikan dukungan politik, ekonomi, militer, dan intelijen kepada rezim Nushairiyah Suriah, karena faktor kesamaan ideologi Syi’ah ekstrim.
Tak diragukan lagi, kokohnya rezim Suriah amat penting bagi Israel dan Barat. Rezim Nushairiyah Suriah adalah pagar betis dan ‘anjing penjaga’ terdepan yang akan menghadang setiap upaya umat Islam ahlus sunnah di Suriah untuk mendukung jihad rakyat Palestina. Dengan tetap bercokolnya rezim Suriah, kekuatan zionis Yahudi akan leluasa menghantam perlawanan jihad muslim Palestina. Keruntuhan rezim Nushairiyah Suriah berarti terbuka lebarnya bantuan personil, makanan, obat-obatan, dan persenjataan bagi umat Islam Palestina. Hal itu jelas alarm bagi keruntuhan negara zionis Yahudi, suatu tragedi yang jelas akan dihalang-halangi oleh Amerika, Barat, Rusia, dan negara-negara kafir lainnya.
Jelaslah bahwa pembebasan bumi Islam Palestina dari cengkeraman zionis Yahudi era kaitannya dengan pembebasan bumi Suriah dari rezim Nushairiyah Suriah. Dari sini, revolusi umat Islam ahlus sunnah Suriah memiliki urgensi yang sangat luas dan jangka panjang bagi kemerdekaan kaum muslimin dari belenggu imperialisme zionis dan salibis internasional yang dikomandoi oleh Amerika Serikat dan NATO. Revolusi umat Islam ahlus sunnah Suriah juga menjadi benteng penting bagi membendung invasi ideologi, politik, ekonomi, dan militer agama Majusi-Syi’ah ekstrim (Syiah Imamiyah), yang dikomandoi oleh Republik Syiah Imamiyah Iran dan kini telah mendominasi Irak (pemerintahan boneka Irak pro-Barat), Lebanon (Syiah Imamiyah gerakan Hizbullah dan Droz), Suriah (rezim Nushairiyah), serta mulai menancapkan dominasinya di Arab Saudi, Yaman, dan Bahrain.
Begitu urgennya posisi revolusi Islam Suriah saat ini, sehingga dunia internasional berkonspirasi untuk menghancurkannya. Amerika, NATO, dan Barat mendiamkannya, dengn kamuflase sesekali meneriakkan kecaman di media massa sekedar ‘hiburan’ untuk konsumsi public. Negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab tunduk kepada rencana tuan besar Amerika dan Barat, bersikap ‘agak’ peduli dengan sesekali mengecam dan mengeluarkan proposal jalan damai. Hanya itu, tidak lebih. Lebanon, Iran, dan Rusia secara berkelanjutan mengirimkan dukungannya kepada rezim Nushairiyah dalam wujud bantuan ekonomi, personil dan peralatan militer, dan dukungan politik.
Tidak ada harapan bagi umat Islam ahlus sunnah di Suriah, selain kepada Allah SWt, kemudian mengandalkan persatuan dan kesetia kawanan mereka sendiri, dalam menghadapi konspirasi internasional ini. Seberapa besar kekuatan demostran rakyat sipil dan mujahidin Suriah? Tentu bukan hal yang mudah menjawab pertanyaan ini. Seorang koresponden dari pihak revolusioner Suriah menuliskan sebuah artikel singkat di forum Anshar al-Mujahidin, untuk memberi gambaran singkat peta kekuatan revolusi rakyat dan mujahidin di Suriah. Berikut ini terjemahan artikel tersebut.
***
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saudara-saudaraku yang tercinta dan mahkota kepalaku, para mutiara ketegaran yang bercahaya dan lilin yang menerangi…
Saya persembahkan kepada kalian sebuah bahasan yang sangat urgen bagi siapa saja yang ingi mengetahui hakekat konflik yang tengah berlangsung di Suriah.
Saya membagi bahasan ini sesuai urgensinya dan saya akan menjelaskannya secara singkat, karena bahasan yang panjang seringkali membosankan dan pembacanya tidak mampu mengambil manfaat yang berarti darinya.
Saya mulai dengan menyebut nama Allah.
Perang yang sedang berlangsung di Suriah saat ini terdiri dari dua pihak utama, yaitu:
Pertama, ahlsu sunnah wal jama’ah
Kedua, Nushairiyah dan orang-orang yang memberikan loyalitas kepadanya
Sekalipun sebagian pihak berusaha untuk mengingkari faktor golongan ini, namun realita menunjukkan ini adalah perang antara kedua golongan, sejak dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Untuk mengetahui kelompok selain ahlus sunnah, saya akan menyebutkannya dengan sangat singkat.
Pertama, Nushairiyah
Inilah kelompok yang paling berbahaya, karena memegang tampuk kekuasaan dan mengendalikan seluruh potensi negara. Nushairiyah dinisbahkan kepada pendirinya, Muhammad bin Nushair an-Numairi (catatan: Arrahmah.com telah mempublikasikan empat artikel bersambung tentang kelompok Nushairiyah, edt).
Jumlah mereka di Suriah sekitar 12 % dari keseluruhan penduduk Suriah, sedangkan ahlus sunnah mencapai 74 % dari keseluruhan penduduk Suriah.
Mereka berada di pegunungan Alawiyyin di pesisir Suriah, juga di propinsi Ladzikia, Thartus, dan dataran tinggi Golan. Mereka juga memiliki anggota yang cukup besar di Turki, dan pengikut yang sedikit di Lebanon, Irak, dan Palestina.
Kelompok najis ini adalah kelompok yang memegang kekuasaan di Suriah, berkat bantuan penjajah Perancis, setelah kekalahan yang dialami oleh orang-orang Turki Utsmani (dalam Perang Dunia I, edt). Turki Utsmani-lah yang pernah menimpakan kekalahan besar atas kelompok Nushairiyah. Penjajah salibis Perancis membagi-bagikan kekuasaan negara Suriah kepada kelompok Nushairiyah sehingga mereka bisa merampas kekayaan negara.
Hal yang sangat berbahaya, negara memberikan kepada kelompok Nushairiyah tanah-tanah di sekeliling kota Himsha (Homsh), sehingga sekitar satu juta orang Alawiyyin (Nushairiyah) menempati wilayah tersebu, lalu pada waktu belakangan berhasil membangun sejumlah proyek militer dan ekonomi. Mereka menjadikan wilayah tersebut sebagai calon ibukota negara mereka jika mereka telah berhasil merebut kekuasaan negara.
Program mereka ini membuat keadaan di Himsha menjadi sangat sulit. Kaum muslimin Himsha kemudian menyadari konspirasi jahat kelompok Nushairiyah ini, namun waktunya sudah sangat terlambat. Mereka mulai membeli tanah-tanah di belakang rumah orang-orang Nushairiyah. Sayangnya, mereka tinggal di daerah lain dan tidak menempati tanah-tanah tersebut.
Dari sini lahirlah pemikiran Salafi di propinsi Himsha, terkusus lagi di wilayah Bab Siba’ yang berada di tengah-tengah kota. Hal yang sama terjadi di wilayah Khalidiyah, Bab Amru, Talbisah, dan Ristan. Propinsi Himsha merupakan pusat kekuatan kelompok najis Nuhsairiyah. Oleh karenanya, rezim Nushairiyah Suriah dengan dukungan langsung penduduk Nushairiyah di propinsi ini melakukan serangan berat terhadap penduduk ahlus sunnah. Penduduk Nushairiyah yang menetap di propinsi Himsha sejak lama telah dipersenjatai oleh rezim Asad, dan kini mereka dipergunakan untuk memerangi para demonstan ahlus sunnah.

Kedua, kelompok Nashrani
Mereka berjumlah sekitar 10 % dari keseluruhan penduduk Suriah. Mereka terdiri dari kelompok Kristen Ortodoks, Katholik Roma, Kristen Maronit, dan Kristen Protestan. Mereka tidak memiliki kekuatan politik dan organisasi yang berarti di Suriah. Jumlah mereka sekitar satu setengah juta orang, dan mereka selalu loyal kepada rezim Asad baik secara lahir maupun batin. Sekitar satu juta di antara mereka adalah penganut Kristen Ortodoks, dan sisanya menganut aliran Kristen lainnya. Mereka berada di propinsi Damaskus, Halb (Alepo), Haskah, Sahl Ghab, dan sebagian wilayah aliran sungai Eufrat. Mereka adalah orang-orang yang mengejar keuntungan belaka, dan sejak beberapa waktu yang lalu sebagian mereka mulai meninggalkan Suriah karena khawatir atas kepentingan mereka.
Ketiga, Syiah Ismailiyah
Pusat kekuatan mereka berada di kota Sulamiyah dan sebagian pedesaan Thartus. Mereka loyal kepada rezim Nushairiyah karena faktor kedekataan akidah antara sekte Syiah Ismailiyah dan Nushairiyah.
Keempat, Droz
Mereka menempati kota-kota dan pedesaan di propinsi Suwaida’. Jumlah mereka sekitar 300.000 orang. Mereka loyal kepada rezim Nushairiyah dan memegang jabatan sebagai para komandan pada beberapa battalion militer Suriah.
Kelima, Syiah
Mereka adalah para infiltran dalam masyarakat Suriah. Pemerintahan penjahat Iran dan Lebanon telah membackingi penyebar luasan ajaran Syi’ah. Mereka tidak mendapatkan tanah yang subur bagi agama mereka di Suriah, selain di beberapa pedesaan dan pada diri orang-orang bodoh.
Jumlah mereka tidak lebih dari 80.000 orang. Mereka mengeluarkan banyak uang untuk merekrut pengikut. Mereka bahkan berani membayar 10.000 dolar kepada setiap orang yang mau memeluk agama rusak mereka tersebut. Mereka tidak memiliki kekuatan yang berarti, selain kaitan erat dengan rezim Nushairiyah Suriah, Hizbul Laata (plesetan dari Hizbullah Lebanon, edt), dan Iran.
***
Kesimpulannya
Saudara-saudara kalian di Suriah saat ini berada dalam kondisi jihad dan ribath fi sabilillah
Mereka melawan rezim jagal yang biadab yang didukung oleh bala tentaranya dan antek-antek kejinya
Mereka juga menahan laju perluasan imperium Shafawi Alawi (Syi’ah Imamiyah) Majusi (Iran, edt)
***
Peta kekuatan mujahidin di Suriah
Propinsi Himsha
Saudara-saudara kalian di propinsi Himsha, terkhusus orang-orang yang bertempur, mencapai 7000 orang, mereka tergabung dalam brigade Khalid bin Walid yang membawahi beberapa regu jihad. Mayoritas mereka berakidah salaf. Sebagian kecil di antara mereka adalah orang-orang Sufi yang membantu mujahidin, demi membalas kebiadaban rezim Nushairiyah, dan sebagian mereka memeliki keberanian bertempur. Sisanya adalah masyarakat awam.
Propinsi Idlib, Jisr Syughur, kota-kota dan pedesaannya
Saya tidak memiliki info tentang mujahidin di kedua propinsi tersebut. Namun sebagian kawan memberitahukan kepada saya bahwa ikhwah yang berakidah salaf-lah yang mengendalikan pertempuran melawan rezim Nushairiyah di kedua propinsi tersebut.
Propinsi Damaskus dan daerah pinggirannya
Di sana terdapat beberapa brigade dan regu jihad. Di antaranya regu Mu’awiyah bin Abi Sufyan, regu Abu Ubaidah bin Jarah, dan lain-lain.
Di wilayah Dauma, pemikiran salafi berkembang pesat sebelum revolusi terjadi. Para wanita muslimah memakai baju kurung yang lebar dan memakai cadar. Terdapat para mujahid yang mengangkat kepala melawan rezim Nushairiyah.
Hal yang sama terjadi di wilayah Harasta, Kiswah, dan Qadam.
Adapun wilayah Maidan merupakan jantung kota Damaskus yang terus berdenyut, dan merupakan wilayah penduduk asli Suriah.
Demonstrasi-demonstrasi di wiayah Damaskus diikuti oleh para penduduk asli Damaskus. Adapun sisa penduduk lainnya adalah para pendatang yang meninggalkan kota-kota mereka dan mengejar keuntungan belaka.
Wilayah Dier Zur, Qauriyah, Mayadin, dan Bukmal
Mereka adalah penduduk yang paling dekat dengan kelompok Salafi Jihadi, karena faktor perang Irak.
Di wilayah Dier Zur terdapat brigade Umar bin Khathab yang terdiri dari beberapa regu tempur.
Di wilayah Bukmal terdapat brigade Allahu Akbar yang terdiri dari beberapa regu tempur.
Wilayah-wilayah ini menerima kehadiran ribuan mujahid dan pelaku bom syahid (dari berbagai negara), dan penduduknya membantu para mujahid tersebut memasuki wilayah jihad di Irak.
Selama masa persinggahan ribuan mujahid tersebut di wilayah-wilayah ini, mereka mengajarkan pemahaman salafi jihadi kepada penduduk setempat.Wilayah ini melahirkan banyak mujahidin yang bergabung dengan operasi mujahidin di propinsi Anbar, Irak.
Jumlah tenaga petempur di wilayah-wilayah ini sekitar 5000 orang, dan lebih dari 95 % mereka adalah pengikut aliran salafi jihadi. Sisanya masih bertempur karena faktor keberanian dan keksatriaan. Para ikhwah salafi jihadi di sana terus-menerus mengarahkan dan membimbing mereka.
Propinsi Dir’a
Para revolusioner di propinsi ini masih beragam dan bercampur aduk. Sebagian mereka salafi, sebagian lainnya nasionalis, dan sisanya karena faktor kesukuan. Namun yang adil adalah menyatakan bahwa mereka adalah para ksatria, dengan makna yang sebenarnya.
Propinsi Himah
Di sana terdapat brigade Abu al-Fida’. Mayoritas para petempur di propinsi ini mengikuti pemikiran lama kelompok Ikhwanul Muslimin.
Tentara pembelot
Bagi yang bertanya tentang tentara merdeka (al-jaisy al-hurr, tentara yang membelot dan memihak kepada revolusi rakyat, edt), saya katakan ia adalah tentara yang menganut nasionalisme. Jumlah mereka terbatas di beberapa wilayah saja, dan inti perlawanan adalah brigade-brigade mujahidin yang telah saya sebutkan posisi-posisinya.
Saudara-saudara kita di Suriah saat ini tidak memiliki pilihan selain bekerjasama dengan setiap pihak (rakyat sipil, mujahidin, dan tentara pembelot, edt) yang berusaha untuk menjatuhkan rezim Nushairiyah Suriah, dengan syarat tidak membahayakan mereka, pemimpin-pemimpin mereka, dan kelurusan akidah mereka.
(muhib al-majdi/arrahmah.com)

Sistem Demokrasi, Sudah Final?



312485_10150267512870658_175817530657_8217478_157652_n.jpg (610×405)Oleh: Aang Kunaifi, 
Pengusaha Toko Buku dan Pengurus Komunitas Pengusaha Rindu Syari'ah (PRS) Pamekasan


Perbincangan tentang sistem pemerintahan selalu menjadi tema yang sangat menarik, bahkan menjadi krusial atau tabu (jika tidak mau dikatakan menakutkan) karena menyangkut stabilitas politik atau stabilitas para penguasa. Namun jika tidak boleh dibahas, lantas solusi apa yang bisa mereka (para politisi, anggota dewan, wakil rakyat, penguasa, tokoh masyarakat) tawarkan untuk menyelesaikan persoalan bangsa?

Bahkan, teori-teori dan analisa umum yang acap kali dipakai untuk mengurai kebuntuan sebuah persoalan yaitu 'think out of the box' tidak mampu keluar dari bingkainya, yaitu bingkai demokrasi. Bukankah hal tersebut sangat kontraproduktif bagi kreatifitas dan hak setiap orang untuk memperbaiki keadaan? Padahal kita juga mengetahui bahwa 'demokrasi' itu hanya sebuah produk manusia, hasil kejeniusan manusia yang sangat rentan salah dan menimbulkan masalah. Sejenius apapun hasil pemikiran manusia akan menimbulkan perbedaan persepsi alias tidak akan mampu menyelesaikan persoalan umat manusia.

Boleh jadi demokrasi akan dipandang baik oleh manusia karena dibandingkan dengan sistem otoriter atau kerajaan (yang juga ciptaan manusia). Lantas mengapa kita terlihat takut atau bersikap pengecut untuk berpikir dan bersikap 'out of the box'? Semisal dengan tegas mengatakan bahwa yang paling pantas dan paling tepat mengatur manusia adalah Yang Menciptakan Manusia, yaitu aturan Al-Khaliq. Dan bisa kita dapati statemen final Al-Khaliq dalam Alquran tentang sistem pengaturan manusia adalah sistem Islam. Sebagaimana sudah disebutkan dalam kitab Taurat (Nabi Musa) kepada bangsa Yahudi dan dalam kitab Injil (Nabi Isa) kepada kaum Nasrani, bahwa Nabi penghujung zaman dan terakhir adalah Muhammad SAW, dengan membawa ajaran Islam. Islam adalah agama yang kamil dan syamil, memiliki aturan yang lengkap dan sempurna untuk semua umat manusia; baik muslim maupun non muslim, sebagaimana firmannya: "Dan tidak Aku utus engkau (Muhammad) mela¬inkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam".

Kesempurnaan Islam adalah untuk seluruh umat manusia, karena Allah SWT. Mahatahu dan Dia-lah yang menciptakan manusia yang beragam. Bahkan Allah SWT, tegaskan dalam Alquran "Tidak ada paksaan dalam beragama'. Sehingga tidak perlu diragukan lagi, jika sistem Islam dipakai dalam pengaturan urusan masyarakat, negara dan pemerintahan pasti itulah yang terbaik; baik bagi Muslim ataupun non Muslim.

Persoalan pluralitas bukan uzur dan hambatan yang membuat kita takut mene¬rapkan Islam dalam sistem pemerintahan, karena Rasulullah SAW sudah memberikan contoh dengan berdirinya Negara Madinah (tahu 622 M) kemudian dilanjutkan para Sahabat dan Khalifah selama 1300 tahun sampai runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 1924H.

Runtuhnya sistem pemerintahan Islam Turki Utsmani bukan berarti karena Islam tidak lagi relevan, melainkan SDM yang pada saat itu mengalami kemerosotan (jumud) serta konspirasi Barat melalui siasat licik Musthafa Kemal. Jadi sungguh aneh, jika seorang muslim meyakini Islam sebagai akidahnya, melaksanakan ibadah dengan cara Islam, kemudian berpolitik dengan azas Islam tetapi tidak berani menjadikan sistem pemerintahan Islam sebagai tujuan dan solusi keterpurukan bangsa Indonesia.

Pancasila adalah falsafah bangsa Indonesia yang memiliki nilai luhur, namun cukupkah falsafah Pancasila mengatur kehidupan? Tentu tidak! Atau UUD 1945 yang saat ini sudah mengalami lima kali amandemen. Sebenarnya para politikus dan penguasa kita hanya berlindung di balik Pancasila dan UUD 1945 untuk mempertahankan sistem sekuler-kapitalisme yang mereka terapkan atas intimidasi penjajah Barat. Fakta menunjukkan tidak satupun kebijakan pemerintah yang pro rakyat, artinya mereka tidak Pancasilais dan banyak melanggar pasal-pasal dalam UUD 1945.

Sesungguhnya para pemimpin dan penguasa kita telah menerapkan kapitalisme dalam sistem ekonomi, liberalisme dalam sistem sosialnya dan sekulerisme dalam politiknya. Kasus kriminalitas, beban ekonomi yang berat, korupsi, pergaulan bebas, narkoba dan kemaksiatan yang lain semakin menjamur adalah bukti pelanggaran tersebut. Stigma negatif tentang sistem pemerintahan Islam terus dihembuskan supaya para aktivis yang ikhlas hendak memperbaiki kondisi umat menjadi gerakan yang membahayakan, teroris atau radikal.

Demokrasi dengan unsur parlemennya merupakan hal yang bathil karena telah mengambil hak Allah SWT, sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum. Allah SWT berfirman: "Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah" (TQS At Taubah: 31). Terkait dengan ayat ini Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Jarir meriwayatkan dari berbagai jalur yang berpusat kepada Adi bin Hatim ra, bahwa ketika Adi bin Hatim ra. hendak menjumpai Rasulullah SAW, beliau SAW sedang membacakan ayat tersebut, "Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah" Adi berkata: "Sesungguhnya kaum Nasrani dan Yahudi itu tidak menyembah ulama dan rahibnya" Nabi bersabda: "Memang mereka tidak demikian, tetapi para rahib dan ulama itu telah menghalalkan yang haram untuk umatnya dan mengharamkan perkara yang halal untuk umatnya, lalu umat itu mengikutinya. Itulah penyembahan umat kepada mereka” (lihat Tafsir Ibn Katsir).

Jadi sudah nyata-nyata sistem demokrasi menyuburkan kemaksiatan dan meratakan kesengsaraan umat. Politik dalam demokrasi, bukan untuk melayani dan memikirkan kepentingan rakyat, melainkan hanya usaha untuk melanggengkan kekuasaan dan meraih kepuasan materi yang sebanyak-banyaknya bagi individu dan kelompok tertentu.

Sudah banyak fakta, dengan sering bergantinya pemimpin kita sejak Orde Baru tetapi justru keterpurukan terus berlanjut, bayangkan utang Indonesia sudah mencapai 1.900 trilyun sampai dengan kwartal I 2011 (republika.co.id). Artinya, jika kita kembali berpikir “out of the box” bahwa tidak perlu dipertahankan lagi sistem demokrasi yang di negara asalnya (Amerika) sudah terbukti tidak mampu menyejahterakan. Saatnya kita bertaubat, dengan mengembalikan Hak Allah SWT (Al-Khalik) melalui diterapkannya syariat Allah SWT dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan sistem pemerintahan dalam bingkai Khilafah Islamiyah bukan sistem Otoriter, Teokrasi atau Kerajaan.



Related Posts by Categories

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar